Diabetic retinopathy (DR) dan age-related macular degeneration (AMD) merupakan penyakit mata posterior yang menjadi penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan secara global. Prevalensi kedua penyakit ini semakin meningkat dari tahun ke tahun karena semakin banyaknya penduduk berusia lanjut serta meningkatnya populasi penderita diabetes. Perawatan saat ini, seperti suntikan intravitreal anti-VEGF, memerlukan pemberian berulang yang dapat meningkatkan resiko efek samping dan trauma terhadap pasien. Selain itu, pengobatan DR dan AMD melalui suntikan intravitreal anti-VEGF sangat mahal. Resiko efek samping, trauma dan biaya pengobatan yang mahal, memberikan tantangan yang signifikan terhadap akses dan kepatuhan pasien sehingga mempengaruhi tingkat keberhasilan pengobatan DR dan AMD.
Studi ini berfokus pada penanganan pengobatan DR dan AMD dengan pembuatan implan okular polimerik yang mengandung axitinib (AX), yang dibuat menggunakan teknologi pencetakan 3D. Pembuatan implant menggunakan teknologi pencetakan 3D dapat memastikan presisi dan kemungkinan untuk opsi perawatan yang dipersonalisasi (personalized medicine). Axitinib, merupakan tyrosin kinase inhibitor (TKI) yang menunjukkan potensi kuat sebagai anti-VEGF. Implant axitinib dapat menunjukkan pelepasan obat yang berkelanjutan dan penghambatan angiogenesis yang efektif yang terkait dengan AMD dan DR. Implan axitinib dibuat dengan menggunakan bahan biokompatibel seperti polycaprolactone (PCL) dan Precirol庐, yang mampu memastikan keamanan dan efektivitas implant untuk aplikasi okular. Studi pelepasan in-vitro menunjukkan bahwa implan dapat melepaskan axitinib secara konsisten selama 180 hari, mengurangi kebutuhan untuk suntikan berulang dan dengan demikian meningkatkan kepatuhan pasien. Selain itu, implant axitinib juga menunjukkan stabilitas termal dan biokompatibilitas selama periode pelepasan obat.
Implant axitinib merupakan alternatif terapi pengobatan yang menjanjikan untuk pengobatan penyakit mata posterior. Pelepasan obat secara berkelanjutan mampu mengurangi durasi pemberian obat, sehingga mampu mengurangi biaya penobatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan terkait teknik sterilisasi yang tepat untuk menjaga integritas implan dan memperluas aplikasi klinis.
Penulis: apt. Febri Annuryanti, Ph.D.





