51动漫

51动漫 Official Website

Pengaruh Kepribadian Ekspatriat dan Kompetensi Lintas Budaya terhadap Modal Sosial, Cross-cultural Adjustment, dan Kinerja

Foto by Liputan6

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh kepribadian dan kompetensi ekspatriat pada modal sosial, penyesuaian lintas budaya (cross-cultural adjustment-CCA) dan kinerja ekspatriat. Memahami hal tersebut penting, khususnya bagi para manajer di perusahaan multinasional, karena mereka harus mengirim karyawannya ke negara lain untuk memenuhi tujuan organisasi mereka. Penelitian terkait ekspatriat telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu, namun celah tetap ada. Dalam penelitian ini akan dibahas hubungan antara karakteristik ekspatriat dan keberhasilan ekspatriat, dimana kebanyakan penelitian sebelumnya hanya membahas ciri-ciri kepribadian “Big-five personality” (Al Doghan dkk., 2019; Bhatti dkk., 2019; Takeuchi, 2010).

Ang et al. (2006) berpendapat bahwa sifat-sifat: stabilitas emosional, kesadaran, keramahan, ekstraversi, dan keterbukaan terhadap pengalaman, bisa meningkatkan kemampuan beradaptasi manusia. Ekspatriat yang memiliki kunci ciri-ciri kepribadian akan beradaptasi lebih efektif daripada yang tidak memiliki karakteristik kepribadian yang sesuai untuk peran yang sama. Selain itu, peran intelijen dalam memprediksi kinerja juga telah dieksplorasi secara ekstensif. Ekspatriat yang kompeten dalam kecerdasan emosional (EQ) dapat mendorong mereka untuk berkinerja lebih baik dan mengarahkan emosi mereka ke arah yang positif dan produktif (Alon et al., 2016; Alshaibani & Bakir, 2017; Law et al., 2004). Wu dan Bodigerel-Koehler (2013) juga menegaskan bahwa EQ mungkin lebih mungkin lebih asertif dalam memfasilitasi penyesuaian ekspatriat. Jika ekspatriat tidak bisa belajar lintas budaya selama proses pembelajaran, maka adaptasi mereka mungkin terbatas.

Perspektif kedua dari kesuksesan ekspatriat adalah kompetensi lintas-budaya, yang terdiri dari kecerdasan budaya (CQ), kemampuan beradaptasi dengan budaya (CA), serta rasa empati terhadap bidaya (EQ) (Ang, 2003). Ketika individu memiliki kemampuan lintas-budaya yang baik, maka dia akan mampu dengan mudah beradaptasi dengan budaya yang baru di negara tujuan (van der Meulen et al, 2019). Persepktif ketiga adalah modal sosial. Menurut Takeuchi et al (2009) dan Adler dan Kwon (2002), modal sosial akan menjaga dan mengembangkan hubungan yang saling menguntukan diantara individu, tidak hanya dalam beradaptasi dengan lingkungan kerjanya tetapi juga untuk mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan. Dalam hal ini, Leader-Member Exchange, Perceived Organizational Support, dan OCB adalah faktor yang sangat berpengaruh dalam modal sosial (Lee & Qomariyah, 2015; Tran et al, 2020).

Berdasarkan penjelasan tersebut, banyak penelitian terdahulu yang membahas CCA dan kesuksesan ekspatriat secara terpisah. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini akan membahas pengaruh mediasi yang mungkin ada dari ketiga persepktif di atas, diantaranya persepktif: (1) karakteristik personal, (2) kompetensi lintas-budaya, dan (3) modal sosial. Penelitian ini juga mengadopsi social learning theory (Black & Mendenhall, 1990) dan social capital theory (Coleman, 1990) dalam membangun hipotesis serta mendasari penjelasan bagaimana berbagai faktor dari ekspatriat dapat memengaruhi kompetensi ekspatriat dan kinerja mereka. Berdasarkan teori-teori tersebut, beberapa hipotesis telah disusun sebagai berikut: (1) kepribadian ekspatriat berpengaruh positif pada kompetensi lintas-budaya, (2) kepribadian ekspatriat berpengaruh positif pada modal sosial, (3) kepribadian ekspatriat berpengaruh positif pada CCA, (4) komptensi lintas-budaya berpengaruh positif pada modal sosial, (5) kompetensi lintas-budaya berpengaruh positif pada CCA, (6) modal sosial ekspatriat berpengaruh positif pada CCA, dan terakhir (7) CCA berpengaruh positif pada kinerja ekspatriat.

Penelitian ini menggunakan survei dalam metodologi penlitiannya dengan mengadopsi pertanyaan kuesioner dari penelitian terdahulu. 600 kuesioner disebarkan kepada ekspatriat yang bekerja di perusahaan multinasional di Taiwan. Dari kuesioner yang tersebar, terdapat 244 kuesioner yang valid untuk analisis selanjutnya. Repsponden terdiri dari 177 laki-laki dan 67 wanita dengan sebagian besar berpendidikan pasca sarjana (S2). Dari hasil analisis, ditemukan bahwa semua hipotesis terdukung, yang ditunjukkan dengan hasil statistic semua hipotesis berpengaruh positif dengan signifikansi kurang dari 0.001.

Temuan penelitian ini berkontribusi pada literatur ekspatriat mengenai pentingnya pemahaman holistic tentang ekspatriat, tidak hanya faktor internal yang dapat mempengaruhi kinerja ekspatriat, tetapi juga faktor eksternal. Oleh karena itu, masalah-masalah terabaikan yang mungkin terjadi ketika penelitian sebelumnya membahasnya dapat diselesaikan. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan berbagai latar belakang teori untuk mengatasi masalah penelitian yang dibahas di sini. Terkait dengan implikasi bagi manajerial, manajer Sumber Daya Manusia (SDM) MNC dapat mempertimbangkan untuk memasukkan kepribadian proaktif sebagai bagian dari item penyaringan dalam pemilihan ekspatriat. Perusahaan juga harus mengembangkan program pelatihan untuk mempromosikan karyawan kantor pusat dan karyawan luar negeri untuk meningkatkan CQ manajer dan kompetensi lintas budaya. Program pelatihan pra-keberangkatan dan pasca-kedatangan juga harus dikembangkan untuk ekspatriat untuk meminimalkan kejutan budaya di lingkungan tuan rumah.

Meski hasil dari penelitian ini bermnafaat baik bagi literatur maupun manajerial, ada keterbatasan yang tersimpan di dalamnya. Penelitian ini dilakukan secara non-random sebagai sampling teknik. Hal ini dapat menyebabkan responden yang dipilih tidak dapat mewakili seluruh populasi dan dapat menimbulkan bias. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode random sampling untuk mengatasi kemungkinan masalah ini.

Penulis: Alfiyatul Qomariyah, Ph.D

Jurnal:

AKSES CEPAT