51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Perairan Suci, Ikan Keramat, dan Konservasi: Refleksi praktik Tradisional Masyarakat

sumber: liputan 6
sumber: liputan 6

Di berbagai wilayah Indonesia, kepercayaan terhadap perairan suci atau keramat masih hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat lokal. Review yang dipublikasikan di jurnal Aquatic Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems mengungkap bagaimana keyakinan tradisional, mitos lokal, dan larangan adat memainkan peran penting dalam melindungi spesies ikan air tawar dan habitatnya. Salah satu contoh nyata adalah kolam Cibulan di kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat, tempat hidupnya ikan yang dikenal sebagai “ikan dewa”. Masyarakat percaya bahwa ikan-ikan tersebut adalah jelmaan prajurit Prabu Siliwangi, sehingga tidak boleh ditangkap atau diganggu. Kepercayaan semacam ini secara tidak langsung telah menjaga kelestarian spesies selama berabad-abad.

Fenomena perairan keramat juga ditemukan di banyak daerah lain, seperti Lubuk Larangan di Sumatra Barat, kolam Tilanga di Toraja, serta sumber air Waai di Ambon. Meskipun kisah dan narasinya beragam, semua lokasi ini memiliki kesamaan dalam hal larangan eksploitasi sembarangan yang secara efektif menciptakan zona konservasi berbasis masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa perairan suci memiliki nilai ekologis tinggi: kualitas air tetap baik, substrat pemijahan alami terjaga, dan keberadaan vegetasi sekitar mendukung produktivitas ekosistem perairan.

Konservasi berbasis tradisi ini terbukti lebih efektif dalam beberapa aspek dibanding pendekatan konservasi formal. Di kawasan keramat, masyarakat setempat berperan aktif dalam perlindungan sumber daya melalui sanksi sosial, norma adat, dan keyakinan spiritual. Perlindungan ini berlangsung secara terus-menerus, tanpa ketergantungan pada pengawasan dari luar. Beberapa spesies ikan endemik dan langka, seperti Neolissochilus dan Tor, masih ditemukan hidup dan berkembang di perairan seperti ini, padahal di banyak lokasi lain populasinya mengalami penurunan drastis.

Sayangnya, konservasi berbasis tradisi kini menghadapi berbagai tantangan. Modernisasi, pembangunan infrastruktur, serta melemahnya nilai-nilai adat di kalangan generasi muda mulai mengikis keberlanjutan sistem ini. Aktivitas pariwisata yang tidak terkelola dengan baik telah menyebabkan pencemaran dan gangguan habitat. Di sisi lain, pembukaan lahan, tambang, dan proyek infrastruktur turut meningkatkan sedimentasi yang dapat merusak habitat ikan. Kurangnya pengakuan hukum terhadap status kawasan ini juga membuatnya rentan terhadap eksploitasi.

Untuk merespons tantangan tersebut, skema Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang diatur dalam kebijakan konservasi nasional dapat menjadi solusi. Skema ini memungkinkan perairan yang memiliki nilai ekologis dan budaya tinggi untuk diakui secara formal sebagai kawasan penting di luar taman nasional. Dengan pendekatan ini, pemerintah daerah dan komunitas lokal dapat menjalin kerja sama dalam pengelolaan dan perlindungan kawasan. Pemetaan perairan suci secara nasional menjadi langkah awal penting untuk mengidentifikasi dan mengintegrasikan kawasan-kawasan tersebut ke dalam jaringan konservasi air tawar di Indonesia.

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa konservasi tidak harus selalu bersandar pada pendekatan teknis semata. Dalam banyak kasus, kearifan lokal dan kepercayaan tradisional telah terbukti menjadi alat pelindung yang kuat terhadap kerusakan lingkungan. Perairan keramat merupakan contoh nyata bagaimana spiritualitas, budaya, dan konservasi dapat berjalan beriringan. Di tengah ancaman krisis keanekaragaman hayati perairan tawar, penguatan dan pelestarian praktik-praktik tradisional seperti ini menjadi salah satu jalan penting menuju konservasi yang berkelanjutan di Indonesia.

(Budi et al., 2025)

Budi, D.S., Suciyono, Hasan, V., Priyadi, A., Permana, A., Ismi, S., Müller, T., Bodur, T., South, J., 2025. The Sacred Waters and Fish: Traditional Practices and Fish Conservation in Indonesian Communities. Aquat. Conserv. Mar. Freshw. Ecosyst. 35, 1“11. https://doi.org/10.1002/aqc.70163

AKSES CEPAT