51动漫

51动漫 Official Website

Peran CEO Berlatarbelakang STEM: Inovasi versus Keseimbangan Keberlanjutan

Sumber: Humas Indonesia

Penelitian ini membahas peran CEO dengan latar belakang pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dalam memengaruhi kinerja ESG (Environmental, Social, and Governance) pada perusahaan yang telah diklasifikasikan sebagai top sustainable companies. Berangkat dari teori upper echelons, studi ini menyelidiki apakah karakteristik pemimpin puncak, khususnya latar belakang pendidikan mereka, berdampak terhadap strategi dan keputusan perusahaan dalam pengelolaan risiko ESG. Menggunakan data dari Sustainalytics tahun 2022, sebanyak 1.039 perusahaan yang menerima peringkat “negligible” atau “low risk” dipilih sebagai sampel karena dianggap telah menunjukkan komitmen tinggi terhadap keberlanjutan. CEO dengan latar belakang STEM diidentifikasi secara manual melalui laporan tahunan dan profil profesional daring. Skor risiko ESG yang lebih tinggi menunjukkan manajemen risiko ESG yang lebih lemah. Menariknya, hasil utama menunjukkan bahwa perusahaan yang dipimpin oleh CEO berlatar belakang STEM memiliki skor risiko ESG yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan CEO non-STEM. Artinya, meskipun CEO dengan latar belakang STEM dikenal inovatif, mereka cenderung menunjukkan kinerja ESG yang lebih rendah dalam konteks perusahaan yang telah memiliki reputasi keberlanjutan tinggi.

Studi ini mendeteksi adanya strategic trade-off, yaitu CEO STEM lebih memprioritaskan inovasi dan investasi teknologi yang bersifat lingkungan, tetapi justru mengabaikan dimensi sosial dan tata kelola dalam kerangka ESG secara keseluruhan. Hal ini terutama terlihat pada perusahaan di negara maju dan Eropa, serta lebih signifikan ketika CEO adalah perempuan. Hasil ini menantang asumsi umum bahwa CEO dengan kemampuan teknis otomatis meningkatkan semua aspek kinerja keberlanjutan. Penelitian ini juga melakukan berbagai uji robustness seperti Wu-Hausman test, Coarsened Exact Matching (CEM), Propensity Score Matching (PSM), dan Heckman two-stage regression untuk menghindari bias endogenitas dan seleksi sampel. Hasil tetap konsisten menunjukkan hubungan negatif antara CEO STEM dan kinerja ESG. Lebih lanjut, pada sub-sample yang dilakukan, efek negatif paling kuat ditemukan pada negara-negara dengan regulasi ESG yang lebih mapan, seperti Eropa, dan pada perusahaan yang dipimpin oleh CEO perempuan攎enunjukkan bahwa konteks kelembagaan dan gender turut memoderasi hubungan ini.

Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas penerapan teori upper echelon dan menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan dapat menghasilkan bias strategi dalam pengambilan keputusan ESG. Secara praktis, hasil ini mendorong perusahaan dan pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan kecocokan karakteristik CEO dengan tingkat kematangan ESG perusahaan. Memilih pemimpin yang seimbang dalam orientasi teknis dan sosial menjadi penting agar keberlanjutan perusahaan tidak hanya mengandalkan inovasi teknologi, tetapi juga mencakup dimensi sosial dan tata kelola secara menyeluruh.

Penulis: Iman Harymawan; Doddy Setiawan; Desi Adhariani; Atikah Azmi Ridha Paramayuda

Detil penelitian bisa dilihat di:

AKSES CEPAT