51动漫

51动漫 Official Website

Peran Ergonomi dalam Menanggapi Isu Kesehatan Mental Pekerja Muda

pekerja
Ilustrasi pekerja (sumber: dbs.com)

Isu kesehatan mental pekerja muda di Indonesia belakangan ini sering digaungkan di platform media social, khususnya X dan Tiktok. Tidak seperti generasi sebelumnya, pekerja muda yang didominasi oleh Generasi Z cenderung rentan mengalami masalah kesehatan mental. Generasi kelahiran tahun 1997-2012 ini sering menghadapi tekanan yang besar dari berbagai arah. Mulai dari tuntutan kinerja yang tinggi hingga ketidakpastian masa depan karier mereka.

Dalam menghadapi tantangan ini, ergonomi telah muncul sebagai salah satu pendekatan yang menjanjikan untuk meningkatkan kesehatan mental di tempat kerja. Ergonomi, yang mencakup desain lingkungan kerja yang lebih baik dan penyesuaian tugas kerja, menawarkan solusi yang berpotensi dalam menciptakan tempat kerja yang lebih sehat secara fisik dan mental.

Menurut survei JakPat, faktor terbesar Generasi Z memilih meninggalkan pekerjaan karena ketidaksesuaian antara gaji dan tanggung jawab pekerjaan. Ketidakseimbangan ini menyebabkan penurunan produktivitas hingga menimbulkan stress. Beberapa alasan lain adalah jam kerja tidak teratur, budaya kerja yang toxic, SOP dan aturan yang tidak jelas hingga lingkungan kerja yang toxic. Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan tingkat stres, kecemasan, dan bahkan depresi di kalangan pekerja muda.

Di Indonesia, kesehatan mental pekerja sudah diperhatikan dengan adanya UU nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pada pasal 35 ayat (3). Di mana pemberi kerja dalam mempekerjakan tenaga kerja wajib memberikan perlindungan yang mencakup kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan baik mental maupun fisik tenaga kerja

Prinsip-prinsip ergonomi dapat diterapkan untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental pekerja muda. Desain ruang kerja yang memperhatikan faktor-faktor ergonomi. Seperti penataan perabotan, pencahayaan yang tepat, dan penyesuaian yang memperhitungkan kebutuhan individu, dapat meningkatkan kenyamanan dan mengurangi stres di tempat kerja. Selain itu, pengelolaan beban kerja yang efisien, dengan menyediakan jadwal yang seimbang dan menghindari tumpang tindih tugas yang berlebihan, juga dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Dengan menerapkan pendekatan ergonomis ini, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif bagi pekerja muda. Penggunaan teknologi yang mendukung, seperti perangkat lunak manajemen waktu dan alat bantu produktivitas, juga dapat membantu meminimalkan tekanan kerja dan memfasilitasi keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

Berdasarkan penelitian Hedge (2017) bahwa penerapan ergonomi di tempat kerja dapat meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja, dengan mengurangi stres, kecemasan, dan depresi. Hal ini menunjukkan bahwa investasi dalam desain lingkungan kerja yang ergonomis tidak hanya meningkatkan produktivitas. Tetapi juga berdampak positif pada kesehatan mental pekerja dan kualitas kerja secara keseluruhan. Namun, tantangan seperti kurangnya kesadaran tentang pentingnya ergonomi di tempat kerja dan biaya implementasi masih perlu diatasi.

Ergonomi memiliki peran yang signifikan dalam menanggapi isu kesehatan mental pekerja muda di Indonesia. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ergonomi dalam desain dan manajemen lingkungan kerja, kita dapat menciptakan tempat kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi pekerja masa depan. Dengan kesadaran yang meningkat dan dukungan yang memadai, ergonomi dapat menjadi kunci untuk meningkatkan kesejahteraan mental dan produktivitas pekerja muda di Indonesia.

Penulis:
Baca juga: Tantangan Pekerja Film dalam Mencari Kesejahteraan

AKSES CEPAT