51动漫

51动漫 Official Website

Pemetaan Kabupaten dan Kota di Jawa Timur Berdasarkan Potensi Pangan Menggunakan Metode K-Means

Foto by DataRiau

Pandemi Coronavirus Disease-19 (COVID-19) telah menyebar luas di seluruh wilayah Indonesia dan mempengaruhi banyak hal diantaranya adalah ketahanan pangan. Berdasarkan Food Agriculture Organization (FAO) dan International Food Policy Research Institute (IFPRI) pandemi COVID-19 dapat memunculkan krisis pangan baru yang mempengaruhi ketahanan pangan suatu negara, terutama negara miskin dan berkembang.  Salah satu negara berkembang yang sektor ketahanan pangannya terdampak pandemi COVID-19 adalah Indonesia. Di Indonesia, untuk meningkatkan ketahanan pangan pada masa pandemi COVID-19, terdapat salah satu program pemerintah yang terkait gerakan pangan beragam, bergizi seimbang, dan aman di Indonesia yang dinamakan B2SA. B2SA adalah salah satu pengimplementasian konsumsi pangan dalam keluarga yang dilakukan melalui pemilihan bahan pangan dan menu. B2SA dikatakan memiliki peranan penting dalam memperbaiki gizi karena dapat menjaga berat badan, meningkatkan imun tubuh, serta asupan tubuh secara merata. Jika pola makan B2SA diterapkan, maka potensi seseorang terpapar virus berkurang.

Tujuan dari penelitian ini diantaranya untuk mengelompokkan wilayah di Jawa Timur berdasarkan potensi pangan untuk penyusunan menu sesuai standar B2SA dan membandingkan pengelompokan yang optimal berdasarkan nilai koefisien determinasi untuk membantu pihak terkait dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan gerakan pola makan B2SA. Kebaruan yang membedakan penelitian ini dari penelitian lain adalah penggunaan analisis kluster metode K-Means untuk pemetaan kabupaten dan kota di Jawa Timur berdasarkan potensi pangan menggunakan metode K-Means untuk menunjang gerakan B2SA.

Penelitian ini menggunakan metode K-means untuk mendukung gerakan pola makan B2SA agar dapat dijadikan pertimbangan dalam meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia. Berdasarkan penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi mengenai diversifikasi pangan di Indonesia. Data yang digunakan adalah data potensi desa dari Badan Pusat Statistik yang didukung dengan data hasil komoditas pangan asal Jawa Timur Dalam Angka Tahun 2020. Data yang diperoleh adalah data dari 29 kabupaten dan 9 kota di Provinsi Jawa Timur tahun 2020. Variabel dalam penelitian ini adalah 68 komoditas pangan dari 29 kabupaten dan 9 kota di Provinsi Jawa Timur tahun 2020 yang diklasifikasikan menjadi 4 kategori, yaitu makanan pokok, lauk pauk, buah-buahan, dan sayuran.

Berdasarkan hasil analisis, jenis makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah memiliki angka icd terkecil pada jumlah cluster II yang memberikan hasil optimal dengan koefisien determinasi secara berturut-turut didapatkan 47.49%, 90.32%, 95.22%, dan 58.45%. Potensi makanan di setiap kabupaten dan kota di Jawa Timur terbagi menjadi 2 klaster. Artinya, terdapat perbedaan potensi produksi pangan antara kabupaten dan kota di Jawa Timur yang secara garis besar membentuk 2 tingkatan dengan karakteristik yang berbeda dari setiap potensi jenis makanan. Dari hasil yang diperoleh dapat dirumuskan beberapa rekomendasi untuk pemerintah di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional untuk mendukung gerakan pola makan B2SA dan memaksimalkan potensi pangan dari masing-masing wilayah. Seperti misalnya Kabupaten Lamongan dapat menjadi pusat eksportir beras dan mengembangkan beberapa olahan pangan dari beras, sementara Kabupaten Tuban dapat menjadi pusat eksportir jagung dan mengembangkan beberapa olahan pangan dari jagung. Potensi ini didukung dengan lokasi dari Kabupaten Lamongan dan Tuban yang memiliki lahan pertanian dan luas dan subur. Kemudian, Kabupaten Gresik dapat menjadi pusat eksportir ikan bandeng dan mengembangkan beberapa olahan pangan dari ikan bandeng karena memiliki kekayaan yang melimpah dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Jawa Timur. Untuk kekayaan laut, Kabupaten Sumenep dapat menjadi pusat eksportir dan produksi pengolahan rumput laut. Hal ini disebabkan karena lokasi Kabupaten Sumenep sebagian besar berada di perbatasan dengan laut. Sementara itu, untuk potensi hasil buah-buahan, Malang dapat menjadi kontributor besar di Jawa Timur khususnya dalam produksi pisang.

Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah setiap kabupaten dan kota di Jawa Timur memiliki berbagai potensi bahan makanan yang juga didukung dengan kondisi wilayah. Melalui metode K-means untuk menentukan jumlah klaster optimal menggunakan nilai icd rate terkecil atau koefisien determinasi terbesar, didapatkan dua klaster potensi bahan pangan. Jumlah anggota dari masing-masing klaster berbeda berdasarkan potensi produksi bahan pangan di masing-masing kabupaten atau kota di jawa Timur. Pengelompokan wilayah di Jawa Timur berdasarkan potensi pangan ini berguna sebagai diversifikasi dan pengoptimalan menu menurut standar B2SA sehingga stabilitas ketahanan pangan di Indonesia dapat tercapai.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada artikel ilmiah berikut:

Mapping Regencies and Cities in East Java Related Food Potential Using the K-Means Method published in AIP Conference Proceedings 2554, 030013 (2023).

Authors: M. Fariz Fadillah Mardianto, Suliyanto, Faried Effendy, Ayuning Dwis Cahyasari, Chaerobby Fakhri Fauzaan Purwoko, Netha Allifia, Antonio Nikolas Manuel Bonar Simamora dengan link berikut: https://doi.org/10.1063/5.0103807

AKSES CEPAT