Uveitis merupakan peradangan pada traktus uvea yang menjadi salah satu penyebab utama kebutaan. Bentuk paling umum dari uveitis adalah uveitis anterior akut dimana lokasi peradangan primer ditemukan di bilik mata depan akibat inflamasi dari iris dan badan siliar. Terapi utama yang direkomendasikan untuk uveitis hingga saat ini adalah kortikosteroid baik secara topikal maupun sistemik. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat menimbulkan berbagai macam efek samping lokal dan sistemik seperti katarak, glaukoma, hipertensi, osteoporosis dan diabetes mellitus. Resveratrol merupakan komponen polifenol yang ditemukan dari buah anggur, mulberi dan kacang. Saat ini banyak penelitian mengenai efek resveratrol karena memiliki efek antioksidan, antikarsinogenik, kardioprotektif dan anti inflamasi. Beberapa penelitian telah menguji peran resveratrol pada berbagai penyakit mata seperti glaukoma, Age-Related Macular Degeneration dan retinopati diabetik.
Pada penelitian ini sejumlah 30 tikus dilakukan induksi uveitis menggunakan injeksi lipopolisakarida bakteri E. coli secara subkutan pada telapak kaki dengan dosis 200 mg LPS dalam 100 ml PBS. Empat jam setelah induksi, dilakukan pemeriksaan segmen anterior untuk melihat tanda-tanda inflamasi kemudian dibagi ke dalam 5 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (K1), kontrol positif dengan pemberian deksametason subkonjungtiva (K2), kelompok pemberian resveratrol subkonjungtiva dosis 200, 400 dan 800 mM (K3, K4 dan K5). Setelah
24 jam dilakukan induksi uveitis, dilakukan enukleasi untuk dilanjutkan pemeriksaan pengecatan HE dan imunohistokimia untuk melihat jumlah sel limfosit dan ekspresi TNF-a.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi TNF-a pada kelompok yang diberikan resveratrol subkonjungtiva dengan dosis 200 mM lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Pada kelompok resveratrol dosis 400 mM dan 800 mM (K4 dan K5) didapatkan ekspresi TNF-a lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol negatif namun tidak berbeda secara signifikan. Pemeriksaan jumlah sel limfosit menunjukkan jumlah sel limfosit pada kelompok resveratrol di semua dosis lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol negatif dan kontrol positif. Hal ini menunjukkan resveratrol dapat menurunkan respon inflamasi TNF-a. Terjadinya peningkatan jumlah sel limfosit dapat dikaitkan dengan efek anti-apoptotik oleh resveratrol dan waktu pengamatan yang dilakukan pada 24 jam setelah induksi. Penelitian lanjutan masih perlu dilakukan untuk mengevaluasi inflamasi pada jaringan selain badan siliar dan pada waktu pengamatan yang lebih lama untuk menilai efek pada limfosit.
Penulis: Fadia G. Danniswara1,2, Muhammad Firmansjah1,2, Evelyn Komaratih1,2*, Chrismawan Ardianto3, Agung D. W. Widodo4, Ridholia5, Wimbo Sasono1,2, Yulia Primitasari1,2
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: Judul Jurnal:
Effect of Resveratrol Administration on Tumor Necrosis Factor- Alpha Expression and Lymphocyte Cell Counts in Endotoxin-Induced Uveitis
1Department of Ophthalmology, Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, East Java 60286, Indonesia
2Department of Ophthalmology, Faculty of Medicine “ 51¶¯Âþ, Surabaya, East Java 60286, Indonesia
3Faculty of Pharmacy, 51¶¯Âþ, Surabaya, Indonesia
4Department of Medical Microbiology, Faculty of Medicine, 51¶¯Âþ, Surabaya, Indonesia
5Department of Anatomical Pathology, Faculty of Medicine, 51¶¯Âþ, Surabaya,
Indonesia





