51

51 Official Website

PENELITI INDONESIA KEMBANGKAN ALAT UKUR STIGMA BERAT BADAN: SUARA ANAK MUDA KINI LEBIH TERWAKILI

Tinjauan Sistematis Dan Meta-Analisis Efek Indeks Massa Tubuh
Sumber: telisik.id

Tim Dosen FKM UNAIR (Ira Nurmala, Muthmainnah, Lutfi Agus Salim dan Yuli Puspita Devi) mengembangkan instrument tentang Wight Stigma. Fenomena komentar mengenai bentuk tubuh di media sosial, meme yang meremehkan orang bertubuh besar, hingga candaan soal berat badan yang dianggap biasa saja, semua ini ternyata berdampak lebih besar dari yang terlihat. Selama ini stigma atau penilaian negatif terkait berat badan sering dianggap wajar, padahal efeknya dapat memengaruhi kesehatan mental, harga diri, bahkan kebiasaan makan seseorang. Sayangnya, Indonesia belum memiliki alat ukur khusus yang mampu memetakan dari mana saja stigma itu muncul dan seberapa sering dialami. Kekosongan itu kini mulai terjawab setelah sekelompok peneliti dari 51 bersama kolaborator internasional berhasil menyelesaikan proses penerjemahan dan validasi Weight Stigma Exposure Inventory (WeSEI) versi Bahasa Indonesia.

WeSEI adalah instrumen yang dikembangkan untuk mengukur pengalaman melihat stigma berat badan dari tujuh sumber, mulai dari orang tua, teman, pasangan, hingga televisi, media tradisional, sosial media, dan orang asing. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anak muda kerap menemukan komentar yang merendahkan terkait berat badan bukan hanya dari interaksi langsung, tetapi juga dari tayangan, konten media sosial, sampai komentar warganet. Alat ukur ini membantu memetakan pola tersebut secara objektif. Dalam versi internasionalnya, WeSEI telah digunakan di beberapa negara, namun belum pernah tersedia dalam Bahasa Indonesia.

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan sepanjang Februari hingga Oktober 2024, sebanyak 1.303 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia berpartisipasi dalam survei daring. Para peserta diminta mengisi data demografis, kemudian menjawab sejumlah pernyataan dalam WeSEI dan kuesioner lain yang berkaitan dengan pengalaman stigma diri terkait berat badan. Dari proses ini, tim peneliti menilai apakah versi Indonesia dari WeSEI memiliki kualitas ilmiah yang baik, mudah dipahami, serta dapat digunakan untuk penelitian maupun pemetaan risiko kesehatan psikologis.

Hasilnya cukup menggembirakan. WeSEI versi Indonesia dinyatakan valid dan reliabel, artinya alat ini dapat dipercaya untuk mengukur paparan stigma berat badan pada kelompok muda. Struktur tujuh faktor yang menjadi ciri khas WeSEI, yang membedakan sumber stigma, terbukti konsisten dan stabil. Selain itu, WeSEI mampu digunakan baik pada laki-laki maupun perempuan, serta pada kelompok dengan berat badan normal maupun overweight. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia menafsirkan item-item dalam WeSEI dengan cara yang konsisten, terlepas dari kondisi fisik mereka.

Yang menarik, sumber stigma terbesar berasal dari media sosial, diikuti oleh tayangan televisi dan media tradisional. Hal ini sejalan dengan kehidupan digital anak muda yang sehari-hari terpapar konten visual, komentar tubuh, tayangan hiburan, hingga meme yang mudah viral. Sementara itu, stigma dari orang tua, teman, atau pasangan cenderung lebih rendah, meski tetap ada. Dari sisi interaksi tatap muka, komentar dari orang asing ternyata menjadi sumber stigma interpersonal yang paling sering diamati oleh para peserta penelitian.

Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara paparan stigma dengan indeks massa tubuh (BMI). Peserta dengan BMI lebih tinggi cenderung lebih sering melihat atau merasakan stigma terkait berat badan. Meski hubungan ini tidak terlalu kuat, pola tersebut sudah cukup menunjukkan bahwa kelompok overweight lebih rentan terhadap pengalaman diskriminatif terkait tubuh.

Dalam proses penerjemahan, tim peneliti tidak sekadar menerjemahkan kata demi kata. Mereka melakukan adaptasi budaya agar maknanya tetap tepat dan sesuai konteks Indonesia. Beberapa kata dan frasa dipilih secara hati-hati, misalnya penggunaan kata mengusik untuk menggambarkan bentuk ejekan, atau mempertahankan istilah meme karena lebih akrab di kalangan anak muda.

Penelitian ini menjadi tonggak penting bagi upaya memahami stigma berat badan di Indonesia. Dengan adanya WeSEI versi Bahasa Indonesia, para peneliti, psikolog, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan kini memiliki alat untuk mengidentifikasi dari mana stigma muncul dan kelompok mana yang paling rentan. Ke depan, alat ini dapat mendukung pengembangan program pencegahan bullying berbasis berat badan, kampanye kesehatan mental, serta intervensi yang lebih tepat sasaran.

Lebih dari sekadar instrumen, kehadiran WeSEI adalah pengingat bahwa komentar tentang tubuh bukan hanya candaan. Ia bisa menyakiti, memengaruhi kesehatan mental, dan membentuk persepsi diri seseorang. Dengan memahami sumbernya, langkah pencegahan bisa dimulai lebih awal, khususnya bagi generasi muda yang tumbuh di era digital.

Link Artikel :

Penulis: Prof. Ira Nurmala, S.KM., MPH, Ph.D.

AKSES CEPAT