51动漫

51动漫 Official Website

Pentingnya Niat Remaja Putridalam Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

Foto by Halodoc

Anemia adalah suatu kondisi dimana rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin sehingga hematokrit atau viskositas darah menjadi encer. Penyebab utama terjadinya anemia adalah karena defisiensi besi dengan prevalensi sebanyak 50-80%. Salah satu kelompok yang rentan mengalami anemia defisiensi besi adalah remaja putri. Hal ini disebakan karena beberapa faktor seperti status gizi kurang, pola menstruasi tidak teratur, aktivitas yang tinggi, dan pendapatan orang tua yang rendah. Secara umum, prevalensi anemia di dunia mencapai 40-88% dari total penduduk. Sebanyak 30% angka kejadian anemia defisiensi besi terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, angka kejadian anemia mencapai 23,7% dengan prevalensi kejadian pada remaja putri yang berusia 15-24 tahun sebesar 32% (Kemenkes, 2019).

Bagi remaja putri kejadian anemia dapat meningkat karena setiap bulan mengalami menstruasi yang menyebabkan peningkatkan pengeluaran zat besi. Selain itu, adanya keinginan memiliki tubuh yang langsing, membuat remaja putri cenderung menerapkan pembatasan makanan yang menyebabkan defisiensi zat gizi, salah satunya adalah kekurangan zat besi. Tingginya angka anemia pada remaja putri juga disebabkan oleh persepsi penghalang seperti merasa bahwa konsumsi TTD tidak memberikan manfaat, bentuk kemasan dan tablet TTD yang tidak menarik, teman sebaya yang tidak mengkonsumsi TTD, dan tidak menyukai rasa TTD.

Perilaku tidak mendukung remaja putri dalam upaya pencegahan anemia pada saat menstruasi disebabkan oleh pengetahuan yang kurang tentang anemia. Pada penelitian lain,  disebutkan bahwa semakin baik dukungan yang diberikan oleh keluarga maka semakin baik juga tindakan pencegahan anemia pada remaja putri. Selain itu, terdapat hubungan antara sikap dengan kejadian anemia, karena apabila tingkat pengetahuan tentang anemia baik maka sikap pencegahan yang baik akan terwujud. Beberapa dampak jangka panjang dan jangka pendek dari anemia diantaranya menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, sulit berkonsentrasi, meningkatkan resiko kelahiran bayi prematur, perdarahan, hingga kematian pada ibu.

Menerapkan perilaku pencegahan anemia sejak dini sangatlah penting terutama bagi remaja putri agar mampu mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi kehamilan dan persalinan. Theory of planned behavior dijelaskan bahwa baik buruknya sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku yang dimiliki oleh individu akan mempengaruhi besarnya intensi (niat) yang dimiliki sehingga menghasilkan perbedaan perilaku yang ditampilkan.

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional melalui pendekataan cross sectional yang dilakukan di Kota Madiun Jawa Timur. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling sehingga didapatkan 105 responden. Kriteria inklusi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu remaja putri berusia 18-22 tahun, sudah mengalami menstruasi, dan dapat menggunakan google form. Pengumpulan data dilakukan secara online

Sebagian besar responden penelitian memiliki perilaku cukup dalam mencegah anemia dan sebagian yang lain sudah masuk dalam kategori baik. Namun, masih ditemukan sebagian kecil responden yang masuk dalam kategori kurang pada perilaku pencegahan anemia. Perbedaan perilaku yang diwujudkan oleh remaja putri ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, usia, jenis kelamin, informasi kesehatan yang diterima, pengetahuan dan pendapatan orang tua sehingga berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan kesehatan akibat rendahnya minat literasi kesehatan. Selain itu, perilaku juga dipengaruhi oleh kebiasan yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga membentuk suatu perilaku menetap. Di sisi lain, seseorang akan menampilkan perilaku adaptif apabila mengetahui manfaat, memiliki tekanan atau dorongan sosial dan dukungan yang mencukupi baik dari internal maupun eksternal. Hal tersebut berhubungan dengan sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku yang mempengaruhi besar kecilnya intensi untuk mewujudkan perilaku kesehatan. Ada hubungan yang signifikan antara sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku  remaja putri dengan intensi pencegahan anemia.

 Remaja putri yang memiliki sikap positif akan memiliki niat positif untuk patuh konsumsi TTD teratur 3,558 kali dibandingkan dengan remaja putri yang memiliki sikap negatif. Meskipun tidak semua remaja putri dengan sikap yang positif memiliki intensi yang baik dalam mencegah anemia. Seseorang yang tahu, belum tentu dapat mewujudkan informasi yang diperolehnya dalam bentuk perilaku. Selain itu sikap individu sangat dipengaruhi oleh nilai keyakinan sehingga timbul persepsi positif  Keluarga juga merupakan sumber dukungan utama bagi remaja untuk dapat berperilaku adaptif.. Namun tidak semua dukungan dapat diartikan positif. Hal ini membuktikan bahwa larangan yang diberikan oleh orang terdekat belum tentu dapat merubah sudut pandang dari remaja putri dalam pencegahan anemia. Selain remaja pada fase  rasa keakuan  tinggi sehingga terkesan sulit diatur dan bertindak egois. Keyakinan pada persepsi kontrol perilaku dapat dipengaruhi oleh dukungan yang diterima dan kebiasan yang dilakukan sehingga membentuk suatu nilai yang dilakukan berulang.  Sebagian remaja cukup memiliki  kemampuan memenuhi nutrisi  dalam  mencegah anemia terutama saat haid. Padahal, pada saat haid  remaja putri  lebih cepat kehilangan hemoglobin sehingga perlu peningkatan asupan nutrisi terutama zat besi.

Namun, hal ini  menjadi sulit  apabila remaja putri memiliki kondisi sosial ekonomi  rendah, karena  pemenuhan nutrisi dari makanan  yang  dikonsumsi sehari-hari terbatas.  Baik buruknya perilaku kesehatan yang akan diwujudkan juga dipengaruhi oleh berbagai macam konteks kehidupan seperti lingkungan, keterampilan, dan program kesehatan yang ada. Remaja putri yang rutin mengkonsumsi sayur dan buah setiap hari maka kebutuhan vitamin dan zat besinya akan terpenuhi. Kesadaran konsumsi sayur dan buah akan timbul dari pengetahuan bahwa semakin bertambah usia, maka semakin bertambah kebutuhan zat besinya.Remaja putri yang mendapatkan TTD dari sekolah atau memiliki persediaan TTD di rumah, akan rutin mengkonsumsi TTD. Kebiasaan ini secara langsung maupun tidak langsung akan menumbuhkan niat dan membentuk perilaku pencegahan anemia. Perlu dukungan  semua pihak agar remaja putri aktif  mencari informasi kesehatan mengenai anemia dan menerapkan pola hidup sehat sehingga dapat meningkatkan kesadaran untuk  mencegah anemia sejak dini.

Penulis: Ni Ketut  Alit Armini

Informasi detail dari  artikel  ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Atau

AKSES CEPAT