Pandemi coronavirus disease (COVID-19) yang disebabkan oleh virus corona telah menyebar di banyak negara dan sejak kemunculannya pertama kali di kota Wuhan pada akhir Desember 2019 sampai dengan awal Agustus 2021 telah mengakibatkan 197.788.117 kasus konfirmasi positif dengan 4.219.578 kematian secara global (World Health Organization, 2021). Di Indonesia sendiri tercatat sebanyak 3.532.567 kasus positif dengan 100.636 kematian sampai 4 Agustus 2021. Proporsi kasus positif berdasarkan usia didominasi oleh usia 19 sampai 59 tahun yang menyumbang 75,1 % kasus. Proporsi kematian laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, berturut-turut sebesar 52,4% dan 47,6% (covid19.go.id). Data mengenai dampak COVID-19 dan patofisiologinya terhadap fungsi organ reproduksi laki-laki beserta penanganannya masih belum mencukupi untuk disusun suatu kesimpulan. Salah satu topik yang semakin menarik perhatian adalah bagaimana pengaruh virus ini terhadap kualitas dan kuantitas spermatozoa. Penelitian mengenai hal ini perlu dilakukan, terutama bagi pasangan yang berencana untuk memiliki anak.
Spermatozoa, atau sel sperma, adalah sel benih yang dihasilkan di testis. Sel ini memiliki peran krusial dalam proses reproduksi, karena mereka yang membuahi sel telur untuk membentuk zigot. Kualitas dan kesehatan spermatozoa sangat penting untuk kesuburan pria dan keberhasilan konsepsi. SARS-CoV-2 dikenal utamanya menular melalui droplet saat batuk atau bersin, tetapi ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa virus ini dapat menginfeksi berbagai jaringan dalam tubuh, termasuk sistem reproduksi. Beberapa studi awal menunjukkan bahwa virus ini dapat ditemukan dalam cairan semen pria, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap kualitas spermatozoa.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh SARS-CoV-2 terhadap kesehatan spermatozoa. Dalam studi yang dilakukan di berbagai negara, para peneliti menganalisis sampel semen dari pria yang terinfeksi COVID-19. Hasilnya menunjukkan bahwa ada perubahan dalam jumlah, motilitas (kemampuan bergerak), dan morfologi (bentuk) spermatozoa. Beberapa penelitian menunjukkan penurunan jumlah spermatozoa pada pria yang terinfeksi. Hal ini dapat disebabkan oleh respons inflamasi tubuh terhadap virus, yang memengaruhi produksi sperma di testis. Motilitas spermatozoa yang rendah dapat mengurangi kemampuan sel sperma untuk bergerak menuju sel telur, sehingga berpotensi menurunkan fertilitas. Beberapa penelitian mencatat bahwa pria yang terinfeksi COVID-19 mengalami penurunan motilitas spermatozoa. Morfologi: Perubahan dalam morfologi spermatozoa juga telah diamati. Spermatozoa yang tidak normal dapat mengurangi peluang terjadinya pembuahan dan meningkatkan risiko keguguran.
Mekanisme di balik perubahan ini masih perlu diteliti lebih lanjut. Namun, beberapa hipotesis menyebutkan bahwa infeksi COVID-19 dapat menyebabkan stres oksidatif dan inflamasi, yang berdampak negatif pada sel-sel di testis. Stres oksidatif adalah kondisi di mana ada ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh, yang dapat merusak sel-sel termasuk spermatozoa. Penurunan kualitas spermatozoa akibat infeksi COVID-19 bisa menjadi tantangan dalam fertilitas pria, meskipun banyak pria yang pulih dari infeksi COVID-19 tanpa masalah kesehatan jangka panjang, tetapi penting untuk mengetahui kesehatan reproduksi mereka pasca-infeksi. Bagi pasangan yang ingin memiliki anak, disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesuburan. Bagi pria yang baru pulih dari COVID-19, melakukan tes semen dapat membantu menilai kualitas spermatozoa dan menentukan langkah selanjutnya.
Pengaruh virus SARS-CoV-2 terhadap spermatozoa adalah hal yang kompleks dan menarik untuk diteliti. Meskipun ada bukti awal yang menunjukkan adanya dampak negatif pada kualitas spermatozoa, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami sepenuhnya mekanisme dan dampak jangka panjangnya. Kesadaran akan masalah ini penting untuk pasangan yang merencanakan kehamilan, sehingga mereka dapat membuat keputusan yang tepat mengenai kesehatan reproduksi mereka. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai pengaruh COVID-19, diharapkan dapat dilakukan intervensi yang efektif untuk meningkatkan kesuburan pria pasca infeksi.
Penulis: Sri Musta檌na, Eko Budi Siswidiyanto, Pety Narulita, Agustinus, Aucky Hinting, Atika, Zakiyatul Faizah
Link:
Baca juga: Hubungan Radang Usus dengan Kualitas Sperma dan Kadar Testosterone Pria





