Menurut WHO luka bakar merupakan cedera pada kulit atau jaringan organik pada tubuh terjadi karena panas atau radiasi, kontak dengan bahan kimia, listrik, gesekan atau kontak dengan bahan kimia. Luka bakar merupakan fenomena umum yang sering terjadi di masyarakat dan menyebabkan sekitar 180.000 kematian setiap tahunnya. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2018, luka bakar menempati urutan keenam penyebab cedera yang tidak sengaja dengan prevalensi 0,7% dari total penduduk Indonesia. Oleh karena itu, mengetahui cara pengobatan luka bakar sangat lah penting.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat terdapat 195.000 kasus kematian akibat luka bakar di Indonesia setiap tahunnya. Sedangkan menurut data penelitian RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan pada tahun 2013 hingga 2015, 82,3% korban luka bakar terjadi pada anak usia 1 hingga 4 tahun. Luka bakar yang paling banyak terjadi adalah luka bakar derajat dua dengan prevalensi sebesar 73% dari seluruh luka bakar.
Penanganan Luka Bakar
Pengobatan luka bakar bervariasi tergantung kepada tingkat perahan luka bakar, mulai dari merendam luka dalam air dingin selama lima menit atau lebih, meminum pereda nyeri seperti acetaminophen atau ibuprofen, membalut luka dengan kain kasa longgar, mengoleskan lidokain dengan gel atau krim lidah buaya untuk menenangkan kulit, dan jika sudah masuk kepada luka bakar derajat yang mulai parah maka para medis akan memberikan obat salep kimia atau antibiotik.
Selama ini pengobatan luka bakar menggunakan bahan kimia yang dapat membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhan bakteri. Beberapa bahan kimia yang digunakan sebagai obat luka bakar adalah bacitracin, mafenide acetate, silver sulfadiazine, silver nitrate, povidone-iodine, dan mupirocine. Obat-obatan tersebut dapat membunuh dan mengurangi bakteri, sehingga dapat mencegah risiko penyebaran bakteri ke jaringan kulit sekitarnya dan membantu mencegah infeksi.
Di sisi lain, penggunaan obat kimia tersebut mempunyai beberapa kelemahan, seperti tidak mampu mengisolasi luka dari lingkungan luar, tidak mampu menyerap eksudat luka, dan tidak dapat mencegah kekeringan luka yang berlebihan sehingga dapat menghambat pertumbuhan sel epitel.
Oleh karena kelemahan obat kimia tersebut perlu bahan yang dapat menggantikannya. Salah satu pengobatan tersebut adalah menggunakan pembalut luka atau wound dressing. Umumnya jenis pembalut luka yang sering orang gunakan adalah hidrokoloid, film poliuretan, nilon berlapis silikon, pengganti kulit biosintetik, pembalut antimikroba (perak dan yodium), serat, dan hidrogel.
Keunggulan Hidrogel
Hidrogel merupakan pembalut luka terbaik diantara pembalut luka lainnya. Hal ini disebabkan sifat ideal hidrogel yang dibutuhkan sebagai bahan pembalut luka. Hidrogel dapat mencegah penguapan cairan dari kulit yang rusak akibat luka bakar, menjaga kelembapan area luka, jaringan kulit, dan biokompatibel. Selain itu, hidrogel memudahkan pergerakan karena bersifat elastis, menyerap eksudat luka, dan mengurangi trauma. Hidrogel juga melindungi luka dari infeksi dan berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka.
Biomaterial yang dapat dimanfaatkan sebagai hidrogel dengan fungsi penyembuhan luka bakar adalah metilselulosa. Metilselulosa merupakan polisakarida yang berasal dari selulosa. Metilselulosa bersifat melembapkan, biokompatibel, tidak beracun dan telah terdaftar di Food and Drug Administration (FDA). Selain itu, menurut penelitian terbaru, metilselulosa berbentuk cair pada nanopartikel perak (AgNPs) dapat mempercepat penyembuhan. Hal ini karena nanopartikel perak bersifat antimikroba dan tidak beracun.
Nanopartikel perak berasal dari ionisasi dan reduksi garam perak. Selain bahan yang menyebabkan antibakteri, antioksidan pada luka bakar juga bisa untuk menghindari stres oksidatif. Stres oksidatif yang terjadi karena radikal bebas dapat menghambat penyembuhan luka. Salah satu bahan yang mengandung antioksidan adalah Avena sativa (ekstrak oat). Senyawa antioksidan yang terkandung dalam oat antara lain vitamin E, avenanthramides, asam ferulat, dan flavonol. Senyawa antioksidan ini mampu menstabilkan dan menghentikan reaksi radikal bebas.
Penelitian bersama Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio., Dr. Siswanto, M.Si, dan Firza, S.T., bertujuan untuk hasil dari penambahan ekstrak oat pada hidrogel metilselulosa-AgNPs. Hidrogel metilselulosa-AgNPs bercampur dengan ekstrak oat, dengan konsentrasi ekstrak oat sebesar 0 wt%, 0,5 wt%, 1 wt%, 1,5 wt%, dan 2 wt%.
Karakterisasi
Karakterisasi meliputi uji kristalinitas XRD dan uji morfologi SEM untuk memastikan dan mengkonfirmasi adanya zat AgNP. Hasilnya terbukti adanya 10,2% AgNP yang terbentuk dan tersebar merata. Selain itu, ada juga pengujian antibakteri, uji sitotoksisitas, uji pembengkakan, dan uji antioksidan.
Dari hasil analisis, variabel hidrogel metilselulosa-AgNPs-oat yang terbaik adalah sampel dengan konsentrasi oat 2 wt%, mempunyai diameter zona bening 10,35 mm dan sensitif terhadap bakteri, mempunyai persen viabilitas sebesar 2,206%, nilai pembengkakan sebesar 71,7%, dan memiliki nilai antioksidan sebesar 95%. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan oat dapat meningkatkan viabilitas sel karena oat bersifat antioksidan sehingga mampu menangkal radikal bebas. Selain itu penambahan oat juga dapat meningkatkan sensitivitas terhadap bakteri atau sebagai antibakteri.
Penulis: Prihartini Widiyanti
Sumber:
Baca Juga: Jaga Iklim Organisasi, FIKKIA Lantik Pengurus Ormawa Periode 2024





