51动漫

51动漫 Official Website

Pengalaman Pasien Kanker Obstetrik dan Ginekologi dalam Memutuskan Terapi Pengobatan

Foto oleh clinicafuentes.es

Sel kanker memiliki kemampuan untuk metastasis. Metastasis terjadi pada stadium akhir kanker. Metastasis adalah penyebab terbanyak kematian penyakit kanker. Selama kanker masih ada pada satu lokasi, kanker masih memungkinkan untuk diangkat. Namun apabila sel kanker telah bermetastasis, penyakit kanker menjadi sulit dikontrol. Distribusi organ lokasi metastasis tergantung dari tipe dan lokasi tumor primernya.

Menurut Kementerian Kesehatan Republuk Indonesia (Kemenkes RI) kanker didefinisikan sebagai penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh. Penyakit kanker merupakan salah satu jenis penyakit kronis yang dikarakteristikkan dengan pembelahan sel-sel yang tidak terkendali. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dengan cepat. Keterlambatan dalam penanganan pasien dengan kanker berdampak pada memburuknya kondisi kesehatan pasien dan meningkatkan angka kematian.

Di Indonesia, jumlah penderita kanker di Indonesia setiap tahunnya terus bertambah. Menurut Kemenkes RI (2012) prevalensi kanker di Indonesia mencapai 4,3 banding 1.000 orang. Angka ini merupakan angka yang tinggi dibandingkan dengan data sebelumnya yaitu 1 banding 1.000 orang (Kemenkes, 2007). Pada tahun2012, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Serikat Pengendalian Kanker Internasional (UICC)  memprediksi, akan terjadi peningkatan lonjakan penderita kanker sebesar 300 persen di seluruh dunia pada tahun 2030. Jumlah tersebut 70 persennya berada di negara berkembang seperti Indonesia dan 30% lainnya terjadi di negara-negara maju.

Tujuan utama dari terapi kanker adalah untuk menghilangkan sel-sel kanker. Apabila tujuan ini tidak bisa tercapai, terapi dialihkan ke terapi paliatif, yaitu menghilangkan gejala, dan meningkatkan kualitas hidup sampai akhir kehidupan. Di Indonesia secara umum terdapat dua pilihan pengobatan yaitu pengobatan di beberapa usaha pengobatan kanker dengan obat (farmakoterapi) atau dengan senyawa kimia (kemoterapi) dan cara-cara pengobatan alternatif antara lain dengan obat tradisional. Berdasar dari data Depkes RI (2007) kasus kanker yang banyak diderita di Indonesia adalah sbb; kanker serviks, kanker payudara,penyakit trofoblas ganas,kanker kulit, kanker nasofaring,kanker paru,kanker hati,kanker kelenjar getah bening ,kanker usus besar,dan kanker darah. Namun, sedang saat ini angka keberhasilan pengobatan kanker selama ini masih terhitung rendah. Berbagai faktor diketahui berperan dalam rendahnya keberahsialn penangan kanker adalah keterlambatan deteksi dan keterlambatan dalam mendapat pengobatan. Tingginya kenaikan prevalensi kanker di negara berkembang termasuk di Indonesia, menjadi fenomena tersendiri. Sebagian besar penderita kanker yang terlambat mendapatkan pelayanan medis, kemungkinan mereka tetap mencari alternative lain untuk mengobati sakitnya

Hasil penelitan memperlihatkan pegobatan alternative melatarbelakangi pasien perempuan dengan kanker obstetric dan ginekologi dalam upaya mendapatkan kesembuhan. Pasien perempuan dengan kanker obstetric dan ginekologi melewati pengobatan non-medis terlebih dahulu sebelum melakukan pengobatan medis dan atau mengerjakan keduanya pada waktu yang bersamaan. Mereka tertarik dengan tawaran pengobatan alternative yang menjanjikan kesembuhan tanpa efek samping. Sementara pengobatan medis dipersepsikan sebagai prosedur pengobatan yang menyakitkan, memiliki dampak/efek samping yang buruk  terhadap organ tubuh lainnya yang sehat.

Penelitian juga memperlihatkan proses pengambilan keputusan dalam menentukan terapi pengobatan bagi seorang perempuan penderita kanker merupakan hal yang sangat pelik. Perempuan meyakini bahwasannya organ sbb: payudara, rahim, indung telur, dan vagina adalah bagian dari identitas keperempuanan. Sehingga kehiangan organ tsb di atas sangat mengganggu bagi peran dan fungsi mereka sebagai seorang perempuan, seorang ibu dan seorang istri. Dalam membuat keputusan sd. pengobatan kanker, perempuan melibatkan banyak pihak, terutama anggota keluarga terdekat seperti Ibu, adik, kakak, suami, dan anak. Semakin Panjang perbedaan pendapat diantara anggota keluarga, maka semakin panjang pula pada keputusan untuk segera memulai terapi pengobatan.

Konflik intrapersonal, pertentangan antara kehilangan organ keperempuanan dan kehilangan identitas diri merupakan konflik internal yang sangat sulit untuk dapat diselesaikan perempuan penderita kanker. Empat tema muncul dari analisis data; (1) peran gender dalam proses pengambilan keputusan pengobatan; (2) perjalanan pengobatan; (3) penerimaan pendapat pengobatan medis; dan (4) penerimaan hidup dengan kanker sebagai takdir. Mayoritas peserta melaporkan peran pasif dalam proses pengambilan keputusan pengobatan sementara peserta yang ditandai dengan wanita pekerja yang mandiri secara finansial secara aktif terlibat dalam keputusan pengobatan. Dukungan yang diberikan oleh keluarga, dapat dirasakan secara negatif oleh partisipan dan dapat dikaitkan dengan pengalaman ketegangan emosional yang mengakibatkan tertundanya perawatan medis. Keyakinan budaya dalam perjalanan pengobatan kanker diungkapkan. Hampir semua partisipan menjelaskan secara rinci mengalami penyesalan atas keputusan perawatan medis yang tertunda. Percaya pada kemampuan mereka, dan keterlibatan profesional kesehatan memaksimalkan harapan mereka untuk bertahan hidup.

Temuan dari penelitian ini menunjukkan perlunya memunculkan interaksi psiko-sosial yang lebih spesifik dalam proses pengambilan keputusan pengobatan. Wanita penderita kanker membutuhkan dukungan psiko-sosial agar mereka dapat menjalani perawatan medis.Fenomena yang melatar belakangi proses pembuatan keputusan tersebut merupakan masukan bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan publik terhadap deteksi dini dan pengobatan kanker.

Treatment decision-making experience among Indonesian women with obstetricsand gynecology-related cancer

Penulis: Ira Suarilah, S.Kp., M.Sc., Ph.D

AKSES CEPAT