Penggunaan antibiotik profilaksis pada pembedahan urologi sangat penting untuk mencegah infeksi luka operasi. Prinsip pemilihan antibiotik profilaksis pada urologi sama dengan pada pembedahan lainnya. Namun, masih terdapat banyak perbedaan, terutama tergantung pada jenis prosedur atau organ mana yang terlibat dan praktik setempat. Infeksi yang berhubungan dengan prosedur urologi dapat disebabkan oleh bakteri yang berbeda tergantung pada lokasi sayatan. Bimbingan dalam menentukan pilihan antibiotik profilaksis dalam urologi dapat bervariasi karena perlu mempertimbangkan jenis prosedur, organ yang terlibat, dan profil kerentanan antibiotik institusional. Pilihan profilaksis perlu dievaluasi untuk kemanjuran berdasarkan profil resistensi dan tingkat komplikasi pasca operasi.
Jurnal ini membahas penggunaan antibiotik profilaksis dalam prosedur urologi untuk mencegah infeksi pasca operasi. Sehingga diperlukan pendekatan yang berbeda dalam memilih profilaksis antibiotik sesuai dengan jenis prosedur. Penelitian ini menggunakan 179 rekam medis yang dinilai dengan melihat hasil kultur dan penggunaan antibiotiknya. Profilaksis antibiotik diberikan dalam prosedur bersih-terkontaminasi dan bersih (masing-masing 93,2% dan 6,8%). Ceftriaxone paling banyak digunakan (69,3%), dosis tunggal, satu hari sebelum operasi. Bakteri gram negatif banyak ditemukan pada kultur urin pasien (75,2%). E. coli , K. pneumoniae , dan P. aeruginosa mendominasi dengan kerentanan rendah terhadap sefalosporin. Bakteri penghasil ESBL adalah E. coli (64%) dan K. pneumoniae (89%).
Kesimpulan dari penelitian ini yang dituliskan dalam jurnal menunjukkan antibiotik generasi ketiga (ceftriaxone) adalah antibiotik yang paling banyak sering digunakan sebagai profilaksis dalam prosedur urologi di rumah sakit pendidikan di Indonesia. Namun, hasil kultur spesimen urin terutama adalah basil bakteri gram negatif yang sangat resisten terhadap antibiotik golongan ini. Aminoglikosida memiliki sensitivitas yang sangat baik terhadap bakteri Gram-negatif. Ini dapat digunakan sebagai pilihan untuk profilaksis Antimikroba. Tingkat ESBL yang tinggi dalam kultur urin juga penting untuk menentukan profilaksis antibiotik. Perlu ditinjau pedoman lokal dalam profilaksis antibiotik yang secara khusus mempertimbangkan lokasi sayatan, jenis prosedur, pemetaan bakteri lokal di rumah sakit, dan pemantauan infeksi lokasi operasi.
Judul artikel: The use of antibiotic prophylaxis in patients undergoing urologic procedures in an academic hospital Surabaya: A retrospective study
Link artikel: https://jidc.org/index.php/journal/article/view/37406058





