Dalam era digital saat ini, tentunya seluruh sektor usaha telah menerapkan sistem digitalisasi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Demikian halnya juga pada fasilitas kesehatan, terutama di rumah sakit, penerapan teknologi telah terbukti bermanfaat dengan mengurangi biaya dan memperbaiki proses. Penelitian dalam bidang teknologi sebagian besar berfokus pada desain dan implementasinya, tanpa mempertimbangkan dari sisi penggunaannya. Kerelaan dan kesadaran untuk memanfaatkan teknologi tertentu disebut dengan technology acceptance. Istilah ini didefinisikan sebagai antagonis dari penolakan dalam sebuah model yang disebut Technology Acceptance Model. Teori ini mengedepankan empat faktor antara lain effort expectancy, performance expectancy, social influence, dan facilitating condition.
Tuntutan akan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan khususnya di rumah sakit memerlukan kualitas kinerja yang lebih baik. Perawat sebagai salah satu profesi kesehatan mayoritas yang ada di rumah sakit memegang peran penting dalam hal ini. Keberadaannya sebagai lini terdepan dalam pelayanan di rumah sakit memegang peran penting. Self-leadership yang dapat diartikan merupakan proses kognitif dan perilaku dari evaluasi diri dan pengaruh diri sehingga seseorang akan dapat mengarahkan dan memotivasi diri sendiri. Self-leadership mencakup aplikasi dari tiga pendekatan yaitu strategi berfokus perilaku, pola berpikir konstruktif, dan strategi imbalan natural. Telah banyak penelitian yang mengaitkan antara self-leadership dengan peningkatan kinerja seseorang.
Sebuah penelitian cross sectional dilakukan pada perawat di sebuah rumah sakit menggunakan kuesioner. Kuesioner terdiri dari dua bagian besar. Bagian pertama mengukur self-leadership menggunakan Revised Self-Leadership Questionnaire. Bagian kedua mengukur technology acceptance. Jumlah responden yang terkumpul adalah 109 kemudian data diolah menggunakan SPSS untuk mengetahui hubungan keduanya. Analisis korelasi non parametrik dilakukan dengan hasil sig. 000 (p < 0,05) dan koefisien korelasi 0,588. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara self-leadership dengan technology acceptance.
Telah banyak faktor terkait technology acceptance yang telah diteliti, namun belum pernah meneliti dengan self-leadership. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu manajemen di rumah sakit untuk meningkatkan penggunaan teknologi dan system informasi oleh para pelaksana. Partisipasi para pegawai di rumah sakit dalam pemanfaatan teknologi masih kurang. Hal ini disebabkan oleh sulitnya penggunaan teknologi yang ada, rendahnya keinginan untuk menggunakan, dan rendahnya dukungan organisasi
Dapat disimpulkan bahwa seluruh strategi dalam self-leadership berhubungan positif dengan technology acceptance. Peningkatan self-leadership pada karyawan misalnya dengan pelatihan dan sejenisnya akan sangat bermanfaat dalam pemanfaatan system informasi dan teknologi khususnya di rumah sakit. Hal ini diharapkan juga tidak hanya berdampak pada karyawan itu sendiri, namun juga memberikan dampak positif pada pasien dan rumah sakit. Penting bagi rumah sakit untuk selalu mendukung pengembangan self-leadership.
Penulis: : Alita Dewi Percunda, Djazuly Chalidyanto
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





