Pelestarian ekosistem terumbu karang sangat penting. Pada abad ke-21, terumbu karang menjadi sumber daya bahari atau akuatik potensial yang banyak dimanfaatkan oleh manusia untuk menghasilkan kebutuhan pangan dan/atau kesehatan, sehingga kelangsungan hidup karang dan perlindungan atau konservasi kawasan pesisir dan lautan harus diperhatikan dan dijaga. Terumbu karang adalah ekosistem yang paling beragam dan terancam kerusakan maupun kepunahan dengan berbagai aktivitas manusia di sekitar lautan. Oleh karena itu, monitoring atau pemantauan karang terhadap berbagai ancaman dan gangguan kerusakan amat penting dalam mempertahankan dan menjaga kelangsungan hidup ekosistem di pesisir maupun lautan.
Tantangan terkini dalam pengelolaan pesisir, termasuk upaya konservasi habitat dan ekosistem lautan, khususnya ekosistem terumbu karang adalah bagaimana memahami metode terbaik untuk mengukur perubahan karang, ekosistem, dan fungsinya. Fotogrametri merupakan metode baru untuk menjelajahi pola pertumbuhan skala koloni karang di bawah air untuk membuat model digitalnya. Metode akustik saat ini banyak digunakan untuk mendeteksi keberadaan objek bawah air. Sistem ini telah diuji bekerja dengan sangat baik. Pengembangan metodologi yang memungkinkan penggabungan metrik tiga dimensi (3D) ke dalam pemantauan terumbu karang sangatlah penting. Salah satu metrik yang paling umum digunakan untuk menilai kesehatan terumbu adalah proporsi tutupan karang hidup pada terumbu. Ini digunakan sebagai proksi untuk menghitung biomassa terumbu karang dan membangun kemampuan sebagian besar teknik yang digunakan untuk mengevaluasi estimasi planar linier atau horizontal.
Model dua dimensi (2D) saja tidak cukup untuk memperkirakan tutupan terumbu karang. Beberapa metode standar dalam meneliti tentang terumbu karang telah banyak diuji, seperti Manta tow (MT), line intercept transect (LIT), point intercept transect (PIT), belt transect (BT), dan quadratic transect (QT). Akan tetapi metode tersebut bergantung pada masing-masing tujuannya. Metode pemodelan 3D merupakan pengembangan dan modifikasi dari metode transek foto bawah air atau underwater photo transect (UPT), yang menggunakan foto 3D untuk mengidentifikasi spesies karang. Penggunaan luas permukaan dan volume 3D dapat memberikan metrik informasi kelimpahan karang yang lebih akurat dan memungkinkan pemetaan perubahan terumbu karang yang lebih akurat. Pemodelan ini merupakan metode yang paling efektif untuk menilai kerusakan terumbu karang dan memperkirakan stok karbon. Model perbandingan, fotogrametri, dan 3D menawarkan metode yang lebih cepat, sederhana, murah, dan non-invasif. Karena tidak mungkin memperoleh foto semua permukaan karang dan mengetahui perkiraan bobot karang dengan menggunakan pendekatan 3D, akurasinya sangat bergantung pada kompleksitas terumbu karang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur bobot karang masif (hidup) secara non-destruktif melalui pemodelan 3D. Penelitian ini dilakukan di perairan laut Pulau Gili Labak, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan pada kedalaman 8-12 m dari permukaan air. Permodelan 3D dilakukan menggunakan 30 koloni karang massif (mati) melalui pengukuran volume dan bobot karang. Fotografi menggunakan kamera Olympus TG-6, sedangkan analisis fotografinya menggunakan software Agisoft Metashape Professional (AMP).
Salah satu keunggulan metode 3D yang digunakan dalam penelitian ini adalah kemampuannya untuk mendapatkan data yang lebih terkontrol, dapat diverifikasi, serta data volume karang yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan metode sebelumnya. Metode 3D dapat menghasilkan pengukuran luas permukaan dan volume karang yang sangat presisi dan mudah direproduksi. Pemodelan 3D merupakan metode penyajian data yang paling efektif untuk menggambarkan kerusakan karang. Metode akustik umum digunakan saat ini untuk mendeteksi keberadaan objek bawah air. Sistem ini bermanfaat untuk menjelajahi lingkungan bawah laut.
Kemajuan teknologi fotogrametri telah menciptakan metode yang layak dan praktis untuk menjelajahi terumbu karang. Parameter struktural permukaan terumbu dan organisme telah terbukti memiliki akurasi yang relatif tinggi ketika menggunakan fotogrametri yang dikombinasikan dengan fotogrametri bawah air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengukuran model 3D merupakan studi kuantitatif yang akurat terhadap fisiologi dan berbagai ukuran koloni karang, serta dapat dilakukan secara in situ. Metode ini merekonstruksi struktur 3D karang dan organisme pembentuk habitat pada resolusi dan akurasi tinggi dengan menggunakan rangkaian gambar tumpang tindih yang diambil dari berbagai perspektif. Model 3D menghasilkan pengukuran luas permukaan dan volume karang yang sangat presisi dan dapat direproduksi.
Penelitian ini juga didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat (DRTPM), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Republik Indonesia melalui Hibah Program Penelitian Tesis Mahasiswa (PTM) tahun 2022.
Penulis: Akhmad Taufiq Mukti
Referensi:
D Irawan, AT Mukti*, S Andriyono, FF Muhsoni. 2023. Three-dimensional (3D) modeling to determine the weight of massive corals in Gili Labak Island, Sumenep, Madura, East Java, Indonesia. Biodiversity, 24(1-2): 24-33. https://doi.org/.





