Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara strategi bisnis prospektor (prospector business strategy/PBS) dan kinerja keuangan perusahaan di Indonesia. Penelitian ini juga mengeksplorasi bagaimana keragaman gender dalam dewan direksi dapat memoderasi hubungan antara PBS dan kinerja keuangan. Dengan fokus pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2017 hingga 2021, penelitian ini melibatkan 970 observasi sebagai sampel.
PBS merupakan salah satu dari empat tipe strategi bisnis yang dikategorikan oleh Miles et al. (1978), di mana perusahaan dengan strategi ini cenderung lebih agresif dalam mengejar inovasi, memasuki pasar baru, dan meningkatkan pangsa pasar. Strategi ini diyakini dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan, terutama dalam lingkungan bisnis yang dinamis seperti di Indonesia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perusahaan yang mengadopsi strategi prospektor memiliki pertumbuhan penjualan dan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan strategi lain seperti defender, analyzer, dan reactor.
Keragaman gender dalam dewan direksi dianggap memiliki dampak yang signifikan terhadap pengambilan keputusan strategis dan kinerja perusahaan. Dalam beberapa studi, keragaman gender dinilai membawa perspektif yang lebih beragam, meningkatkan pemecahan masalah, dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih seimbang. Namun, penelitian ini menyoroti bahwa keberagaman gender juga dapat memperlambat proses pengambilan keputusan, terutama dalam strategi yang membutuhkan tindakan cepat dan pengambilan risiko seperti PBS.
Penelitian ini menggunakan metode regresi ordinary least squares (OLS) untuk menganalisis data yang diperoleh. Selain itu, peneliti juga melakukan uji robustitas dengan metode coarsened exact matching (CEM) dan model Heckman dua tahap untuk mengurangi bias. Penelitian ini juga menggunakan indeks Blau untuk mengukur keragaman gender dalam dewan direksi.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa PBS memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Namun, efek positif dari PBS terhadap kinerja keuangan ini melemah ketika keragaman gender dalam dewan direksi lebih tinggi. Temuan ini didukung oleh analisis tambahan yang menunjukkan bahwa di perusahaan dengan efisiensi tinggi maupun rendah, PBS tetap memengaruhi kinerja keuangan, tetapi keragaman gender melemahkan hubungan tersebut.
Keragaman gender dalam dewan direksi dapat memberikan tantangan dalam implementasi strategi PBS, terutama karena wanita cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil risiko, yang dapat memperlambat keputusan inovasi dan investasi agresif. Dalam konteks strategi prospektor yang membutuhkan pengambilan keputusan cepat dan investasi berisiko tinggi, keberagaman gender dapat mengurangi agresivitas strategi tersebut dan pada akhirnya menghambat kinerja keuangan perusahaan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun PBS memiliki dampak positif pada kinerja keuangan, keberagaman gender dalam dewan direksi dapat mengurangi dampak tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa komposisi gender dalam dewan direksi perlu disesuaikan dengan tipe strategi bisnis yang diterapkan oleh perusahaan. Penelitian ini juga memberikan kontribusi pada literatur terkait dengan menunjukkan pentingnya mengkombinasikan strategi bisnis dan keragaman sumber daya manusia untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Penelitian ini memberikan wawasan baru bagi eksekutif perusahaan di Indonesia mengenai pentingnya mempertimbangkan keragaman gender dalam pengambilan keputusan strategis untuk memaksimalkan kinerja keuangan.
Penulis: Prof. Dr. Noorlailie Soewarno, S.E., MBA., Ak.
Link:
Baca juga: Ancaman Berbahaya Bagi Diskursus Kesetaraan Gender di Asia Pasifik





