Kelemahan otot umum yang terjadi selama perawatan di unit perawatan intensif dan terdeteksi secara klinis pada pasien penyakit kritis dimana tidak ada penyebab lain yang diidentifikasi selain akibat penyakit itu sendiri disebut dengan intensive care unit-acquired weakness (ICU-AW). Kondisi ini dapat dikaitkan akibat peningkatan durasi perawatan di ICU dan rumah sakit, durasi penggunaan ventilasi mekanik serta peningkatan kematian di ICU dan rumah sakit. Rehabilitasi dini perlu dilakukan untuk mencegah gangguan motorik, kelemahan otot dan gangguan fungsi fisik. Neuromuscular electrical stimulation (NMES) merupakan salah satu modalitas terapi yang dapat digunakan dalam tatalaksana pasien penyakit kritis di ruang perawatan intensif untuk mencegah terjadinya kerusakan otot lebih lanjut serta mencegah terjadinya ICU-AW.
Functional Status Score for the Intensive Care Unit (FSS-ICU) adalah skala penilaian fungsional yang dirancang khusus untuk menilai kemampuan fisik pasien selama perawatan di ICU, khususnya pada pasien dengan kondisi kritis seperti ICU-AW. Skala ini memberikan penilaian performa pada lima tugas fungsional utama, yaitu berguling, transfer dari posisi terlentang ke duduk, duduk tanpa bantuan, transfer dari duduk ke berdiri, dan berjalan. Setiap tugas diberi skor dari 0 (tidak dapat melakukan tugas) hingga 7 (kemandirian penuh), dan nilai total FSS-ICU berkisar dari 0 hingga 35, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan kemampuan fungsional yang lebih baik. FSS-ICU sering digunakan dalam penelitian sebagai instrumen yang valid dan andal untuk mengevaluasi pasien ICU, membantu dalam pemantauan status fungsional dan efektivitas intervensi seperti Neuromuscular Electrical Stimulation (NMES). Penelitian ini merupakan studi pra-eksperimental dengan rancangan one-group pretest-posttest without control design. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pemberian terapi NMES terhadap status fungsional dengan menggunakan skala FSS-ICU pada pasien ICU-AW di ruang intensif RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2023 hingga Juni 2024. Sebanyak 20 pasien berusia 19-61 tahun yang menggunakan ventilator lebih dari 24 jam, menjalani perawatan lebih dari 48 jam di ICU RSUD Dr. Soetomo, serta tidak memenuhi kriteria eksklusi dilibatkan dalam penelitian ini. Subjek penelitian ini diberikan tatalaksana terapi NMES pada otot quadriceps femoris bilareral selama 30 menit setiap hari, selama 5 hari berturut-turut. Pemeriksaan status fungsional dilakukan sebelum dan setelah pemberian terapi NMES. Terdapat 7 subjek drop out, sehingga jumlah subjek yang menyelesaikan penelitian adalah sebanyak 13 orang.
Kemampuan fungsional subjek sebelum perlakuan memiliki median 1 menurut skala FSS-ICU. Setelah dilakukan terapi selama 5 hari, median skala FSS-ICU meningkat menjadi 12. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan perubahan bermakna sebelum dan setelah pemberian terapi NMES selama 5 hari pada status fungsional berdasarkan skala FSS-ICU (p < 0,001).
Kesimpulan penelitian ini yaitu pemberian modalitas terapi NMES selama 5 hari berturut-turut pada pasien dengan ICU-AW dapat memperbaiki status fungsional yang ditandai dengan adanya peningkatan nilai skala Functional Status Score for the Intensive Care Unit (FSS-ICU) pada pasien dengan Intesive Care Unit Acquired Weakness (ICU-AW). Sehingga pemberian terapi NMES dapat dipertimbangkan menjadi alternatif terapi pada pasien ICU-AW. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan yang terdapat beberapa keterbatasan sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar, homogen dan terdapat indikator kontrol
Penulis: Lydia Arfianti, dr., Sp. K.F.R., M.S.(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Hutapea JDIU, Arfianti L, Al Hayyan AJ, Semedi BP. Functional outcomes of early neuromuscular electrical stimulation for ICU-acquired weakness: a pilot study. Anaesth. pain intensive care 2025;29(6):492-96. DOI:





