51动漫

51动漫 Official Website

Peningkatan Kapasitas dan Pengetahuan Ekonomi Politik Mendukung Pencapaian SDGs

Sumber: detik.com
Sumber: detik.com

Kekeringan merupakan tantangan serius bagi sektor pertanian di NTT. Kekeringan ini berdampak sangat signifikan terhadap produktivitas pertanian, menyebabkan gagal panen dan kerugian ekonomi bagi petani. Untuk masalah ini membutuhkan pendekatan sinergis terpadu yang melibatkan pemerintah, lembaga penelitian, dan petani itu sendiri.

Kebijakan pembentukan dan penguatan kelompok tani bukanlah solusi praktis untuk memajukan pertanian/meningkatkan kesejahteraan petani. Penguatan kelembagaan dan pemberdayaan kelompok tani bukan semata-mata masalah ekonomi pertanian, tetapi juga masalah ekonomi politik. Masalahnya, ada banyak kendala teknis dan non-teknis yang menempatkan kelompok tani sebagai aktor dalam kebijakan dan pembangunan pertanian berkelanjutan sesuai dengan SDGs #2. Penelitian ini membahas kompleksitas permasalahan pertanian di Desa Watu Lanur, Kecamatan Poco Ranaka, Nusa Tenggara Timur. Daya dukung alam yang kurang optimal, kondisi sosial ekonomi petani tadah hujan, dan kurangnya pendampingan intensif dari pemerintah menjadi beberapa penyebabnya. Pemberdayaan kelompok tani terhambat oleh etika subsisten dan masalah sosial budaya (adat istiadat).

Pemberdayaan masyarakat melalui workshop berjudul Peningkatan Kapasitas dan Pemberdayaan Kelompok Golo Pandang Desa Watu Lanur Kecamatan Poco Ranaka Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 14-15 Juni 2023 di Sekretariat Kelompok Golo Pandang Watu Lanur. Kegiatan ini dihadiri 35 orang termasuk perwakilan dari pemerintahan desa. Kegiatan yang dilakukan meliputi observasi ke desa dan lahan pertanian, wawancara mendalam, workshop dalam bentuk diskusi terpimpin (FGD) yang dipandu fasilitator dengan melibatkan masyarakat desa khususnya Kelompok Tani Golo Pandang Desa Watu Lanur. Melalui pengumpulan data dan berbagai isu yang berkembang di masyarakat selanjutnya dilakukan perumusan strategi yang solutif untuk membangun sinergi dalam masyarakat petani.

Rangkaian kegiatan pemberdayaan ini menggunakan metode peningkatan kapasitas dalam bentuk kegiatan pelatihan teknis dan intervensi kebijakan sebagai praktik simulasi model atas program yang bisa menjadi model pemberdayaan masyarakat. Intervensi dilakukan oleh kelompok tani yang menjadi model contoh (role mode/lesson learned dari penguatan kapasitas masyarakat desa). Untuk dapat memetakan tingkatan stakeholder berdasarkan kepentingan dan pengaruhnya, bahkan dapat memunculkan stakeholder kunci. Analisis selanjutnya yaitu livelihood analysis yang menggali kondisi soal-ekonomi masyarakat, pelaku usaha, petani tadah hujan melalui pendalaman profil wilayah, sosial-ekonomi, asset, dan orientasi kesejahteraan.

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat berusaha memberdayakan dirinya sendiri dengan membantu kelompok tani. Namun dalam prosesnya, masih ditemukan kendala teknis dan non-teknis yang tidak mendukung gerakan inovasi masyarakat. Pemerintah perlu meningkatkan dukungannya kepada petani melalui program bantuan benih, pupuk, dan teknologi pertanian yang tepat guna.

Kesimpulan dari kegiatan pembedayaan masyarakat ini adalah kelembagaan kelompok tani melemah dan kurang berorientasi pada penerapan pertanian berkelanjutan akibat dari pembentukan kelompok tani yang hanya sekedar memenuhi aspek formalitas dalam memberdayakan petani dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani dan kurang memanfaatkan kearifan lokal dalam memberdayakan kelompok tani. Dengan investasi yang tepat dalam infrastruktur, teknologi, dan pendidikan, diharapkan produktivitas pertanian di NTT dapat ditingkatkan dan ketahanan pangan masyarakat dapat terjamin.

Penulis: Dr. Siti Aminah

AKSES CEPAT