Guru berperan dalam sistem pendidikan secara strategis dengan tugas yang diemban sejatinya untuk kebutuhan kemanusiaan, kecerdasan, kebudayaan dan pembentukan kepribadian. Kesuksesan karier guru menjadi hal yang penting untuk memastikan seorang guru memiliki tekad yang kuat dalam bekerja. Terdapat salah satu pendekatan kepribadian yang dapat berperan sebagai pembentuk kesuksesan karier subjektif, yakni big five personality. Pada big five personality terdapat lima dimensi yang dapat menggambarkan kepribadian yakni intellect, conscientiousness, extraversion, agreeableness dan emotional stability.
Pada dasarnya kepribadian memiliki kontribusi setiap perilaku individu, dalam setiap lingkungan kehidupannya, termasuk di dunia pekerjaan. Dari hasil penelitian ini, big five personality menjadi salah satu pendekatan kepribadian yang dapat berperan dalam menentukan munculnya kesuksesan karier secara subjektif pada guru di Indonesia. Hasil ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada tiga dari lima dimensi yang ada dalam big five personality, yakni pada dimensi extraversion, agreeableness dan conscientiousness. Kemudian, dua dimensi lainnya yang juga menjadi variabel bebas dari penelitian ini yakni emotional stability dan intellect yang menunjukkan hasil bahwa tidak ada perannya yang signifikan terhadap kesuksesan karier subjektif pada guru di Indonesia.
Hasil penelitian ini menunjukkan peran yang signifikan pada dimensi conscientiousness, agreeableness, dan extraversion terhadap kesuksesan karier subjektif. Ketiga dimensi ini mengarah pada sikap yang berhubungan dengan penerimaan terhadap orang sekitar dan tanggung jawab atau kesadaran terhadap lingkungan tempatnya hidup. Peneliti mendiskusikan lebih lanjut mengenai peran dimensi conscientiousness terhadap kesuksesan karier subjektif pada profesi guru. Conscientiousness mengarah pada kesadaran individu terhadap lingkungannya dan cenderung memunculkan perilaku yang terorganisir. Sehingga, dengan adanya hal tersebut memungkinkan seorang guru memunculkan kesuksesan kariernya melalui kesadaran untuk lebih terorganisir dan terarah. Temuan mengenai dimensi conscientiousness ini sejalan dengan hasil penelitian Ranasinghe dan Kottawatta (2016) yakni adanya pengaruh yang signifikan dan hubungan yang positif antara dimensi conscientiousness dengan perjalanan karier pada guru di Sri Lanka. Pada penelitian tersebut mengangkat mengenai kepuasan dimana hal ini akan berhubungan pada kesuksesan karier yang dimiliki seorang guru. Ditinjau dalam studi yang dilakukan oleh Bowling dan Jex (2013) yang menyatakan bahwa seseorang dengan tipe kepribadian conscientiousness dapat menjadi sebuah prediktor terhadap kesuksesan karier secara subjektif. Namun dalam penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki ketelitian, tanggung jawab serta harapan yang tinggi apabila tidak terpenuhi akan memunculkan sumber stress baru. Namun, sesuai dengan hasil dari penelitian ini yang melibatkan responden guru, sekiranya dapat menunjukkan dan memperkuat beberapa penelitian sebelumnya bahwa tipe kepribadian conscientiousness dapat berperan dalam memprediksi dan memunculkan kesuksesan karier subjektif pada profesi guru terutama di Indonesia. Selanjutnya, hasil menunjukkan bahwa pada tipe kepribadian agreeableness secara signifikan mempengaruhi kesuksesan karier subjektif. Dimensi agreeableness mengarah pada hubungan intrapersonal serta penerimaan seseorang terhadap lingkungan secara kooperatif. Segala penerimaan dalam tipe kepribadian ini membuat seseorang dapat mudah percaya dengan orang lain dan terlalu mudah menerima segala hal sehingga hubungannya pada pekerjaan akan tidak konsisten. Namun ternyata, pada seseorang dengan profesi guru, tipe kepribadian ini berperan secara signifikan terhadap pembentukan dan memprediksi kesuksesan karier yang subjektif. Adapun pengaruh dari dimensi agreeableness mengarah pada cara berpikir dan keefektifan guru dalam bekerja (Holmes, Kirwan, Bova & Belcher, 2015). Dalam hal dimensi kepribadian ini bisa lebih berhubungan terhadap kesuksesan karier yang objektif yakni upah dan promosi jabatan dari sikapnya yang kooperatif. Sebuah asumsi yang sejalan dengan hasil penelitian ini juga dinyatakan oleh Smidt (2018) yakni mengenai hubungan agreeableness dengan kesuksesan karier, yakni dengan seseorang mudah menerima lingkungan maka memungkinkannya dengan mudah dipengaruhi sehingga dapat mencegah penerimaan diri mereka. Dengan adanya hasil penelitian ini, menguatkan kembali bahwa ternyata agreeableness dapat berperan terhadap kesuksesan karier subjektif terutama pada profesi guru. Sesuai dengan diskusi sebelumnya dan hasil penelitian ini menunjukkan agreeableness dapat berperan dalam menentukan serta memunculkan kesuksesan karier subjektif. Berdasarkan data deskripsi demografis dimana 67% guru dalam penelitian ini adalah perempuan, peneliti merefleksikan hal tersebut dengan studi yang dilakukan oleh Furnham dan Cheng (2015), studi tersebut menunjukkan bahwa dewasa ini agreeableness menjadi salah satu prediktor yang positif untuk beberapa isu pekerjaan, pendidikan, status sosial, dan dalam penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa seseorang dengan jenis kelamin wanita cenderung lebih tinggi pada tipe kepribadian ini. Tidak heran kemudian agreeableness menjadi salah satu dimensi kepribadian dalam big five personality yang dapat menjadi prediktor positif bagi kesuksesan karier terutama secara subjektif. Templer (2012), juga menjelaskan mengenai dimensi agreeableness memiliki hubungan yang positif terhadap kesuksesan pekerjaan bahkan karier pada karyawan khususnya di Asia, khususnya di sektor publik. Hal ini bisa memperkuat lagi hasil penelitian ini bahwa memang pada dasarnya profesi guru sebagai salah satu pekerjaan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat, dapat muncul dengan adanya peran dari dimensi dalam pendekatan big five personality yang juga dapat berperan dalam memprediksi kesuksesan kariernya secara subjektif.
Salah satu temuan yang menarik dalam penelitian ini adalah adanya peran tipe kepribadian extraversion terhadap kesuksesan karier subjektif pada guru di Indonesia. Temuan ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa tidak adanya hubungan antara variabel ekstraversion dengan kesuksesan karier subjektif (Haro,Castejon dan Gilar, 2013). Perbedaan itu dapat dijelaskan menggunakan teori collectivism milik Hofstede yang menyatakan bahwa kunci utama dalam budaya organisasi guru di Asia (termasuk Indonesia) adalah hubungan antara individu dan interaksi sosial yang mempengaruhi nilai serta perilaku pada seorang individu. Sehingga standar subjektif dari kesuksesan karier yang dimiliki oleh guru di Indonesia juga diperoleh dari membandingkan dengan standar orang lain yang berada di lingkungannya.
Penulis: Prof. Dr. Fendy Suhariadi, Drs., M.T.
Jurnal: The role of big five personality dimensions in Indonesian teachers’ subjective career success





