51动漫

51动漫 Official Website

Pengaruh Variasi Sumber Karbon Terhadap Morfologi, Stres Fisiologis, Biomassa, Kadar Senyawa Fenolik dan Saponin Akar Adventif Talinum paniculatum Gaertn

Talinum paniculatum Gaertn

Di Indonesia, penggunaan bahan alam seperti tumbuhan sebagai bahan baku obat tradisional sudah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad tahun lalu. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, memiliki kurang lebih 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies diantaranya termasuk tumbuhan berkhasiat. Talinum paniculatum memiliki senyawa metabolit sekunder utama pada organ akar yaitu saponin. Saponin  dapat digunakan sebagai obat anti inflamasi, memiliki efek androgenik, dan dapat menginduksi sel melalui reseptor sel,  serta dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, sehingga produksi senyawa saponin perlu dilakukan dengan memperbanyak produksi akar T. paniculatum. Selain itu, perbanyakan akar T. paniculatum juga dilakukan sebagai upaya subtitusi produk impor ginseng korea menjadi produk dalam negeri yaitu ginseng jawa (T. paniculatum).

Gula telah dikenal sebagai senyawa yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman sebagai sumber karbon yang dapat mempengaruhi metabolisme, perkembangan, pertumbuhan, dan ekspresi gen. Hal ini baik gula monosakarida maupun disakarida dapat bertindak sebagai sumber karbon tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi sumber karbon terhadap morfologi, stres fisiologis, biomassa, kadar senyawa fenolik dan saponin akar adventif T. paniculatum. Akar adventif diinduksi dari eksplan daun T. paniculatum yang ditanam pada media MS padat dengan penambahan IBA 2 mg/L. Setelah 4 minggu, akar adventif disubkultur dalam media MS cair yang diberi perlakuan macam-macam gula yaitu sukrosa 3%, glukosa 3%, fruktosa 3%, laktosa 3%, maltosa 3%, dekstrosa 3%, sukrosa+fruktosa (1,5% + 1,5%), sukrosa+glukosa (1,5% + 1,5%), glukosa+fruktosa (1,5% + 1,5%), sukrosa+dekstrosa (1,5% + 1,5%) dan diinkubasi selama 6 minggu. Data morfologi, biomassa, kadar MDA, kadar prolin, senyawa fenolik dan saponin akar adventif dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan fruktosa 3% menghasilkan biomassa segar dan kering terbesar yaitu 1,30 g dan 0,23 g juga senyawa fenolik tertinggi yaitu 134,718 eq GAE mg/L.

Morfologi akar adventif pada penelitian ini menunjukkan adanya percabangan akar dan rambut akar yang dikultur pada media perlakuan variasi sumber karbon. Rerata panjang cabang akar terpanjang dihasilkan pada perlakuan glukosa + fruktosa (1,5% + 1,5%) yaitu 3,86 mm, sedangkan rerata diameter akar terbesar dihasilkan pada perlakuan glukosa 3% yaitu 1,53 mm. Data stres fisiologis ditunjukkan melalui data kadar MDA dan kadar prolin. Kadar MDA tertinggi dihasilkan pada perlakuan sukrosa + fruktosa (1,5% + 1,5%) yaitu 183,799 nmol/0,5 berat segar, sedangkan kadar prolin tertinggi dihasilkan pada perlakuan maltosa 3% yaitu 1894,666 碌mol/0,5 g berat segar. Kadar saponin yang dianalisis menggunakan kromatografi lapis tipis menunjukkan data berupa intensitas warna dan luas noda berdasarkan analisis software ImageJ. Perlakuan fruktosa 3% menunjukkan intensitas warna dan luas noda terbesar, sedangkan kadar saponin yang dianalisis menggunakan spektrofotometer diperoleh hasil tertinggi pada perlakuan sukrosa + fruktosa (1,5% + 1,5%) yaitu 9600 mg/g. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian variasi sumber karbon berpengaruh terhadap morfologi, stres fisiologis, biomassa, kadar senyawa fenolik dan saponin akar adventif T. paniculatum.

Penulis: Yosephine Sri Wulan Manuhara, Nindi Novia Erin, Arif Yachya, Alfinda Novi Kristanti, Djarot Sugiarso

Jurnal:

AKSES CEPAT