51动漫

51动漫 Official Website

Sinarosida, Kandungan Herbal dengan Potensi Farmakologi Menjanjikan

Foto by Jakarta Training

Sinarosid, atau cynaroside, adalah senyawa flavonoid yang ditemukan secara luas pada berbagai family tanaman diantaranya famili Apiaceae, Poaceae, Lamiaceae, Solanaceae, Zingiberaceae, Compositae, dan lain lain. Seperti flavonoid lain yang kita kenal memiliki efek farmakologi atau khasiat obat, sinarosid menyimpan potensi yang besar sebagai agen terapetik pada berbagai spektrum penyakit. Di antara kajian efek terapi pada penyakit-penyakit tersebut adalah potensi sebagai anti bakteri, anti jamur, antileishmania, antioksidan, hepatoprotektif, antidiabetes, antiinflamasi hingga terdapat penelitian yang mulai mengkaji potensi anti kanker-nya.

Secara farmakologi molekular, penelitian pengujian efektifitas dan mekanisme kerja obat menunjukkan keterlibatan sinarosid ini dalam mempengaruhi fungsi dan aktifitas beberapa jalur persinyalan di dalam sel. Salah satu jalur persinyalan intraseluler yang dipengaruhi adalah jalur MET/AKT/mTOR yang merupakan jalur persinyalan proliferasi yang sering menjadi target penting dalam pengujian aktivitas anti kanker. Aktifitas hambatan pada pertumbuhan tumor ditunjukkan dengan efek penurunan pada forsorilasi protein AKT, mTOR dan P70S6K yang pada akhirnya dapat menghambat jalur persinyalan MET/AKT/mTOR sehingga mencegah proses proliferasi sel kanker.

Kajian mendalam terkait efek antibakteri dari sinarosid menunjukkan bahwa senyawa ini mampu menurunkan produksi biofilm oleh P. aeruginosa dan Staphylococcus aureus, bakteri patogen yang merugikan kesehatan. Lapisan biofilm yang dibentuk bakteri-bakteri ini merupakan lapisan yang diproduksi untuk melindungi bakteri dari paparan antibiotika sehingga mampu menyebabkan infeksi kronis dan menyebabkan proses eradikasi oleh antibiotika menjadi tidak efektif. Dengan demikian, sinarosid memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai senyawa antibakteri.

Kajian oleh Bouyahya et al, 2023 memberikan deskripsi potensi efek farmakologi sinarosid secara menyeluruh dan menampilkan temuan-temuan ilmiah pernah dilakukan. Dalam kajian efek sinarosid sebagai antiradang misalnya, ditunjukkan bahwa sinarosid memberikan efek penurunan kondisi radang melalui penekanan sel limfosit T, sel mast dan histiosit. Sel sel tersebut biasa teraktifkan dalam jumlah besar pada kondisi peradangan. Peradangan akan mengakibatkan rasa sakit hingga gangguan kinerja organ. Penelitian secara in vivo pada hewan coba dan in vitro pada sel mamalia menunjukkan sinarosid dapat menurunkan produksi siklooksigenase-2 (COX-2) dan inducible nitric oxide synthase (iNOS), yang berturut-turut merupakan enzim penting dalam produksi faktor inflamasi Prostaglandin dan Nitrit Oksida. Dengan menekan produksi faktor inflamasi, maka peradangan dapat dicegah atau disembuhkan. Konfirmasi lebih lanjut pada efek penekanan sitokin dan jalur persinyalan proinflamasi seperti TNF-伪, IL-6, MMP3, translokasi nuklear dari NF-魏B juga dibuktikan melalui penelitian tersebut. Hal ini menguatkan posisi sinarosid sebagai kandidat senyawa aktif yang dapat dikembangkan sebagai antiradang dan potensial untuk aktif bekerja pada banyak organ target dan penyakit.

Potensi sebagai antidiabetes dari senyawa sinarosid in juga cukup menjanjikan untuk dikonfirmasi dan dikembangkan. Pengujian berbagai ekstrak dari tanaman seperti Merremia tridentate, B. tripartite, C. Citratus, dan Stigma Maydis, yang dikenal mengandung sinarosid menunjukkan efek farmakologi penurunan kadar gula darah pada percobaan in vivo. Di antara efek farmakologi yang muncul adalah melalui stimulasi aktifitas enzim glikogen fosforilase dan hambatan pada enzim glikogen sintase sehingga memungkinkan peningkatan utilisasi glukosa pada sel tubuh. Juga melalui hambatan aktifitas 伪-amylase, 伪-glucosidase pada saluran cerna seperti halnya pada obat Acarbose yang menghambat pemecahan polisakarida sehingga penyerapan glukosa oleh saluran cerna ditekan. Hal ini sangat membuka peluang pengembangan senyawa obat baru untuk antidiabetes. Meskipun temuan ilmiah di atas memang terbatas baru dimulai dari bukti efikasi secara uji in vivo dengan bentuk ekstrak tanamannya sebagai bahan uji, belum terkonfirmasi pada isolat murni senyawa kandidatnya.

Penulis : Chrismawan Ardianto, Ph.D., Apt.

Merujuk pada publikasi ilmiah Bouyahya et al., 2023 Biomedicine and Pharmacotherapy; 161 (2023):114337

AKSES CEPAT