Pandemi covid-19 memberikan dampak terhadap pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kepada ibu hamil. Pemeriksaan kehamilan (antenatal care) di fasilitas pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan esensial yang harus didapatkan oleh seluruh ibu hamil. Kemenkes menyebutkan bahwa ibu hamil perlu melakukan minimal enam kali melaksanakan antenatal care di fasilitas kesehatan. Pada trimester pertama sebanyak dua kali, trimester kedua sebanyak satu kali dan trimester ketiga sebanyak tiga kali. Pemeriksaan kehamilan yang tidak dilakukan sesuai aturan dapat menyebabkan intervensi nutrisi, penilaian kondisi ibu dan janin, tindakan pencegahan dan intervensi dari hasil pemeriksaan tidak akan terlaksana dengan baik, terutama pada ibu dengan kehamilan risiko sangat tinggi yang mana pelaksanaan antenatal care harus dilakukan di Rumah Sakit oleh tenaga medis (dokter). Kondisi pandemi covid-19 ini menyebabkan ibu hamil cemas dan depresi sehingga memilih tetap berada dirumah dikarenakan terdapat 3% ibu hamil yang meninggal karena covid-19. Berada dirumah bukan merupakan tindakan yang harus selalu dilakukan ibu hamil, ibu hamil harus tetap melaksanakan antenatal care sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Dosen Fakultas Kedokteran 51动漫 (Dr. Lestari Sudaryanti, dr, M.Kes.), Fakultas Vokasi (Amellia Mardhika, S.Kep.,Ns.,M.Kes dan Anestasia Pangestu Mei Tyas, S.Kep.,Ns.,M.Kep) dan Fakultas Keperawatan (Arina Qona檃h, S.Kep.,Ns.,M.Kep.) melakukan penelitian mengenai pengalaman ibu hamil risiko sangat tinggi dalam melakukan perawatan antenatal care di pelayanan kesehatan. Penelitian ini dilakukan kepada ibu hamil yang termasuk kategori risiko sangat tinggi (sebelumnya partisipan sudah dilakukan skrining dengan menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati dengan nilai 鈮 12). Partisipan diwawancara secara mendalam untuk menggali informasi mengenai pengalaman yang dirasakan oleh ibu hamil dalam menjalankan antenatal care di masa pandemi covid-19. Hasil wawancara didapatkan pengalaman takut akan kehamilan karena risiko penularan dan masalah keuangan, takut kehilangan bayinya karena risiko kesehatannya bertambah parah, hilangnya support system karena batasan kunjungan dan dukungan keluarga inti, kepatuhan terhadap protokol kesehatan karena tinggal dirumah dalam waktu yang lama dan peningkatan imunitas selama hamil dengan mengkonsumsi minuman tradisional, perbedaan sistem kesehatan karena pemeriksaan selama antenatal care dengan pengurangan kontak fisik saat pemeriksaan dan skrining untuk deteksi.
Kehamilan di masa pandemi berdampak pada kesehatan fisik dan mental ibu yang dapat berubah menjadi pengalaman yang menakutkan. Ibu hamil memerlukan dukungan baik dari keluarga, tenaga kesehatan maupun sistem pelayanan agar dapat melakukan perawatan kehamilan secara nyaman. Protokol kesehatan, edukasi kehamilan dan kondisi janin, dukungan keluarga juga perlu dimaksimalkan. Tenaga kesehatan perlu memperhatikan kondisi fisik dan psikis ibu hamil, termasuk pelayanan antenatal care yang harus diberikan minimal enam kali baik secara langsung atau menggunakan teknologi 迟别濒别尘别诲颈肠颈苍别.
Penulis : Amellia Mardhika, S.Kep.,Ns.,M.Kes.
Informasi lebih lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Sudaryanti, L., Mardhika, A., Qona橝h, A., Tyas, A. P. M., & Chan, C. M. (2023). Antenatal care of pregnant women during pandemic: A phenomenology study. Journal of the Pakistan Medical Association, 73(2), S71揝75. https://doi.org/10.47391/JPMA.IND-S2-17





