51动漫

51动漫 Official Website

Penerapan Metode ATC/DDD untuk Analisa Penggunaan Antibiotika di Departemen Penyakit Dalam

Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) merupakan alat/sistem klasifikasi internasional yang dapat digunakan sebagai metode penelitian penggunaan obat guna perbaikan kualitas penggunaan obat, yang diklasifikasikan berdasarkan mekanisme kerja obat, farmakologis, terapektik dan struktur kimia (Septa, 2019). Penggunaan antibiotika yang tidak tepat berkontribusi besar terhadap perkembangan resistensi antibiotika secara global (Kluster et al., 2008); OECD, 2018; CDC, 2019). Resistensi antibiotika terjadi Ketika kadar hambat minimal (KHM) suatu antibiotika tidak dapat dicapai dengan menggunakan dosis standar (Pottinger, 2018). Tingginya resistensi antibiotika memicu peningkatan biaya rawat inap dan angka kematian (Kuster et al., 2008; Septa, 2019). Untuk evaluasi penggunaan antibiotika, WHO menyarankan penggunaan metode ATC/DDD sebagai alat evaluasi penggunaan antibiotika secara kuantitatif dan metode Gyssen sebagai alat evaluasi penggunaan antibiotika secara kualitatif (Kuster et al.,2008). DDD mengasumsikan dosis pemeliharaan rata-rata antibiotika per hari yang digunakan untuk indikasi utamanya pada orang dewasa (Kuster et al., 2008). Pengaplikasi metode ATC/DDD di rumah sakit dapat memberikan data yang valid dalam mengevaluasi penggunaan antibiotika dan sebagai metode standar global (Kuster et al., 2008); Hamdi et al., 2013).

Penyakit Dalam merupakan salah satu departemen dengan penggunaan antibiotika terbanyak di rumah sakit, khususnya untuk gastroenteritis, tipus, tukak diabetes, infeksi saluran kemih, dan pengobatan sepsis. Pada penelitian ini, dilakukan reviu literatur tentang analisis penggunaan antibiotika secara kuantitatif pada pasien penyakit dalam dengan metode DDD/100 patient-days. Database yang digunakan yaitu PMC, Research Gate, dan Google Scholar dengan menelusuri original article, laporan kasus, dan meta analisis dari tahun 2006 hingga 2020. Hasil dari penelitian ini terdapat 12 jurnal yang menggambarkan nilai DDD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penisilin merupakan antibiotika terbanyak yang digunakan sebagai terapi infeksi di departemen penyakit dalam, diikuti dengan sefalosporin (Itamar et al., 2008; Aberto et al., 2008; Begum et al., 2010; Aberto et al., 2018; Bolla et al., 2019; Nebyu dkk., 2020). Penggunaan penisilin tertinggi terdapat di Hazhaz Zonal Referral Hospital (HZRH), Eritrea yaitu sebesar 101,48 DDD/100 hari rawat inap untuk Benzyl-penisilin G yang artinya dalam 100 hari lama rawat inap, terdapat 101-102 pasien yang diberikan Benzil-penisilin G. Sebuah penelitian di Bangladesh menunjukkan masing-masing 31,54 DDD/100 hari rawat inap dan 8,58 DDD/100 hari rawat inap untuk amoksisilin oral dan parenteral (Begum et al., 2010).

Pemberian antibiotika tertinggi kedua adalah Sefalosporin generasi ketiga. Penggunaan sefalosporin generasi ketiga di Jambi Indonesia menunjukkan bahwa ceftazidime, cefotaxime, dan ceftriaxone memberikan 42,11 DDD/100 hari rawat inap (Septa, 2019). Penggunaan ceftriaxone dan cefotaxime banyak digunakan unutk infeksi Pneumococcus yang tidak sensitif terhadap penisilin karena dapat melawan beta-laktamase dan memiliki toksisitas rendah unutk pasien gagal ginjal (Deck&Winston, 2012). Antibiotika tertinggi ketiga pada bangsal penyakit dalam adalah fluorokuinolon, khususnya ciprofloxacin, levofloxacin, dan norfloxacin. Rumah sakit di Italia menunjukkan penggunaan fluorokuinolon 15,72 DDD/100 hari rawat inap dengan ciprofloxacin sebagai antibiotika yang paling banyak digunakan. Ciprofloxacin efektif dalam melawan P. aeruginosa (Alberto et al., 2008; MacDougall, 2018). Sebuah studi yang dilakukan oleh Vaccheri dkk, menunjukkan penggunaan antibiotika di Italia meningkat dari tahun 2004 hingga 2011, yaitu ditunjukkan dengan peningkatan nilai DDD 33,01 DDD/100 patient-days pada tahun 2004 menjadi 94,49 DDD/100 patient-days pada tahun 2011 (Alberto et al., 2008). Peningkatan penggunaan antibiotika terutama terjadi pada penisilin yang dikombinasikan dengan inhibitor beta laktamase, flurokuinolon, dan sefalosporin generasi ketiga (Alberto et al., 2008; Elena et al., 2014).

Penggunaan antibiotika di bangsal penyakit dalam cukup bervariasi antar rumah sakit. Hal ini dikarenakan karakteristik pasien, pedoman dan protokol rumah sakit setempat, dosis dan indikasi antibiotika selain indikasi pertama, uji kultur dan sensitivitas sebelum pemberian, serta penggunaan antibiotika yang berlebihan. Antibiotic Stewardship Program (ASP) adalah alat ukur untuk mengoptimalkan penggunaan antibiotika dan menurunkan resistensi dengan mengendalikan penggunaan antibiotika yang berlebihan. Hal ini dapat diterapkan melalui penerapan pedoman, pelatihan dan pendidikan, pengawasan, pemantauan, audit dan umpan balik terkait penggunaan antibiotika.

Penulis: Mareta Rindang Andarsari

Detail tulisan artikel ini dapat dilihat pada:

Mareta Rindang, Andarsari, Iffah, Khosyyatillah, Aminatush, Sholichah, Dewi Wara, Shinta, Cahyo, Wibisono & Junaidi, Khotib. (2023). Application of ATC/DDD methodology to analyse antibiotic consumption in internal medicine department: A review. Pharmacy Education, 23(4), 251-258.

AKSES CEPAT