Sendi lutut mengandung empat ligamen yang memainkan peran penting dalam kinematika dan menjaga stabilitas lutut, serta menghubungkan tulang satu sama lain, termasuk dua ligamen lateral yang memberikan stabilitas pada bidang frontal dan ligamen anterior dan posterior yang mendukung stabilitas pada bidang sagital.
Cedera ligament lutut anterior (ACL) adalah salah satu cedera ligamen lutut yang paling umum terjadi, terutama pada individu yang aktif secara fisik dan atlet. Rekonstruksi ACL adalah prosedur bedah yang umum dilakukan untuk mengembalikan stabilitas lutut dan memungkinkan pasien untuk kembali ke tingkat aktivitas sebelumnya. Namun, kegagalan rekonstruksi ACL masih menjadi tantangan yang signifikan dalam bidang ortopedi. Evaluasi radiologis pasca operasi, seperti foto polos lutut, bisa menjadi alat yang berguna dalam menilai keberhasilan rekonstruksi ACL dan memprediksi hasil fungsional jangka panjang.
Pada artikel ini kita akan membahas kasus “ kasus pada pasien pasca operasi rekonstruksi lutut, dan menilai kepuasan hasil operasi dari sudut pandang pasien serta korelasinya dengan pengukuran pada foto polos lutut. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo dengan menggunakan data pasien yang telah mejalani operasi rekonstruksi ligamen lutut pada tahun 2021 “ 2023.
Parameter evaluasi secara radiologis dilakukan melalui foto polos lutut dari posisi depan dan samping, kemudian pasien dievaluasi mengenai keadaan fungsional lutut menggunakan skor yang telah ditentukan oleh komite dokumentasi skor lutut internasional. Pengumpulan sampel secara menyeluruh digunakan sebagai teknik pengambilan sampel, dimana semua pasien paska operasi rekonstruksi dilakukan evaluasi pada satu waktu yang bersamaan dengan mengikutsertakan semua pasien yang memenuhi kriteria inklusi.
Dari 60 pasien yang memenuhi syarat, 75% adalah laki-laki dengan rata “ rata
usia 26,3 tahun. Skor IKDC rata-rata adalah 73,3%, dengan 17 pasien memiliki
skor IKDC lebih dari 75% dan 43 pasien memiliki skor IKDC kurang dari 75%.
Analisis statistik menunjukkan bahwa persentase Bernard-Hertel memiliki hubungan signifikan dengan nilai IKDC (p=0,05), menunjukkan bahwa penempatan terowongan pada tulang femoral dan tibial yang tepat berhubungan dengan hasil fungsional yang lebih baik. Sebaliknya, sudut inklinasi pada tulang femoral dan tibial serta persentase Amis- Jakob tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan hasil fungsional.
Penelitian ini menunjukkan bahwa evaluasi penempatan terowongan tulang femoral dan tibial menggunakan persentase Bernard-Hertel dapat menjadi prediktor yang baik untuk hasil fungsional pasca rekonstruksi ACL. Hubungan yang sejalan ditemukan antara persentase Bernard-Hertel dan skor IKDC mengindikasikan pentingnya penempatan terowongan yang akurat dalam prosedur rekonstruksi ACL. Namun, hasil ini juga menyoroti bahwa variabel lain seperti sudut inklinasi pada tulang femoral dan tibial serta persentase Amis-Jakob mungkin dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti program rehabilitasi dan adaptasi anatomis pasien. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang holistik dalam penilaian pasca operasi dan pentingnya rehabilitasi yang terstruktur untuk mencapai hasil optimal.
Evaluasi penempatan terowongan pada tulang femoral dan tibial menggunakan persentase Bernard-Hertel merupakan alat yang efektif untuk memprediksi hasil fungsional paska rekonstruksi ACL. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang ortopedi, khususnya dalam upaya meningkatkan keberhasilan rekonstruksi ACL dan kepuasan pasien.
Temuan ini dapat digunakan sebagai referensi untuk perbaikan teknik bedah dan pengembangan protokol rehabilitasi yang lebih efektif. Penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan desain yang lebih komprehensif diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan ini dan mengeksplorasi faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap hasil fungsional paska rekonstruksi ACL.
Penulis: Lukas Widhiyanto, dr.,Sp.OT., M.D., Ph.D
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





