Pada awal abad ke 20, penyakit mosaik menimbulkan epidemi besar yang menghancurkan industri gula di Argentina, Brasil, Kuba, Puerto Rico dan Amerika Serikat. Penyakit pada tanaman tebu (Saccharum spp, hybrids) yang mengakibatkan masalah serius di negara-negara penghasil gula adalah penyakit yang disebabkan oleh virus karena mengakibatkan epidemi yang luas dan kerugian besar. Mosaik adalah salah satu penyakit virus tebu yang sebarannya paling luas di dunia dan menyerang tanaman tebu, sorgum, jagung dan kelompok tanaman Poaceae lainnya.
Tidak seperti patogen tanaman lainnya, belum ada metode langsung untuk mengendalikan virus ini sehingga pengendalian penyakit virus bertumpu pada tindakan-tindakan manajemen pertanian. Oleh karenanya metode deteksi dan identifikasi virus, baik pada tanaman maupun vektor, berperan penting dalam manajemen pengendalian penyakit. Pada umumnya metode deteksi virus penyebab penyakit menggunakan prosedur berbasis serologi atau berbasis asam nukleat (molekuler). Namun demikian, pada penggunaan rutin di lapang seringkali deteksi berbasis serologi tidak mampu memberikan hasil yang akurat pada sampel tanaman yang tidak menunjukkan gejala penyakit.
Sementara itu, metode deteksi berbasis molekuler lebih sensitif namun tidak praktis untuk penggunaan rutin maupun sampel dalam jumlah besar. Untuk meningkatkan akurasi deteksi berbasis serologi diperlukan antibodi dengan sensitivitas dan spesifitas tinggi yang diperoleh melalui teknik kloning molekuler melalui produksi antibodi poliklonal yang diinduksi oleh protein rekombinan spesifik. Sebagai gen target untuk protein rekombinan spesifik adalah gen protein kapsid Sugarcane Mosaic Virus (PK SCMV).
Penelitian kami difokuskan untuk menghasilkan protein rekombinan melalui kloning molekuler daerah lestari gen Coat Protein Sugarcane Mosaic Virus (CP SCMV). Daerah lestari gen CP SCMV diperoleh dari kajian full length sequence gen CP SCMV strain Jawa Timur yang merupakan hasil penelitian internal PTPN XI tahun 2014-2015.Tahapan kloning molekuler diawali dengan perbanyakan sel kompeten E.coli strain DH5伪 yang akan disisipi plasmid kloning mengandung daerah lestari gen CP SCMV.Tahap selanjutnya adalah melakukan sub kloning ke vektor ekspresi dalam bakteri E.coli strain BL21 untuk produksi protein antigen.Protein hasil ekspresi gen sisipan (antigen) akan diekstraksi dan dipurifikasi serta digunakan sebagai antigen untuk menginduksi pembentukan antibodi.
Pada penelitian ini, diketahui bahwa antibodi poliklonal terhadap rCPSCMV dapat diproduksi dari kelinci dan ayam betina. Sensitivitas antibodi kelinci (IgG) lebih tinggi daripada antibodi ayam (IgY) pada analisis Western blot. Baik IgY dan IgG berhasil mendeteksi CPSCMV secara penuh pada daun tebu dari sampel lapangan, menunjukkan bahwa kedua antibodi tersebut sangat spesifik untuk isolat SCMV Indonesia. Sebagai kesimpulan, kami mendapatkan hasil bahwa IgY sama efektifnya dengan IgG dan merupakan sumber potensial untuk produksi antibodi untuk deteksi cepat berbasis immunoassay. Produksi antibodi IgY mungkin menawarkan sumber baru antibodi berbiaya rendah dalam skala besar. Metode ini dapat digunakan pada surveilans virus untuk mempertahankan kontrol pengelolaan hama dan penyakit di pembibitan dan lahan komersial.
Penulis : Prof. Win Darmanto,Med.Sci.Ph.D
Judul jurnal :The efficacy of a chicken antibody for the development of immunoassay恇ased rapid detection in sugarcane mosaic virus disease
Link jurnal:





