Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan salah satu gangguan neuro-developmental yang mengganggu interaksi sosial dan komunikasi sosial disertai pola perilaku yang terbatas dan repetitif, banyak anak dengan autisme memiliki keterlambatan kognitif berdasarkan DSM-5. Angka kejadian Autisme (ASD) meningkat di seluruh dunia. Diperkirakan 1 dari 100 anak didiagnosis ASD di seluruh dunia, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan 1 diantara 88 anak. Prevalensi ASD di seluruh dunia Adalah 0,6%, di Asia, Amerika, Eropa, Afrika, dan Australia masing-masing adalah 0,4%, 1%, 0,5%, 1%, dan 1,7%. Di Indonesia saat ini belum ada angka pasti jumlah anak dengan ASD. Berdasarkan data Badan Penelitian Statistik (BPS) tahun 2010 diperkirakan jumlah anak dengan ASD usia 5-19 tahun sebesar 112 ribu. Anak-anak dengan ASD mengalami gangguan yang signifikan dalam kemampuan mereka untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan orang lain, sedangkan penyebab ASD masih belum diketahui, banyak faktor lingkungan dan genetik telah dikaitkan dengan penyebab ASD. Penelitian pada model hewan saat ini sedang berlangsung dengan tujuan memodifikasi faktor risiko genetik, untuk membantu mencegah peningkatan kasus ASD di masa mendatang. Mekanisme yang memengaruhi perkembangan ASD juga masih belum jelas, intervensi dini yang dimulai sebelum usia 3 tahun memiliki dampak positif yang lebih kuat dibandingkan yang dimulai setelah usia 5 tahun. Oleh karena itu, diagnosis dini ASD sangat penting. Pertanda biomarker ASD berguna dalam evaluasi klinis, proses patogenik, penilaian hasil pengobatan dan intervensi, tetapi sampai saat ini tidak ada satu pun biomarker, pemeriksaan radiologi (neuroimaging), atau mutasi genetik yang cukup untuk diagnosis ASD yang akurat. Dalam beberapa tahun terakhir, inflamasi dan stres oksidatif telah dikaitkan dalam patogenesis ASD, dimana stres oksidatif terlibat dalam patogenesis ASD, baik secara langsung maupun melalui interaksinya dengan inflamasi dan disfungsi mitokondria. Kami meneliti efek pemberian asam valproat, yang digunakan untuk membuat Autisme model hewan terhadap koordinasi motorik dan fungsi sensorik pada mencit sebagai model hewan Autisme. Mencit dikawinkan dan ditunggu sampai bunting, dibagi menjadi dua kelompok, kontrol dan eksperimen. Pada hari ke-12,5 embrio, kelompok kontrol disuntik secara intraperitoneal dengan larutan garam normal, dan kelompok eksperimen disuntik secara intraperitoneal dengan asam valproat 600 mg/kg berat badan. Bayi mencit yang lahir dilakukan tes perilaku gejala autisme, koordinasi motorik, dan respons nyeri. Didapatkan perbedaan yang bermakna pada uji geotropism negatif dan uji hot plate antara kelompok kontrol dan eksperimen, pada kelompok eksperimen yang disuntik asam valproat secara intraperitoneal membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri pada bidang miring sebagai bagian dari keterampilan koordinasi motorik. Kelompok eksperimen juga menunjukkan waktu respons yang lebih lama terhadap rangsangan panas di atas hot plate, yang menunjukkan respons abnormal terhadap rangsangan nyeri. Kesimpulan, hewan mencit yang disuntik asam valproat secara intraperitoneal menunjukkan gejala autisme, terutama gangguan koordinasi motorik dan respons terhadap rangsangan nyeri. Hasil penelitian ini diharapkan menambah pengetahuan tentang Autisme.
Disarikan dari artikel dengan judul: 淓ffect of valproic acid administration on motor coordination and sensory function in Mus musculus as an autism animal model yang diterbitkan bulan September 2025 di Open Veterinary Journal, Vol. 15 No. 9, Halaman: 4242-7. Link:
Penulis:
Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Scopus ID 59912681400
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran 51动漫





