Kerusakan hati adalah penyebab utama gangguan hati yang menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia, dimana terhitung sekitar dua juta kematian setiap tahun. Sirosis, hepatitis virus, dan karsinoma hepatoseluler adalah salah satu jenis utama gangguan hati yang menyebabkan jumlah kematian tertinggi – 3,5% dari total kematian global. Di Indonesia, gangguan hati menyumbang 59.774 kematian pada tahun 2018 (3,51% dari total yang tercatat). Etiologi kerusakan hati sangat bervariasi, mulai dari paparan racun dan virus hingga kelainan genetik.
Asam ursolat (AU) adalah triterpenoid pentasiklik alami yang melimpah dalam buah-buahan dan sayuran. Sebagai senyawa yang memiliki kemampuan hepatoprotektor, AU secara efektif memperbaiki kerusakan hati, sehingga mencegah perkembangan ke kondisi kronis seperti penyakit hati berlemak, fibrosis, sirosis, atau karsinoma. Efek hepatoprotektif AU melibatkan beberapa mekanisme termasuk jalur pensinyalan protein kinase yang diaktifkan oleh adenosin monofosfat (AMPK), penghambatan stres retikulum endoplasma di hati, dan peningkatan fungsi mitokondria. Namun, potensi terapeutik AU terbatas karena memiliki kelarutan dan permeabilitas yang buruk, serta waktu paruh yang pendek. Faktor-faktor ini mengurangi efisiensi penggunaannya yang minimal dalam aplikasi klinis. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk menghantarkan AU dan meningkatkan bioavailabilitasnya.
Niosom adalah pembawa obat berbasis nanovesikel dengan struktur dua lapisan membran yang terbentuk dari surfaktan nonionik dan kolesterol dalam fase berair untuk pemuatan obat hidrofilik dan hidrofobik secara simultan. Niosom tersusun atas surfaktan nonionik sebagai komponen utama, yang memungkinkan produksi sediaan obat bersifat biodegradable, biokompatible, non-imunogenik, dan stabil di saluran pencernaan, terutama terhadap asam lambung. Niosom dilaporkan meningkatkan stabilitas, dan penghantaran obat ke target tertentu. Selain itu, penggunaan rute oral telah difokuskan pada pengembangan niosom UA (Nio-AU) untuk kenyamanan, keamanan, dan peningkatan kepatuhan pasien terhadap terapi. Pelapisan kitosan dapat meningkatkan penetrasi dan penyerapan AU di saluran pencernaan selama pemberian oral dan meningkatkan stabilitas Nio-AU. Berasal dari deasetilasi kitin, kitosan adalah polisakarida alami dengan sifat kationik, biokompatibel, tidak beracun, biodegradable dan memiliki alergenisitas yang rendah, sehingga dapat meningkatkan bioavailabilitas dan waktu sirkulasi obat. Dengan demikian, dalam pengembangan sediaan nanomaterial, sistem Nio-AU dengan pelapisan kitosan akan mampu meemberikan manfaat untuk berbagai aplikasi medis.
Para peneliti di Fakultas Farmasi UNAIR telah mengembangkan Nio-AU yang tersusun atas Span 60:kolesterol:AU pada rasio persentase mol masing-masing sebesar 3:2:10. Pelapisan kitosan meningkatkan ukuran partikel, potensial 味 dan indeks polidispersitas Nio-AU, namun masih berada dalam kisaran yang dapat diterima. Selain itu, lapisan kitosan menghasilkan pelepasan yang lebih tinggi pada pH basa daripada di lingkungan asam. Uji in vitro pada abilan sel dan sitotoksisitas, Nio-UA yang dilapisi dengan kitosan (Nio-UA-Cs) menunjukkan penurunan nilai IC50 untuk sel HeLa, tetapi peningkatan nilai untuk sel Huh-7it. Namun, lapisan kitosan Nio-UA tidak secara signifikan mempengaruhi penyerapan oleh sel HeLa. Penelitian lanjutan dilakukan terhadap kemanjuran sediaan oral Nio-AU berlapis kitosan pada mencit dengan kerusakan hati yang diinduksi N-nitrosodiethylamine (NDEA). Kerusakan hati diinduksi oleh pemberian NDEA intraperitoneal pada dosis 25 mg / kgBB seminggu sekali selama enam minggu. Hewan uji diberikan sediaan secara oral dengan dosis 11 mg UA/kg berat badan setiap dua hari dengan total delapan kali pemberian. Kemanjuran in vivo Nio-AU-Cs kemudian dievaluasi berdasarkan aktivitas serum glutamic-oxaloacetic transaminase (SGOT), serum glutamat pyruvate transaminase (SGPT), dan juga kadar bilirubin dan albumin serum, sedangkan perbaikan jaringan hati dinilai melalui pemeriksaan histologis. Penambahan kitosan meningkatkan ukuran partikel dan indeks polidispersitas, sekaligus menurunkan potensial-味 Nio-AU-Cs. Aktivitas SGOT dan SGPT dari Nio-AU dan Nio-AU-Cs tidak berbeda secara signifikan. Selain itu, kadar bilirubin serum menurun pada kelompok perlakuan Nio-AU dan Nio-AU-Cs, tetapi tidak berbeda secara signifikan dari kelompok kontrol negatif. Di sisi lain, kadar albumin tidak berbeda secara signifikan di antara kelompok-kelompok. Penilaian kualitatif histologi hati menunjukkan struktur lobular dengan susunan dan pola yang lebih normal pada mencit yang diberi dengan Nio-AU-Cs daripada pada yang diobati dengan Nio-AU, menunjukkan adanya perbaikan jaringan hati yang lebih baik. Pelapisan kitosan pada Nio-AU-Cs meningkatkan efektivitas terapi pengobatan peroral pada kasus kerusakan hati.
Penulis: Andang Miatmoko, Ph.D., Apt.
Referensi: Miatmoko A, Jauhari AA, Faradisa AA, Cahyani DM, Hariawan BS, Susanto J, Parumasivam T, Hendradi E, Sari R. Oral curative therapeutic study of N-nitrosodiethylamine-induced mouse liver damage of chitosan-coated ursolic acid niosomes. Sci Rep. 2025 Jun 1;15(1):19225. doi: 10.1038/s41598-025-04571-7. PMID: 40451903; PMCID: PMC12127449.





