51动漫

51动漫 Official Website

Pengaruh keberagaman jenis kelamin dewan komisaris terhadap kinerja perusahaan dan peran latar belakang etnis komisaris utama



Artikel ini membahas pengaruh keberagaman gender pada dewan komisaris terhadap kinerja perusahaan, serta peran latar belakang etnis komisaris utama sebagai variabel moderasi. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur di Indonesia yang terdaftar sebagai perusahaan publik antara tahun 2017 dan 2021, dengan total 783 observasi. Kinerja perusahaan diukur menggunakan Tobin檚 Q dan market-to-book value (MBV), sedangkan keberagaman gender dewan komisaris diukur dengan indeks Blau, persentase perempuan dalam dewan, serta jumlah anggota perempuan di dewan komisaris.

Penelitian ini menemukan bahwa keberagaman gender di dewan komisaris berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan Tobin檚 Q, namun tidak memberikan dampak signifikan pada market-to-book value (MBV). Keberagaman gender di dewan komisaris memperkaya perspektif dan pengalaman, yang dapat meningkatkan efektivitas pengawasan dan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Penelitian ini mendukung teori agensi dan teori ketergantungan sumber daya, yang menyatakan bahwa keberagaman gender dapat memperkuat struktur pengawasan melalui beragam pandangan dan pendekatan dari anggota dewan.

Namun, hasil yang berbeda ditemukan ketika kinerja perusahaan diukur dengan MBV, di mana keberagaman gender tidak memiliki dampak signifikan. Hal ini mungkin disebabkan oleh fluktuasi besar dalam nilai MBV yang mencerminkan volatilitas industri manufaktur, terutama pada masa pandemi COVID-19. Perusahaan-perusahaan di sektor tekstil, otomotif, elektronik, dan minyak dan gas cenderung memiliki margin keuntungan yang tipis, yang membuat nilai pasar lebih rendah dari nilai buku ekuitas.

Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa latar belakang etnis komisaris utama memperkuat pengaruh keberagaman gender dewan komisaris terhadap kinerja perusahaan. Misalnya, komisaris utama dengan latar belakang etnis dari sistem patriarkal seperti Jawa dan Batak memperlihatkan gaya kepemimpinan yang otoritatif, bijaksana, dan partisipatif, yang memperkuat pengaruh keberagaman gender terhadap kinerja perusahaan. Etnis komisaris utama dari sistem matriarkal, seperti Minangkabau, juga memberikan pengaruh serupa, meskipun jumlahnya lebih kecil dalam sampel penelitian ini.

Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan keberagaman gender dan etnis dalam pemilihan anggota dewan komisaris untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa jumlah minimum perempuan yang dibutuhkan untuk meningkatkan efektivitas keputusan dewan adalah dua orang, mendukung teori critical mass. Perusahaan yang memperhatikan komposisi gender dan etnis dalam dewan komisaris cenderung memiliki pengawasan yang lebih baik dan kinerja yang lebih unggul.

Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada literatur manajemen dan tata kelola perusahaan, serta memberikan implikasi praktis bagi perusahaan publik di Indonesia untuk mempertimbangkan keberagaman dalam struktur dewan komisaris.ik dan transparansi yang lebih tinggi.

PENULIS : Nanik Ermawati & Noorlailie Soewarno
JURNAL : Cogent Business & Management

AKSES CEPAT