Stroke iskemik merupakan kegawatdaruratan neurologis yang menyebabkan tingginya angka kematian dan kecacatan. Biaya yang dikeluarkan akibat penyakit stroke di dunia cukup besar. Maka saat ini perlu adanya manajemen stroke yang lebih baik. Penatalaksanaan terapi stroke saat ini tidak hanya menyelamatkan inti sel otak yang rusak (core), namun juga menyelamatkan area sekitar inti infark (penumbra). Penelitian menunjukkan adanya peningkatan respon berupa mediator inflamasi jika terjadi gangguan pada saraf dan otak. Pada stroke, selain proses inflamasi, juga terjadi pelepasan neurotransmitter glutamat pada daerah inti dan penumbra pada stroke iskemik. Penelitian menunjukkan bahwa kadar glutamat meningkat dalam plasma darah dan cairan serebrospinal pada kondisi iskemik. Kadar glutamat yang tinggi dalam waktu 24 jam mempunyai hubungan dengan perburukan klinis neurologis.
Secara anatomis vaskular, stroke iskemik dapat terjadi akibat gangguan atau oklusi pada arteri karotis. Arteri karotis adalah arteri yang memberikan vaskularisasi luas ke daerah intrakranial selain ekstrakranial. Arteri karotis memberikan vaskularisasi dari daerah kortikal ke subkorteks serebral yang berperan dalam fungsi motorik, sensorik, bahasa, memori dan lainnya. Tiamin atau vitamin B1 merupakan vitamin yang erat kaitannya dengan fungsi fisiologis manusia seperti lemak, glukosa dan metabolisme asam amino. Pemberian tiamin juga memberikan perbaikan klinis pada kasus penyakit jantung yang juga merupakan salah satu faktor risiko stroke. Namun, pengaruh tiamin terhadap glutamat pada stroke iskemik masih belum diketahui.
Penelitian ini merupakan penelitian True Experimental dengan desain penelitian menggunakan desain berupa randomized posttest only control group design. Unit percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus jantan (Rattus novergicus) strain Wistar, berwarna putih, berumur 4 bulan dengan berat 140-200 gram. Kemudian dilakukan model stroke dengan menyumbat arteri karotis kiri. Kemudian populasinya diacak dengan jumlah sampel sebanyak 32 orang. Sepuluh dibagi menjadi 4 kelompok: kontrol, tiamin dosis 100 mg/kg/hari, 200 mg/kg/hari dan 400 mg/kg/hari.
Pemeriksaan kadar glutamat serum dilakukan pada hari ke 7 dengan bahan serum darah, menggunakan reagen ELISA Reader, Rat GLUD1/Glutamat ELISA Kit, metode yang digunakan adalah sandwich ELISA, satuan mg/mL. Kadar glutamat diukur dengan Rat Glutamat ELISA Kit.
Penelitian menggunakan hewan coba Rattus norvegicus dilakukan di Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 pada bulan Oktober 2022. Kadar glutamat diperiksa di Fakultas Sains dan Teknologi 51动漫, Surabaya, Indonesia.
Data rerata kadar Glutamat disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel. Sepuluh data diuji normalitasnya dengan uji Kolmogrov-Smirnov atau Shapiro Wilk dan homogenitas data dengan uji Levene. Apabila sebaran data normal dan homogen, dilanjutkan dengan uji One-Way Anova. Jika hasil uji One-Way Anova p<0,05 dilanjutkan uji post hoc dengan uji Tukey.
Hasil pemeriksaan Glutamat serum pada hari ke 7 menunjukkan pelepasan Glutamat dalam serum darah pada model stroke iskemik oklusi arteri unilateral. Hasil pemeriksaan kadar Glutamat serum menunjukkan bahwa kelompok P3 yang mendapat Tiamine dosis 400mg/kg mengalami perbedaan kadar Glutamat serum yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol (K), kelompok yang diberi Tiamine 100 mg/kg (P1) , dan 200 mg/hari (P2).
Pemberian tiamin dengan dosis 100mg/kg memberikan penurunan kadar Glutamat serum dibandingkan kontrol, namun tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Pemberian tiamin dengan dosis 200/kg dan 400mg/kg memberikan penurunan kadar glutamat serum.
Maka dari itu dapat disebutkan bahwa Stroke merupakan kelainan pembuluh darah yang terjadi di otak. Selama perjalanan menuju otak, gangguan pada pembuluh darah di daerah leher dapat menyebabkan kerusakan intrakranial dan ekstrakranial. Otak sangat sensitif terhadap kondisi pasokan oksigen dan glukosa yang tidak mencukupi. Bila terjadi proses iskemik maka terjadi kondisi kekurangan oksigen dan glukosa, sehingga dalam hitungan menit sel neuron dan sel non neuron akan terdepolarisasi dan terjadi aktivasi saluran kalsium. Depolarisasi juga akan melepaskan neurotransmiter rangsang dari terminal prasinaps ke celah sinapsis. Pertama, glutamat yang dilepaskan akan berikatan dengan reseptor ionotropik N-metil-d-aspartat (NMDA) dan 伪-amino-3-hidroksi-5-metil-4-isoazol propionat asam (AMPA). Eksitotoksisitas akibat glutamat merupakan kontributor utama kerusakan sel saraf.
Untuk model stroke hewan ini, kami menggunakan oklusi arteri karotis unilateral seperti penelitian lainnya. Pada penelitian ini tidak terjadi kematian pada kelompok kontrol dan perlakuan. Penelitian menunjukkan bahwa kadar glutamat meningkat dalam plasma darah dan cairan serebrospinal selama kondisi iskemik. Peningkatan kadar glutamat serum pada model hewan stroke menunjukkan bahwa neurotransmitter glutamat masih terdapat dalam serum hingga hari ini. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa glutamat pada stroke akan berada dalam serum pada fase stroke akut. Pada sampel yang mendapat tiamin dengan dosis 400mg/kg menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dibandingkan tanpa pemberian tiamin terhadap penurunan rata-rata glutamat serum. Hal ini seperti penelitian lain yang dilakukan pada model penyakit otak lainnya yang menyatakan bahwa tiamin mengurangi kadar glutamat.
Sehingga dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Tiamin dosis sedang 200mg/kg dan dosis tinggi 400mg/kg dapat dipertimbangkan sebagai terapi pada stroke iskemik model oklusi arteri karotis unilateral karena terbukti menurunkan kadar Glutamat secara signifikan. dan dosis tinggi menunjukkan perbedaan yang lebih signifikan. Dari analisa statistik, penggunaan dosis 400mg/kg mempunyai nilai signifikansi terkecil dan selisih rata-rata terbesar.
Penulis: Dr. Muhammad Hamdan, dr. Sp.S(K)
Jurnal: Effect of Thiamine on Serum Glutamate in Ischemic Stroke Animal Model





