51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pengetahuan Orang Tua Dari Ibu Menyusui Tentang ˜Tarak™ dalam Menyusui

Foto by Alodokter

Gizi dianggap sebagai perilaku penting yang mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan. Pada bayi, gizi dapat diperoleh melalui Air Susu Ibu (ASI) terutama pada enam bulan pertama kehidupannya sesuai dengan target gizi global WHO nomor lima yang bertujuan untuk meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif hingga 50% pada tahun 2025. Ibu menyusui memerlukan gizi yang seimbang untuk mengoptimalkan pemberian ASI, sehingga tumbuh kembang bayi dan anak dapat berjalan dengan baik. Di Jawa terdapat pemilihan pola makan yang dipengaruhi oleh budaya, kepercayaan, diyakini dan berkembang di masyarakat, serta diwariskan secara turun-temurun berdasarkan pengetahuan dalam pemenuhan gizi pada ibu menyusui, batasan/pantangan dalam praktik diet ini disebut dengan ˜Tarak™.

Kepercayaan terhadap pantangan makanan selama menyusui masih dilakukan di Kabupaten Lamongan yang mana budaya ˜tarak™ diwarisi oleh ibu menyusui yang tinggal bersama keluarga baik ibu kandung maupun ibu mertua. Adanya pantangan makanan ˜tarak™ yang diketahui oleh orang tua dari ibu menyusui dan diterapkan pada ibu menyusui seringkali tidak berdasarkan bukti ilmiah serta dapat mempengaruhi ASI di kemudian hari.

Pertanyaannya, apakah terdapat hubungan antara pengetahuan tarak dengan pola makan pada ibu menyusui?

Melihat pentingnya ASI bagi bayi dan anak, tim peneliti melakukan penelitian desain despripsi korelasi dengan pendekatan cross sectional untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua ibu tentang tarak terhadap pola makan pada ibu menyusui. Penelitian ini dilakukan pada 99 ibu dengan anak usia 0-24 bulan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling, dengan kriteria ibu menyusui yang tinggal serumah dengan orang tuanya (ibu kandung/ibu mertua). Jika selama kunjungan rumah, kriteria tidak terpenuhi maka responden lain dengan kriteria yang diperlukan dicari.

Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan orang tua (ibu kandung/ibu mertua) dan pola makan ibu menyusui. Instrumen terdiri dari kuesioner tentang tingkat pengetahuan orang tua terdiri dari 20 pertanyaan dan 20 pertanyaan untuk kuesioner pengukuran pola makan ibu menyusui. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan untuk menganalisis keberhasilan menyusui ekslusif tim peneliti melakukan analisis deskriptif dan uji korelasi Spearman (rs) dari data yang telah diperoleh.

Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar 27 (75%) orang tua dengan pengetahuan kurang, memiliki pola makan yang tidak sesuai pada ibu menyusui dan sebagian besar 20 (41,7%) orang tua dengan pengetahuan cukup, memiliki pola makan yang sesuai pada ibu menyusui serta sebagian besar 9 (60%) orang tua dengan pengetahuan baik, memiliki pola makan yang tidak sesuai pada ibu menyusui. Hasi uji spearman dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan orang tua (ibu kandung/ibu mertua) dengan pola makan pada ibu menyusui.

Penelitian yang dilakukan di China dan Korea menunjukkan bahwa pengetahuan gizi ibu postpartum Korea lebih tinggi dibandingkan ibu postpartum Cina, namun pola makan sehat lebih tinggi pada ibu postpartum Cina. Hal ini menunjukkan juga bahwa pengetahuan tentang ‘tarak’ orang tua dari ibu menyusui belum tentu diterapkan dalam praktik diet sehari-hari oleh ibu menyusui.

Penelitian lain juga menyebutkan bahwa Kebiasaan makan dan pola makan orang tua dan anak memiliki hubungan positif, terlihat pada hasil penelitian oleh tim bahwa orang tua (ibu kandung/ibu mertua) yang memiliki pengetahuan kurang tentang ˜tarak™ maka pola makan ibu menyusui juga tidak sesuai. Namun hal ini tidak berkorelasi terus menerus selama hidup. Pengetahuan memang diperlukan untuk mengambil keputusan tentang intervensi diet ibu akan tetapi tingkat pendidikan, pendapatan, ketidakpatuhan, ukuran keluarga, pengalaman, pekerjaan, budaya, kondisi alam, kondisi fisik (jasmani dan rohani) dan kualitas makanan itu sendiri akan mempengaruhi praktik diet/pola makan yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan pola makan yang baik tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan tetapi ada faktor lain yang juga berperan dalam pembentukan pola makan.

Meskipun hasil penelitian tidak ada hubungan antara pengetahuan tarak dengan pola makan ibu menyusui, diperlukan penyuluhan dari petugas kesehatan terus menerus dan berkelanjutan tentang gizi dan pola makan ibu menyusui selama kegiatan posyandu untuk memberikan informasi kepada orang tua (ibu kandung/ibu mertua) dan ibu menyusui tentang ˜tarak™, sehingga ibu menyusui dapat meningkatkan asupan gizi selama menyusui tanpa adanya pantangan makanan yang menyesuaikan dengan kondisi ibu menyusui. Selain itu, perlu penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi bagaimana ‘tarak’ di daerah lain, karena Indonesia memiliki banyak suku dan budaya.

Penulis: Amellia Mardhika, S.Kep.,Ns.,M.Kes.

Informasi lebih lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Mardhika, A., Sulistyono, A., Cahyati, E. N., Tyas, A. P. M., Sulpat, E., & Fadliyah, L. (2023). Parents, Knowledge of œTarak Breastfeeding Mothers in Indonesia. Journal of the Pakistan Medical Association, 73(2), S34“S38. https://doi.org/10.47391/JPMA.IND-S2-8

AKSES CEPAT