51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pengmas HIMAFI Kembangkan Sistem FGD IoT di Desa Randuboto

Alat Flue Gas Desulfurization (FGD) berbasis IoT hasil inovasi Ananta x Atmos digunakan untuk mengurangi emisi gas berbahaya dari pembakaran sampah di Desa Randuboto, 15 Februari 2026 (Foto: Dok. Istimewa)

UNAIR NEWS – Program Belajar Bersama Masyarakat (BBK) Ananta x Atmos yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Fisika 51¶¯Âþ telah dilaksanakan pada 21“27 Juli 2025 di Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Program ini menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam menjawab permasalahan lingkungan, khususnya pencemaran udara akibat praktik pembakaran sampah yang masih dilakukan oleh masyarakat.

Melalui kolaborasi dengan Airlangga Team of Instrumentation and Computation Science Society (Atmos), mahasiswa menghadirkan inovasi berupa alat Flue Gas Desulfurization berbasis Internet of Things (IoT). Alat ini dirancang untuk mengurangi emisi gas berbahaya, seperti sulfur dioksida, sehingga kualitas udara di lingkungan sekitar dapat lebih terjaga. Inovasi ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 13, yaitu Penanganan Perubahan Iklim, melalui upaya mitigasi pencemaran udara di tingkat desa.

Permasalahan pembakaran sampah di Desa Randuboto menjadi latar belakang utama pengembangan alat ini. Aktivitas tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran teknologi ini diharapkan menjadi solusi aplikatif yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan program, tim mahasiswa juga melakukan tindak lanjut beberapa waktu setelah kegiatan berlangsung untuk memantau kondisi dan fungsi alat di lapangan. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa alat masih dapat berfungsi dengan baik, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan lebih lanjut agar semakin optimal digunakan oleh masyarakat.

Selain menghadirkan inovasi teknologi, mahasiswa juga melaksanakan kegiatan pengabdian lainnya, seperti pengajaran di sekolah dasar, pengajaran mengaji, edukasi pengolahan limbah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan, dan penanaman 100 pohon. Kepala Desa Randuboto menyampaikan apresiasinya terhadap program ini. œKami mengucapkan terima kasih karena hingga beberapa bulan setelah program berlangsung, alat yang dihadirkan masih berfungsi dengan baik. sehingga kami merasa sangat terbantu, ujarnya. (15/02/2026).

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya menghadirkan solusi sesaat, tetapi juga mendorong terciptanya perubahan yang berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat.

AKSES CEPAT