UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMA IE) (FEB) 51动漫 (UNAIR) menggelar seminar nasional pada Sabtu (20/9/2025) di Aula Ternate, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B. Seminar ini merampungkan rangkaian kegiatan Indonesia Economic Event (ECCENTS) dengan mengundang Azhar Syahida, peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Ia mengupas dampak perang dagang dan gejolak global terhadap ekonomi Indonesia.
Kabar Buruk Akibat Perang Dagang
Azhar menyebut perang tarif berpotensi memukul kinerja ekspor nasional dan memangkas surplus perdagangan hingga USD 4,41 miliar. Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat (AS) menuduh mitra dagang, termasuk Indonesia, menjalankan kebijakan tarif dan non-tarif yang tidak adil. 淭arif Most Favoured Nation (MFN) Indonesia rata-rata 8,6 persen untuk produk pertanian dan 7,9 persen untuk produk non pertanian. Lebih tinggi daripada AS, ujarnya.
Berdasarkan simulasi Global Trade Analysis Project (GTAP), ekspor Indonesia ke AS berpotensi turun USD 9,23 miliar. Sementara ekspor global bisa menyusut 2, 65 persen. Sektor elektronik, furnitur, karet, dan alas kaki paling rentang kehilangan pangsa pasar AS. Selain itu, impor murah dari Tiongkok dan produk pertanian AS perkiraan akan membanjiri pasar domestik.
Perlu Diversifikasi Pasar Ekspor
Meski mencatat surplus perdagangan sejak 2020, Azhar menilai Indonesia masih bergantung pada komoditas primer seperti batu bara dan minyak sawit. Ia menyarankan untuk melakukan diversifikasi produk dan pasar ekspor, penguatan industri manufaktur, serta peta jalan perdagangan yang jelas untuk menjaga daya saing di kancah internasional.
淕ejolak eksternal selalu ada. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia menata kebijakan industrialisasi dan perdagangan agar lebih inklusif dan adaptif, katanya.
Peneliti CORE Indonesia itu menegaskan pentingnya kemitraan industri besar dengan usaha kecil-menengah, mengingat kontribusi ekspor UMKM baru mencapai 15 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Pemerintah juga bisa memanfaatkan tambang untuk mendorong reindustrialisasi dan ekspor bernilai tambah tinggi.
淜ebijakan industrialisasi yang saya maksud bukan sekadar menambah pabrik atau melarang ekspor bahan mentah, tapi mencakup hilirisasi sumber daya alam sambil memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan teknologi, tutupnya.
Penulis: Dinnaya Mahashofia
Editor: Yulia Rohmawati





