Masa balita merupakan periode emas dalam tumbuh kembang anak. Pada masa ini, kebutuhan gizi yang tepat sangat penting agar anak dapat berkembang dengan optimal, baik secara fisik maupun kognitif. Asupan gizi balita merupakan faktor penyebab langsung yang dapat mempengaruhi status gizi balita. Salah satu zat gizi penting yang mempengaruhi status gizi balita adalah protein, terutama protein hewani yang berperan dalam menunjang pertumbuhan balita, pertumbuhan otot, pembentukan sel, hingga perkembangan otak. Kurangnya asupan protein hewani pada balita dapat meningkatkan risiko stunting sebesar 1,6 kali dan berat badan kurang sebesar 1,8 kali. Protein hewani merupakan jenis protein dengan kualitas proporsi dan jenis asam amino yang lebih baik dibandingkan protein nabati. Protein hewani mengandung berbagai macam asam amino esensial yang memiliki bioavailibilitas tinggi. Namun, keragaman asupan protein hewani pada balita sering kali dipengaruhi oleh pengetahuan gizi ibu sebagai pengasuh utama.
Ibu memiliki peran penting dalam memastikan anak mendapatkan asupan gizi seimbang. Pengetahuan gizi yang baik akan membantu ibu dalam memilih dan menyajikan makanan yang kaya nutrisi, termasuk protein hewani, yang sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan optimal anak. Pengetahuan yang mencakup jenis-jenis sumber protein hewani seperti daging, ayam, ikan, telur, dan produk susu, serta porsi yang tepat, dapat berdampak langsung pada kualitas asupan makanan anak. Rendahnya tingkat pengetahuan gizi ibu mengenai keragaman jenis dan bahan makanan dapat berpengaruh pada terganggunya proses tumbuh kembang balita.
Penelitian Gracela, dkk (2024) telah menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan gizi yang baik cenderung memberikan makanan yang lebih beragam kepada anak-anak mereka. Sebaliknya, ibu yang kurang teredukasi tentang gizi cenderung memberikan pola makan yang kurang bervariasi dan terbatas pada sumber protein tertentu. Hal ini dapat menyebabkan defisiensi zat gizi, mengingat setiap jenis protein hewani memiliki kandungan asam amino yang berbeda-beda. Misalnya, ikan laut kaya akan omega-3 yang penting untuk perkembangan otak, sedangkan daging merah kaya zat besi yang dibutuhkan untuk mencegah anemia.
Asupan protein hewani yang bervariasi sangat penting untuk mencukupi kebutuhan nutrisi balita. Protein tidak hanya membantu dalam pertumbuhan fisik, tetapi juga mendukung perkembangan kognitif yang optimal. Kandungan asam amino esensial, vitamin, dan mineral seperti zat besi, kalsium, dan vitamin B12 yang terdapat dalam berbagai sumber protein hewani sangat krusial. Kurangnya variasi dalam asupan protein hewani dapat menyebabkan masalah kesehatan pada anak, seperti keterlambatan tumbuh kembang dan rentan terhadap penyakit. Sebaliknya, keragaman makanan yang mencakup berbagai jenis protein hewani membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak dan mendukung tumbuh kembang secara keseluruhan.
Kesimpulan penelitian Gracela dkk (2024) bahwa pengetahuan gizi ibu sangat berkaitan dengan keragaman asupan protein hewani pada balita. Ibu yang memiliki pengetahuan gizi yang lebih baik akan lebih mampu memberikan pola makan yang seimbang dan bervariasi untuk anak-anak mereka, termasuk dalam hal asupan protein hewani. Dengan pengetahuan gizi yang baik, ibu akan lebih mampu merencanakan pola makan keluarga yang seimbang, termasuk memastikan keragaman sumber protein hewani yang dikonsumsi oleh anak-anak. Ini merupakan langkah penting untuk mencegah malnutrisi dan memastikan anak-anak tumbuh sehat dan cerdas. Oleh karena itu, edukasi gizi bagi ibu sangat penting untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembang balita.
Penulis: Lailatul Muniroh
Link:
Baca juga: Dampak Edukasi Gizi Online saat COVID-19 terhadap Pengetahuan Gizi Masyarakat





