51动漫

51动漫 Official Website

Riset Ungkap Bentuk Rahang Anak Bisa Jadi Kunci Identifikasi Usia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa salah satu bagian kecil pada rahang bawah manusia攜ang selama ini jarang diperhatikan攖ernyata dapat membantu memperkirakan usia anak dalam kasus forensik. Temuan ini diharapkan bisa menjadi penunjang identifikasi korban ketika informasi lain seperti sidik jari, wajah, atau data medis tidak lagi tersedia.

Penelitian dilakukan oleh tim lintas negara dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), 51动漫, Universitas Padjadjaran, serta beberapa institusi akademik lain. Studi ini meneliti 305 citra dental panoramic tomography (DPT)攕ejenis foto rontgen yang biasa digunakan di klinik gigi攗ntuk melihat apakah coronoid process, tonjolan tulang kecil di bagian atas rahang bawah, mengalami perubahan bentuk seiring pertambahan usia.

Dalam kejadian seperti kecelakaan pesawat, kebakaran besar, atau bencana alam, proses identifikasi korban sering kali menghadapi hambatan. Jaringan lunak tubuh dapat rusak atau hilang, sementara DNA tidak selalu bisa diambil dengan mudah. Tulang rahang menjadi salah satu struktur yang relatif kuat dan sering tetap utuh.

淩ahang mengalami pertumbuhan yang konsisten selama masa kanak-kanak. Perubahan bentuk kecil pada area coronoid process bisa menjadi jejak biologis yang berguna untuk memperkirakan usia, tulis para peneliti dalam laporannya.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah geometric morphometrics, teknik analisis bentuk yang mampu menangkap perubahan struktur tulang secara detail. Teknik ini tidak hanya mengukur ukuran, tetapi juga pola bentuk dan variasinya.

Dari total 305 citra DPT, peneliti membagi anak dalam dua kelompok: Usia 37 tahun (kelompok 1) dan Usia 812 tahun (kelompok 2). Pada setiap citra, para peneliti menandai enam titik penting di sekitar coronoid process menggunakan perangkat lunak TPSDig2. Data itu kemudian dianalisis menggunakan MorphoJ, sebuah perangkat statistik khusus untuk penelitian bentuk.

Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan bentuk yang signifikan antara kelompok usia muda dan usia yang lebih tua. Pada kelompok usia 812 tahun, bagian coronoid process terlihat lebih tinggi, dan bentuk rahang bagian atas cenderung lebih memanjang. Temuan ini sesuai dengan pola pertumbuhan rahang pada masa kanak-kanak, ketika otot pengunyahan berkembang dan memengaruhi struktur tulang.

Ketika diuji menggunakan Discriminant Function Analysis (DFA), metode statistik untuk mengelompokkan bentuk berdasarkan ciri tertentu, sistem mampu membedakan dua kelompok usia dengan tingkat akurasi: 73% sebelum uji silang dan 64% setelah cross-validation. Artinya, meski bukan alat yang sempurna, bentuk coronoid process memiliki nilai prediksi yang cukup baik sebagai indikator usia tambahan dalam pemeriksaan forensik.

Penelitian juga menemukan bahwa anak usia 37 tahun menunjukkan bentuk rahang yang lebih seragam, sedangkan kelompok 812 tahun menampilkan variasi bentuk yang lebih luas. Hal ini wajar, karena semakin besar usia anak, semakin tinggi perbedaan individual akibat faktor pertumbuhan, nutrisi, hingga aktivitas otot pengunyahan.

Selain DFA, penelitian ini juga melakukan Procrustes ANOVA, metode untuk memastikan apakah perbedaan bentuk yang ditemukan benar-benar signifikan. Hasilnya menunjukkan baik ukuran maupun bentuk coronoid process berbeda secara nyata antara dua kelompok usia. Uji statistik yang kuat ini memberikan fondasi ilmiah bahwa perubahan bentuk tersebut bukan kebetulan atau variasi acak, melainkan bagian dari proses pertumbuhan rahang yang konsisten.

Menariknya, penelitian ini menggunakan Dental Panoramic Tomography, jenis foto rontgen yang sangat umum tersedia di klinik gigi. Pemeriksaan ini lebih murah, cepat, dan memiliki paparan radiasi lebih rendah dibandingkan CT-Scan atau Cone Beam CT yang sering dipakai dalam penelitian anatomi. Hal ini membuka peluang besar untuk mengembangkan basis data usia anak berbasis citra DPT yang dapat dimanfaatkan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Meski hasilnya cukup menjanjikan, para peneliti mengakui bahwa metode ini masih perlu dikembangkan. Ke depan, penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menandai titik anatomi secara otomatis dapat meningkatkan akurasi dan mempercepat proses analisis. Dalam jangka panjang, penelitian seperti ini dapat menjadi bagian penting dari sistem identifikasi korban bencana, terutama di negara yang rawan gempa, banjir, hingga kecelakaan massal.

Para peneliti menegaskan bahwa analisis coronoid process bukanlah pengganti metode identifikasi utama seperti pemeriksaan gigi atau DNA. Namun, ketika kondisi lapangan tidak memungkinkan, struktur kecil pada rahang ini bisa menjadi penunjang yang berguna untuk memperkirakan usia, terutama pada korban anak. Studi ini sekaligus menambah bukti bahwa tubuh manusia meninggalkan jejak pertumbuhan yang dapat dibaca攂ahkan pada bagian tulang sekecil coronoid process.

Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D

Dikutip dari artikel berjudul: Forensic Age Estimation In Children Using Coronoid Process Of Mandible From Dental Panoramic Tomography: A Geometric Morphometric Study

Artikel dapat diakses pada tautan berikut:

AKSES CEPAT