51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pengaruh Penggunaan Telewicara Selama Pandemi COVID-19 bagi Anak Penyandang Autis di Indonesia

Foto by Pontianak Post

Pandemi Coronavirus Disease 19 (COVID-19) memberikan dampak langsung dalam bidang pendidikan yang menjadikan pembelajaran daring sebagai solusi pembelajaran dan tren baru di masa pandemi. Dalam pelaksanaannya, terdapat banyak kendala dalam pembelajaran daring yang tidak hanya berdampak bagi pendidikan reguler, tetapi juga bagi pendidikan inklusif atau pendidikan khusus. Selain itu, permasalahan ini menyebabkan terhambatnya pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) keempat yakni memastikan pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil serta mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua melalui agenda pendidikan yang holistik, aspiratif, dan sistematis.

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan khusus ditujukan bagi peserta didik yang kesulitan dalam melakukan proses pembelajaran karena kelainan mental, emosional, fisik, dan sosial. Pendidikan khusus bukan hanya berupa pendidikan formal, melainkan juga dapat berupa pendidikan non formal seperti melalui terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus anak. Salah satu kota di Indonesia yang memiliki perhatian tinggi terhadap penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus terutama penyandang autis adalah Kota Blitar. Kota Blitar memiliki Pusat Layanan Autis (PLA) yang menjadi tempat khusus untuk pembinaan anak penyandang autis sejak 2015 dan saat ini menjadi PLA percontohan di Indonesia yang menerapkan standar nasional dan internasional. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Pasal 4 Nomor 157 Tahun 2014, anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi 12 kelompok, salah satunya adalah autis. Jumlah anak penyandang autis di Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan hingga 6.900 anak per tahun. Umumnya, anak autis mengalami kelemahan dalam kemampuan berinteraksi secara sosial khususnya dalam berbicara dan berbahasa sehingga diperlukan terapi khusus untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk melakukan pembelajaran daring bagi anak penyandang autis adalah melalui metode terapi wicara jarak jauh atau telewicara yang telah terlebih dahulu diterapkan di Australia. Hal menarik dalam metode telewicara dibandingkan metode pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus sebelumnya adalah menggunakan media yang menghubungkan antara anak dengan terapisnya, seperti melalui telepon dan video teleconference.

Penelitian ini mengidentifikasi efektivitas metode telewicara sebagai metode terapi wicara jarak jauh dengan harapan dapat diterapkan di klinik maupun sekolah-sekolah inklusif di wilayah lain. Dalam hal ini, metode yang digunakan adalah uji peringkat bertanda Wilcoxon yang diterapkan pada data kemampuan berbicara anak penyandang autis sebelum dan setelah menerapkan telewicara. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder terkait perkembangan kemampuan berbicara anak penyandang autis di Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Blitar. Data tersebut diambil sebelum dan sesudah anak penyandang autis mengikuti program telewicara dengan sampel sebanyak 16 anak yang didasarkan pada rumus Slovin dengan toleransi error sebesar 5%. Beberapa kegiatan yang menjadi pengukuran kemampuan berbicara anak penyandang autis diantaranya seperti imitasi gerak dan pemahaman ritme nada dengan lagu anak-anak, pemahaman bahasa dengan media puzzle, pemahaman gambar dengan respon tunjuk, dan beberapa aspek penilaian lainnya.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dari 16 responden, terdapat 13 responden atau 81.25% yang berjenis kelamin laki-laki dan 3 responden atau 18.75% berjenis kelamin perempuan dengan rentang usia 5 “ 12 tahun. Statistik deskriptif sampel menunjukkan rata-rata nilai sebelum dilakukannya telewicara kurang dari rata-rata nilai sesudah dilakukannya telewicara. Selain itu, nilai maksimum sesudah dilakukannya telewicara lebih tinggi daripada nilai maksimum sebelum dilakukannya telewicara. Untuk mengetahui keberhasilan implementasi program tersebut berdasarkan kenaikan nilai tes siswa, dilakukan uji peringkat bertanda Wilcoxon terhadap hasil tes 16 siswa di PLA Blitar sebelum dan setelah dilakukannya telewicara, kemudian didapatkan hasil yang signifikan untuk perbedaan rata-rata nilai sebelum dan sesudah dilakukannya telewicara. Artinya, implementasi program telewicara dapat dikatakan berhasil untuk meningkatkan nilai siswa dan efektif digunakan untuk menunjang terapi wicara jarak jauh di masa pandemi.

Siswa yang telah mengikuti program telewicara menunjukan peningkatan dalam nilai perkembangan. Hal tersebut dapat disebabkan karena terbentuknya komunikasi antara orang tua dan terapis yang lebih proaktif. Selain itu, peran orang tua dalam mendampingi anak autis selama telewicara menjadi salah satu kunci keberhasilan karena proses terapi harus dilakukan secara rutin dan terstruktur. Dengan demikian, orang tua juga memerlukan pelatihan dan ilmu parenting yang kuat agar keberhasilan program telewicara bagi anak penyandang autis dapat terwujud. Oleh karena itu, program ini potensial untuk diterapkan khususnya saat pandemi COVID-19 karena anak autis lebih rentan dalam hal kesehatan sehingga akan lebih aman jika melakukan terapi dari rumah. Akan tetapi, penerapan ini perlu diimbangi adanya tenaga ahli dan peralatan penunjang agar output yang dihasilkan dapat maksimal. Melalui telewicara, terapis tetap dapat memberikan pelayanan prima terhadap siswa meskipun terhalang kegiatan terapi secara tatap muka akibat pandemi COVID-19.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada artikel ilmiah berikut:

The effectiveness of speech pathology telepractice during COVID-19 pandemic for Autistic children in Indonesia published in AIP Conference Proceedings 2554, 030012 (2023).

Authors: M. Fariz Fadillah Mardianto, Netha Aliffia, Thifalia Nurli Al-Kahfi, Putri Fardha Asa Oktavia Hans, dan Ayu Putri Pamungkas Muti dengan link berikut: https://doi.org/10.1063/5.0104036

AKSES CEPAT