Menciptakan perawatan optimal untuk pasien dengan penyakit ginjal kronis (PGK) stadium akhir, yang membutuhkan cuci darah atau hemodialisis terus menjadi tantangan. Akses hemodialisis permanen, selain memberikan keuntungan, juga membawa serangkaian permasalahan, seperti gangguan aliran, resiko infeksi, serta kebutuhan untuk revisi. Hubungan gangguan fungsi jantung akibat pembuatan akses arteriovenosa pada pasien yang menjalani hemodialisis belum dapat digambarkan dengan jelas. Gangguan fungsi jantung dapat menghadirkan dilema pengobatan yang sulit. Idealnya, dokter harus mengobati gejala dan mencegah perkembangan gagal jantung dan secara bersamaan mempertahankan akses vaskular yang memadai untuk hemodialisis. Dengan mengetahui hubungan tersebut diharapkan dapat memberikan panduan dalam menentukan terapi dan manajemen lebih lanjut terhadap pasien PGK yang menjalani hemodialisis dengan meggunakan akses arteriovenosa buatan. Maka dari itu, kami bertujuan untuk membuktikan hubungan aliran pada akses cuci darah (akses arteriovenosa) buatan dengan fungsi jantung pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis.
Pada penelitian orisinil kami yang telah diterbitkan di Annals of Medicine and Surgery tahun ini, kami menyelidiki apakah terdapat hubungan dan perbedaan yang bermakna antara aliran akses ateriovenosa dengan aliran tinggi dibandingkan dengan aliran rendah, terhadap fungsi jantung bilik kiri dan kanan pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. Soetomo Surabaya pada bulan Desember 2021- Januari 2022. Total terdapat 47 pasien yang terlibat dalam penelitian ini, yang kemudian dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) doppler untuk menilai alirak akses arteriovenosa dan juga pemeriksaan ekokardiografi atau USG jantung untuk menilai fungsi jantung serambi kiri dan kanan. Sebanyak 55.3% pasien pada penelitian ini memiliki aliran akses arteriovenosa yang tinggi. Hasil analisa penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan bermakna secara statistik dimana fungsi jantung bilik kiri pada kelompok akses aliran rendah, ternyata memiliki rata-rata nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan fungsi jantung bilik kiri pada kelompok akses aliran tinggi, serta juga menunjukan hubungan yang signifikan antara aliran akses arterioevnosa dengan fungsi jantung kiri. Hasil serupa juga didapatkan untuk fungsi jantung kanan, dimana hasil analisa menjukan bahwa terdapat hubungan bermakna antara aliran akses arteriovenosa dengan fungsi jantung kanan.
Dari penelitian kami, ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ternyata aliran akses arteriovenosa yang diukur melalui ultrasonografi Doppler memiliki hubungan yang signifikan terhadap gangguan fungsi ventrikel kiri dan ventrikel kanan berdasarkan parameter fungsi sistolik atau kemampuan kontraksi jantung dari hasil pemeriksaan ekokardiografi. Tentu hal ini akan membawa banyak manfaat dalam pengembangan panduan dalam menentukan terapi dan manajemen lebih lanjut terhadap pasien PGK, baik intervensi pada akses vaskular maupun jantung pasien sehingga dapat mencegah terjadinya gagal jantung pada pasien. Hal ini juga dapat menjadi dasar untuk dokter yang merawat pasien PGK untuk melakukan kontrol dan monitoring terhadap aliran akses arteriovenosa pasien PGK serta fungsi jantung kiri dan kanan, sehingga dapat mencegah komplikasi yang lebih lanjut, serta dapat meningkatkan kualitas pelayanan optimal terhadap pasien.
Penulis: dr. Firas Farisi Alkaff
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada publikasi ilmiah kami di:
Rachmat Ageng Prastowo, Johanes Nugroho Eko Putranto, Iswanto Pratanu, Ryan Enast Intan, Firas Farisi Alkaff, Association between arteriovenous access flow and ventricular function: A cross-sectional study, Annals of Medicine and Surgery, Volume 77, 2022, 103649 ISSN 2049-0801,





