51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Peran Dukungan Organisasi dan Supervisor dalam Menurunkan Tingkat Turnover Perawat di Bangladesh

Peran Dukungan Organisasi dan Supervisor dalam Menurunkan Tingkat Turnover Perawat di Bangladesh
Sumber: Pxfuel

Perawat merupakan tulang punggung sektor kesehatan nasional. Mereka mendominasi kelompok pekerjaan yang bertanggung jawab dalam memberikan perawatan berkualitas tinggi kepada pasien. Namun dalam hal ini, secara global, operasional rumah sakit terganggu oleh tingginya tingkat turnover perawat. Oleh karena itu, mengurangi tingkat turnover perawat menjadi prioritas utama karena hal ini dapat berdampak signifikan pada hasil perawatan pasien dan kinerja organisasi. Rasio perawat terhadap pasien yang tinggi dikaitkan dengan meningkatnya beban kerja dan penurunan kualitas perawatan pasien akibat turnover perawat yang berlebihan. Untuk itu, penting untuk menentukan faktor-faktor yang menyebabkan turnover perawat dan apa yang memotivasi mereka untuk berhenti. Karena karyawan cenderung tidak memberikan alasan yang sebenarnya saat mereka meninggalkan organisasi, sehingga pada penelitian ini lebih fokus pada niat untuk beralih (turnover intention) daripada turnover yang sebenarnya.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Social Sciences & Humanities Open mengungkapkan bahwa dukungan dari organisasi (perceived organizational support/POS) dan supervisor (perceived supervisor support/PSS) memainkan peran penting dalam mengurangi niat perawat untuk berhenti bekerja di Bangladesh. Penelitian ini merupakan kolaborasi antara dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Miguel Angel Esquivias Padilla, M.SE. dengan para peneliti dari Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia. Penelitian ini, yang melibatkan 383 perawat, menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang mendukung untuk menurunkan tingkat turnover perawat yang tinggi. Penelitian sebelumnya, mengungkapkan bahwa konflik kerja-keluarga (Work-Family Conflict/WFC) relatif jarang diteliti dalam sektor kesehatan. Perawat sering mengalami tingkat WFC yang tinggi karena profesi ini didominasi oleh wanita. Di Bangladesh, sebagian besar perawat adalah wanita yang sering menghadapi ketidakseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi mereka karena faktor-faktor seperti beban kerja yang berat, kekurangan staf, tingkat turnover yang tinggi, dan kondisi kerja yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara dukungan organisasi yang dipersepsikan (POS), dukungan supervisor yang dipersepsikan (PSS), konflik kerja-keluarga (WFC), dan niat untuk beralih (TI) di kalangan perawat di sektor kesehatan di Bangladesh.

Penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan organisasi yang dirasakan (POS) dan dukungan supervisor yang dirasakan (PSS) memiliki hubungan negatif dengan niat berhenti bekerja (TI) perawat. Dengan kata lain, semakin tinggi dukungan yang dirasakan, semakin rendah niat perawat untuk meninggalkan pekerjaannya. Namun, studi ini juga menemukan bahwa konflik kerja-keluarga (WFC) memediasi hubungan antara dukungan dan niat berhenti bekerja. Perawat yang mengalami tingkat konflik kerja-keluarga yang lebih tinggi cenderung memiliki niat berhenti bekerja yang lebih tinggi, meskipun mereka menerima dukungan dari organisasi dan supervisor mereka. Tingkat turnover perawat yang tinggi secara global menjadi tantangan besar bagi organisasi kesehatan, menyebabkan peningkatan biaya, penurunan kepuasan pasien, dan perawatan pasien yang tidak memadai.

Dalam temuan ini, POS merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi tingkat niat turnover pada perawat. Oleh karena itu, pentingnya POS dalam menurunkan niat turnover perawat, dengan fokus pada berbagai strategi dan konsekuensinya. Konsep POS dalam keperawatan melibatkan tingkat prioritas dan nilai yang diberikan pada kesejahteraan, pengembangan profesional, dan kepuasan kerja staf perawat oleh organisasi kesehatan. Memberikan peluang pelatihan dan pengembangan adalah salah satu cara paling efektif bagi pemberi kerja untuk menunjukkan dukungan mereka kepada staf perawat. Langkah-langkah ini tidak hanya meningkatkan kepuasan kerja tetapi juga menumbuhkan loyalitas dan komitmen di antara perawat, mengurangi kemungkinan turnover. POS mencakup kebijakan dan praktik yang mempromosikan keseimbangan kerja-hidup dan kesejahteraan karyawan, seperti jadwal yang fleksibel, tingkat staf yang memadai, dan kepemimpinan yang mendukung. Faktor-faktor ini berkontribusi pada kepuasan kerja perawat secara keseluruhan, mengurangi risiko burnout dan turnover, serta meningkatkan komitmen mereka terhadap pekerjaan ketika mereka merasa dihargai oleh organisasi mereka.

Hasil studi ini memiliki beberapa implikasi praktis. Media di Bangladesh sering menyoroti kekurangan profesional kesehatan, peralatan, obat-obatan, dan kebersihan, tetapi mengabaikan pentingnya perawat. Studi ini memberikan kerangka kerja bagi pembuat kebijakan untuk memahami bagaimana ekspektasi turnover perawat medis dipengaruhi oleh dukungan organisasi dan dukungan dari atasan. Rekomendasi untuk masa depan termasuk meningkatkan pendanaan pemerintah di sektor kesehatan, mengembangkan pendidikan keperawatan yang lebih baik, dan menciptakan universitas keperawatan internasional berkualitas tinggi untuk menyediakan pendidikan dan pelatihan yang komprehensif bagi perawat. Ini akan menghasilkan lebih banyak fasilitas dan perawat yang lebih kompeten, sehingga mengurangi turnover.

Penulis: Miguel Angel Esquivias

Link:

Baca juga: Perspektif Perawat dalam Mengelola Nyeri dan Stres pada Anak

AKSES CEPAT