Pensinyalan redoks telah muncul sebagai mekanisme kunci yang menghubungkan metabolisme seluler dengan fisiologi sistemik melalui fluktuasi terkontrol dari spesies oksigen dan nitrogen reaktif (ROS/RNS). Dahulu hanya dianggap sebagai produk sampingan yang berbahaya, ROS dan RNS kini diakui sebagai pembawa pesan yang bergantung pada konteks yang mengatur modifikasi protein, program transkripsi, dan respons stres adaptif. Tinjauan ini bertujuan untuk mensintesis pengetahuan terkini tentang mekanisme molekuler, peran fisiologis, gangguan patologis, dan peluang terapeutik dari pensinyalan redoks. Untuk mencapai hal ini, literatur yang relevan secara sistematis diambil dari basis data ilmiah utama menggunakan kata kunci dan kriteria inklusi yang telah ditentukan sebelumnya untuk memastikan cakupan yang komprehensif dan terkini. Dalam kondisi fisiologis, jalur redoks mengatur proses-proses penting termasuk proliferasi sel, diferensiasi, pertahanan imun, adaptasi metabolik, angiogenesis, dan neurofisiologi. Namun, ketika terjadi ketidakseimbangan kronis, jalur-jalur ini bergeser ke arah hasil patologis, berkontribusi pada disfungsi kardiovaskular, neurodegenerasi, perkembangan kanker, gangguan metabolisme, dan penuaan dini. Peran ganda ini攑rotektif dalam keadaan fisiologis namun merugikan dalam kondisi disregulasi攎uncul sebagai prinsip pemersatu dalam biologi manusia. Secara klinis, terapi antioksidan konvensional telah memberikan hasil yang tidak konsisten, sementara strategi yang lebih selektif seperti aktivator Nrf2 dan antioksidan yang ditargetkan pada mitokondria menunjukkan potensi yang lebih besar dengan mempertahankan sinyal yang bermanfaat sekaligus memperbaiki kondisi patologis. Selain itu, biomarker redoks semakin relevan sebagai alat untuk diagnostik presisi dan intervensi yang disesuaikan dengan pasien. Kesimpulannya, pensinyalan redoks berfungsi sebagai penjaga homeostasis dan pendorong penyakit. Memajukan pemahaman mekanistik melalui teknologi omics dan biosensing waktu nyata diharapkan dapat membuka strategi diagnostik dan terapeutik baru, memperkuat pensinyalan redoks sebagai poros sentral untuk pengobatan presisi.
Artikel review ini disusun berdasarkan kolaborasi penulisan antara Herry Agoes Hermadi, Aswin Rafif Khairullah, Mohammad Sukmanadi, Bima Putra Pratama, Imam Mustofa, Ilma Fauziah Ma始ruf, Angel Jelita Brilliant Yuri, Desi Lailatul Hidayah Utomo, Riza Zainuddin Ahmad, Dea Anita Ariani Kurniasih, Arif Nur Muhammad Ansori, Bantari Wisynu Kusuma Wardhani, Eny Martindah, Wita Yulianti, Adeyinka Oye Akintunde, Sri Mulyati, Anggun Khoirun Nikmah, dan Annise Proboningrat. Artikel ini telah terbit pada Trends in Sciences (https://doi.org/10.48048/tis.2026.11934) pada 10 November 2025. Trends in Sciences merupakan jurnal internasional bereputasi dengan CiteScore 1.8; Highest percentile 59% (Q2, 81/200), SJR 0.231, dan SNIP 0.429.
Hermadi, H.A., Khairullah, A.R., Sukmanadi, M., Pratama, B.P., Mustofa, I., Ma始ruf, I.F., Yuri, A.J.B., Utomo, D.L.H., Ahmad, R.Z., Kurniasih, D.A.A., Ansori, A.N.M., Wardhani, B.W.K., Martindah, E., Yulianti, W., Akintunde, A.O., Mulyati, S., Nikmah, A.K., and Proboningrat, A. Redox Signaling as A Double-Edged Regulator: Bridging Molecular Mechanisms, Physiological Balance, Pathological Disruption, and Emerging Precision Therapies in Human Health and Disease. Trends in Sciences 23(2): 11934, November 2025 | DOI: 10.48048/tis.2026.11934





