51动漫

51动漫 Official Website

Pengaruh Budaya terhadap Kebiasaan Makan dan Stunting

IL by Darya Varia

Indonesia merupakan negara yang memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs). Pemerintah Indonesia memiliki target untuk menurunkan prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024. Pada tahun 2013-2018 prevalensi stunting menurun sebanyak 6.4%.  Provinsi Jawa Timur pada tahun 2018 memiliki prevalensi stunting (32.8%) diatas rata-rata nasional (30.8%). Kabupaten Sampang merupakan kabupaten dengan prevalensi stunting yang tertinggi (47.9%) di Jawa Timur. Oleh karena itu, Kabupaten Sampang menjadi salah satu lokus penurunan stunting di Indonesia.

Penelitian Diana dkk dari 51动漫 dan IPB University menjelaskan bagaimana pandangan masyarakat terkait stunting dan konsep makan orangtua dapat mempengaruhi pemberian makan anak balita dan pada akhirnya mempengaruhi status gizi anak. Penelitian yang dilakukan dengan focus group discussions, in-depth interview, dan observasi pada 61 informan menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Sampang tidak menganggap stunting adalah suatu masalah tumbuh kembang anak. Anak yang pendek merupakan masalah genetik (turunan), ketika orangtua pendek maka anaknya juga akan pendek. Masyarakat menilai anak yang pendek merupakan kondisi yang biasa dan tidak menjadi masalah selama anak dapat melakukan aktifitas seperti biasa, mau makan dan tidak rewel. Meskipun ada beberapa orangtua yang menyadari bahwa anak mereka lebih tinggi dibandingkan orangtuanya pada usia yang sama.

Konsep makan menurut masyarakat adalah makan nasi. Belum makan jika belum makan nasi. Makan tanpa lauk tidak masalah yang penting ada nasi (makan dengan nasi). Konsep makan ini mempengaruhi praktik pemberian makan anak balita. Hasil observasi memperlihatkan bahwa anak normal mengonsumsi makanan yang lebih beragam dibandingkan dengan anak stunting. Anak stunting terutama yang dibawah usia satu tahun banyak yang diberikan makan dengan nasi dengan kuah sayur, atau kaldu ikan saja tanpa tambahan lauk atau sayurnya.

Penelitian tersebut mengingatkan bahwa peningkatan kesadaran mengenai stunting masih perlu dilakukan pada masyarakat Madura di Kabupaten Sampang. Pentingnya merubah pemikiran mengenai konsep makan pada masyarakat menjadi satu hal yang perlu dilakukan sehingga anak dapat mengonsumsi makanan yang beragam. Makan tidak cukup hanya dengan nasi tetapi juga perlu dengan lauk dan sayurnya.

Penulis: Rian Diana, M.Si

Artikel secara lengkap dapat dilihat:  

Diana, R., Rachmayanti, R.D., Khomsan, A. Riyadi, H. Influence of eating concept on eating behavior and stunting in Indonesian Madurese ethnic group. J. Ethn. Food 9, 48 (2022).

AKSES CEPAT