Pentingnya Pencegahan Kehilangan Tulang dalam Penempatan Implan Gigi
Kehilangan tulang (bone loss) merupakan indikator utama yang menentukan keberhasilan implan gigi, karena stabilitas tulang peri-implant menentukan dukungan jangka panjang jaringan keras dan lunak disekitarnya. Kehilangan tulang dapat menyebabkan resorpsi berlebihan, gangguan proses penyembuhan dan kegagalan implan. oleh karena itu, pencegahan bone loss sangat penting agar osseointegrasi dapat berjalan optimal dan menjaga ketinggian tulang alveolar.
Pengaruh Kedalaman Penempatan Implan terhadap Kehilangan Tulang
Kedalaman penempatan implan, pada subkrestal (penempatan implan dibawah puncak alveolar) sering menjadi alternatif untuk mempertahankan tulang peri-implant dan dianggap mampu menopang jaringan lunak dan keras. Beberapa penelitian setuju namun terdapat beberapa penelitian yang bertentangan dengan hasil tersebut. Sehingga, diperlukan peninjauan untuk menganalisis pengaruh kedalaman penempatan implan platform-switched (PS) terhadap resorpsi tulang dan menentukan kedalaman optimal berdasarkan penelitian terbaru pada hewan, manusia, dan FEA.
Hasil Pencarian Artikel
Untuk menjawab perdebatan ini, sebuah narrative review dilakukan dengan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyses) dan strategi PICO. Hasil pencarian literatur di PubMed, Scopus, dan Google Scholar menghasilkan 488 artikel. Setelah diseleksi ketat, hanya 17 artikel memenuhi kriteria kelayakan dan dimasukkan untuk dianalisis:
- 4 studi Finite Element Analysis (FEA)
- 4 studi in vivo pada hewan
- 9 studi klinis pada pasien
Pengaruh Kedalaman Penempatan terhadap Kehilangan Tulangpada Hewan dan Manusia
Empat studi in vivo (pada sampel hewan)yang meneliti pengaruh penempatan subkrestal (di bawah puncak tulang alveolar) implan platform-switched terhadap kehilangan tulang yang dibandingkan dengan kelompok penempatan ekuikrestal (sejajar puncak tulang alveolar) menunjukkan hasil bervariasi. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan dari tiga studi bahwa tidak ada pengaruh signifikan dari kedalaman penempatan terhadap kehilangan tulang (perbedaan rata-rata standar: -0.13 [-0.69; 0.42]). Sedangkan, 1 studi lainnya menunjukkan retensi ketinggian tulang setelah 6 bulan yang secara signifikan lebih tinggi dengan penempatan subkrestal dibandingkan penempatan ekuikrestal. Meski begitu, terdapat berbagai limitasi dalam penyimpulan hasil studi in vivo dikarenakan ukuran sampel yang kecil atau yang ditentukan tanpa pengukuran formal, serta periode penyembuhan pasca ekstraksi yang lebih pendek dari standar durasi penyembuhan untuk dimensi ridge yang lebih stabil pada beberapa studi.
Hasil ini didukung oleh hasil keseluruhan 9 studi klinis (pada sampel manusia) yang menunjukkan tidak adanya signifikansi pengaruh kedalaman penempatan terhadap kehilangan tulang berdasarkan kumpulan data seluruh artikel yang diambil utamanya pada 6 bulan observasi. Durasi observasi ini dipilih karena diobservasi pada hampir seluruh 9 artikel, tetapi pemilihan durasi ini membatasi penyimpulan seluruh data setiap artikel terkait efek kedalaman penempatan terhadap kehilangan tulang dalam jangka panjang. Meski begitu, heterogenitas 9 studi tergolong tinggi yang berarti setiap studi memiliki perbedaan besar yang dapat berupa perbedaan metode, durasi observasi, maupun sampel. Sehingga, kesimpulan yang menunjukkan insignifikansi dapat besar dipengaruhi oleh perbedaan ini alih-alih murni insignifikansi pengaruh kedalaman penempatan implan terhadap kehilangan tulang.
Pengaruh Kedalaman Penempatan terhadap Biomekanika pada Implan
Finite element analysis (FEA) berguna dalam analisis faktor biomekanis, seperti stress dan strain, yang penting dalam preservasi tulang tetapi tidak dapat diukur secara langsung pada pasien (studi klinis). Stress pada tulang seharusnya tidak melebihi kekuatan implan dan material. Dari 4 studi dengan FEA, ditemukan bahwa pada implan yang diberikan gaya terinklinasi, semakin dalam penempatan subkrestal mengahasilkan stress yang semakin besar pada tulang kortikal, kecuali pada kedalaman penempatan yang mencapai lebih dari ketebalan tulang kortikal. Sedangkan, pada implan yang diberi gaya sejajar sumbu gigi (aksial), penempatan subkrestal berakibat pada stress yang lebih rendah dan lebih homogen pada tulang kortikal. Pada tulang kanselus, stress maksimum melebihi batas fisiologis pada penempatan subkrestal 2 mm ke atas. Selain itu, pada studi yang menggunakan model tulang D3 yang lebih tipis dengan puncak tulang kortikal yang lebih porous, ditemukan stress pada tulang kortikal dan kanselus yang lebih rendah dengan penempatan subkrestal. Penempatan ekuikrestal pada percobaan ini justru menunjukkan kekuatan tensile yang mencapai batasan stress.
Manfaat untuk Medis
Penemuan bahwa penempatan subkrestal sedalam <2 mm dari implan platform-switched yang diberikan gaya terinklinasipada tulang kortikal setebal 2 mm mungkin menghasilkan lingkungan biomekanis yang emnguntungkan untuk mitigasi resorpsi tulang dan stimulasi pertumbuhan kembali tulang dapat menjadi acuan studi klinis selanjutnya untuk mengonfirmasi temuan ini. Selain itu, review ini menemukan bahwa dibutuhkan studi in vivo terkait topik ini yang menggunakan ukuran sampel yang lebih besar dan masa penyembuhan pasca ekstraksi yang lebih sesuai standar (6-12 bulan). Review ini juga menunjukkan kebutuhan pembuatan review studi klinis yang lebih homogen dengan durasi observasi yang lebih panjang untuk mampu menyimpulkan efek kedalaman penempatan terhadap kehilangan tulang pada jangka panjang.
Penulis : Imam Safari Azhar, drg., M.Kes., Sp.Pros., Sub Sp PKIKG (K)
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di:
Azhar, I.S., Nuraisah, C.S. and Artanti, R.K. (2025). Effect of Subcrestal Placement of Platform-Switched Implants on Bone Loss: A Narrative Review of Clinical, In Vivo, and FEA Studies. Journal of international oral health, 17(4), pp.276“282. doi:.





