Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa bentuk rahang bawah anak (mandibula) dapat menjadi petunjuk penting dalam proses identifikasi korban, terutama pada kasus bencana atau kondisi di mana tubuh sulit dikenali. Studi ini dilakukan oleh tim peneliti dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), 51¶¯Âþ, dan sejumlah institusi internasional.
Kajian yang melibatkan 305 citra Dental Panoramic Tomography (DPT) anak berusia 3 hingga 12 tahun itu menemukan bahwa perbedaan bentuk rahang anak dapat digunakan untuk memperkirakan usia dengan tingkat ketepatan mencapai 82 persen. Namun, penelitian ini juga menegaskan bahwa rahang anak belum dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin, karena bentuk rahang laki-laki dan perempuan pada usia tersebut masih sangat mirip.
Dalam praktik forensik, rahang menjadi salah satu tulang yang paling sering bertahan dalam kondisi ekstrem seperti kebakaran, kecelakaan industri, hingga bencana alam. Ketika sidik jari hilang dan DNA tidak bisa diambil, rahang dapat menjadi kunci identifikasi. Peneliti menjelaskan bahwa rahang anak mengalami perubahan bentuk seiring pertumbuhan. Perubahan ini dapat dibaca melalui analisis bentuk atau geometric morphometric, sebuah metode yang memetakan titik-titik anatomi pada citra radiograf. Rahang anak menunjukkan pola pertumbuhan yang cukup jelas dan dapat diukur secara ilmiah. Ini membantu memperkirakan usia, bahkan ketika gigi belum tumbuh sempurna atau sudah rusak.
Dalam penelitian ini, sampel dibagi menjadi dua kelompok: usia 3“7 tahun dan usia 8“12 tahun. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan bentuk rahang yang sangat signifikan antara kedua kelompok tersebut. Dengan bantuan analisis statistik, sistem berhasil mengklasifikasikan usia anak dengan akurasi setelah uji silang mencapai 81,97 persen. Menurut para peneliti, tingkat ketepatan ini dapat membantu mempercepat proses identifikasi korban anak, terutama pada kasus-kasus besar seperti gempa bumi, banjir bandang, hingga kecelakaan pesawat.
Sementara itu, penelitian juga menguji apakah rahang dapat digunakan untuk membedakan anak laki-laki dan perempuan. Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan, karena anak di bawah usia 12 tahun belum mengalami pubertas, fase ketika hormon mulai mengubah bentuk wajah dan tulang. Mandibula anak tidak memiliki ciri seksual yang jelas. Baru setelah memasuki usia remaja, bentuk rahang mulai menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Meski menunjukkan hasil menjanjikan, penelitian ini juga menghadapi sejumlah kendala, seperti kualitas radiograf yang tidak seragam, posisi rahang yang tidak selalu terekam lengkap, dan data klinis yang tidak konsisten. Tim peneliti merekomendasikan penggunaan teknologi tiga dimensi seperti CT-Scan atau Cone Beam CT untuk penelitian selanjutnya. Mereka juga menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat mempercepat proses penandaan titik anatomi yang saat ini masih dikerjakan manual.
Penelitian ini menjadi langkah awal dalam membangun database anatomi rahang populasi anak Melayu, yang dapat digunakan sebagai rujukan dalam proses identifikasi di Malaysia dan Indonesia. Studi ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat.
Dengan temuan ini, para ahli berharap metode analisis rahang dapat semakin memperkuat kemampuan forensik di Asia Tenggara, terutama dalam menghadapi bencana yang melibatkan korban anak.
Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D
Dikutip dari artikel jurnal berjudul: Sexual Dimorphism And Age Estimation Of The Children Mandible From Dental Panoramic Tomography (DPT): A Geometric Morphometric Analysis Artikel dapat diakses pada:





