51动漫

51动漫 Official Website

PENGGERAK dan PENDORONG MIGRASI TENAGA KERJA INTERNASIONAL: STUDI TENTANG PEKERJA MIGRAN DARI INDONESIA

Sumber: MyRobin
Sumber: MyRobin

Jumlah orang Indonesia yang tertarik menjadi pekerja migran meningkat dari tahun ke tahun. Menurut laporan, pada tahun 2016 Badan Nasional Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (“Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia” atau “BNP2TKI”) menempatkan 135.266 pekerja migran Indonesia (PMI) di beberapa negara tujuan. Tahun berikutnya, pada tahun 2017, jumlah pekerja migran yang ditempatkan di luar negeri meningkat menjadi 150.832. Data terakhir pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 159.702 pekerja telah meninggalkan negara itu. Badan tersebut, yang sekarang disebut Badan Nasional Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (“BP2MI”) melaporkan bahwa jumlah pekerja migran Indonesia turun menjadi 113.436. Kemudian, karena memburuknya pandemi COVID-19, jumlahnya menurun lagi untuk periode berikutnya (2021), dengan hanya 72.624 yang tercatat. Namun, sejak itu, jumlahnya meningkat secara signifikan menjadi 200.761. Negara tujuan paling populer yang diminati oleh pekerja migran Indonesia adalah Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan. Pekerja migran Indonesia berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, yang paling menonjol dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, dan Lampung. Fluktuasi jumlah pekerja migran Indonesia antara tahun 2016 dan 2021 dapat dikaitkan dengan beberapa faktor yang saling terkait, baik struktural maupun situasional. Meskipun ada beberapa tantangan yang ada, seperti COVID-19, perubahan kebijakan, dan masalah perekrutan tenaga kerja, terdapat minat yang berkelanjutan dari pekerja migran ke tujuan-tujuan populer tersebut.

Kondisi yang tidak menguntungkan seringkali menyelimuti nasib TKI, mulai dari mereka yang tertipu oleh perusahaan perekrutan tenaga kerja hingga mereka yang terancam hukuman mati di negara lain. Bahkan setelah mendapatkan pekerjaan yang awalnya mereka inginkan, banyak dari mereka harus menanggung pelecehan verbal, kekerasan, aturan ketat dari majikan, dan banyak lagi攜ang berkontribusi pada tekanan psikologis mereka. Mereka seringkali merasa tidak berdaya dan kesepian, sehingga mereka terpaksa menerima nasib mereka dalam diam. Namun, risiko-risiko ini tidak menyurutkan mereka untuk terus mencari nafkah di luar negeri sebagai TKI. Banyak pekerja migran Indonesia masih memandang pekerjaan di luar negeri sebagai risiko yang diperhitungkan, didorong oleh urgensi ekonomi, didukung oleh jaringan sosial, dan dibenarkan oleh kewajiban budaya atau agama.

Studi ini menawarkan perspektif baru terkait peran krusial motivasi pribadi, integrasi nilai-nilai sosiokultural, serta pertimbangan aspek sosiodemografi. Temuan studi ini dapat dan akan digunakan untuk merekomendasikan intervensi yang terarah oleh Badan Nasional Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dan lembaga-lembaga lain di tingkat nasional dan daerah, khususnya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Timur, yang telah mendukung studi ini sejak awal.

Alasan pekerja pergi ke luar negeri bukan hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga pertimbangan pribadi dan sosial. Mayoritas pekerja sudah memiliki teman dan keluarga yang bekerja di negara tujuan dan merekomendasikan mereka untuk mengikuti. Lebih lanjut, faktor-faktor lain, seperti jenis kelamin, usia, status perkawinan, dan negara tujuan berkontribusi sama terhadap keputusan individu untuk bermigrasi ke luar negeri. Gaji yang tinggi, penginapan gratis, dan bonus yang ditawarkan melebihi gaji pokok Indonesia juga berkontribusi untuk memicu motivasi untuk bekerja di luar negeri. Gaji tersebut kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan ketika mereka kembali ke negara asal. Faktor budaya juga berperan besar dalam memotivasi calon pekerja migran untuk pergi ke luar negeri, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan keluarga mereka (20,00%) dan kebutuhan anak-anak mereka (21,82%), status sosial (3,94%), serta agama (0,91%). Kontributor lain terhadap kekuatan pendorong migrasi adalah faktor pribadi atau individu, seperti kebutuhan seseorang untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan budaya (0,91%), kemandirian (8,18%), dan kesuksesan secara keseluruhan (30,00%).

Sementara sebagian besar studi migrasi menekankan motif ekonomi dalam kerangka tarik-ulur klasik, studi ini memperkenalkan dan menyoroti faktor-faktor pribadi sebagai pendorong tematik yang terpisah攕eperti aspirasi untuk kemandirian dan kesuksesan, tanggung jawab pribadi dan pencarian pengalaman, keinginan untuk membuat orang tua bangga, terutama melalui tujuan keagamaan, seperti pendanaan haji. Kategorisasi tripartit ini (pribadi, sosial, dan ekonomi) memperkaya pemahaman motif migrasi di luar model biner yang umum. Kontribusi baru dari penelitian ini adalah perluasan teori migrasi yang berlandaskan budaya, khususnya pengakuan formal atas motivasi pribadi sebagai pendorong utama, integrasi nilai-nilai agama dan keluarga, dan diskusi interseksional tentang gender, usia, dan konteks sosial ekonomi dalam membentuk keputusan migrasi. Elemen-elemen ini berkontribusi baik secara konseptual maupun praktis terhadap literatur tentang migrasi tenaga kerja, khususnya dalam kerangka budaya Asia Tenggara dan Islam.

Penulis: Ike Herdiana, Myrtati Dyah Artaria, Sayf Muhammad Alaydrus, Mein-Woei Suen

AKSES CEPAT