51动漫

51动漫 Official Website

Peran Faktor Genetik pada Pasien Epilepsi Pengguna Valproat

Foto by Hello Sehat

Epilepsi adalah penyakit yang disebabkan  pelepasan listrik abnormal di otak.  Salah satu terapi epilepsi adalah dengan menggunakan obat antiepilepsi/antikejang. Antikejang yang paling sering diresepkan saat ini adalah asam valproat (VPA). VPA memiliki indikasi yang luas, selain kejang dan epilepsi, VPA juga bisa diberikan pada kondisi gangguan kejiwaan bipolar, skizofrenia, gangguan kepribadian borderline, dan profilaksis migrain. Meskipun memiliki spektrum yang luas, salah satu efek samping VPA yang paling banyak dilaporkan adalah penambahan berat badan. Penambahan berat badan berisiko menurunkan kepatuhan pasien dan menghentikan obat antiepilepsi. Frekuensi terjadinya peningkatan berat badan masih bervariasi. Dua penelitian dari Italia dan Austria melaporkan peningkatan berat badan yang signifikan (>5 kg) terjadi pada 23,5% pria dan 43,6% wanita pengguna VPA. Penelitian lain juga menunjukkan peningkatan berat badan sebesar 2 kg setelah 1 bulan terapi. Penambahan berat badan juga terjadi pada 71% pengguna VPA dan 58% pada anak-anak dan remaja yang menerima VPA. Pertambahan berat badan ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Sebuah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa VPA meningkatkan kadar testosteron serum pada pasien epilepsi, terutama yang diobati dengan VPA sejak berusia kurang dari 20 tahun. Testosteron berhubungan dengan kadar hormon ghrelin yang  menyampaikan sinyal lapar ke otak. Dalam praktik klinis, tidak semua pasien mengalami kenaikan berat badan meskipun mengonsumsi VPA dengan dosis tinggi untuk jangka waktu yang lama. Hal ini menimbulkan dugaan adanya pengaruh variasi genetik terhadap kejadian kenaikan berat badan akibat VPA.

CYP2C19 adalah salah satu enzim utama dalam metabolisme VPA. Tiga genotipe CYP2C19 dikelompokkan dalam penelitian ini, yaitu alel homozigot wild type/extensive metabolizer (EM) dari CYP2C19*1/*1, alel heterozigot intermediate metabolizer (IM) dari CYP2C19*1/ *2 atau CYP2C19*1/* 3 dan alel heterozigot poor metabolizer (PM) dari CYP2C19*2/*3. Temuan ini didahului oleh penelitian yang menunjukkan hubungan antara polimorfisme CYP2C19 dan penambahan berat badan pada pasien yang menerima VPA. Disimpulkan bahwa pada wanita yang menerima VPA, indeks massa tubuh dan pertambahan berat badan lebih tinggi pada pasien dengan polimorfisme gen CYP2C19 EM heterozigot dan PM dibandingkan dengan EM homozigot. Enzim CYP2C19 berperan juga dalam metabolisme perubahan testosteron menjadi estrogen. Sehingga kondisi genetik pada enzim ini diduga akan berperan juga pada metabolisme testosteron yang berbeda antar jenis kelamin serta berefek pada hormon sinyal lapar di otak. Tingkat testosteron yang tinggi pada wanita dapat menyebabkan resistensi insulin dan akumulasi lemak perut. Pada pria, situasinya tampaknya justru sebaliknya, dengan lebih banyak lemak perut dikaitkan dengan tingkat testosteron yang lebih rendah. Testosteron  dapat merangsang nafsu makan dan akibatnya menyebabkan penambahan berat badan.

Wardah dkk pada tahun 2022 melakukan penelitian terkait peran gen CYP2C19  pada kejadian peningkatan berat badan pengguna VPA. Penelitian ini merupakan penelitian pertama di Indonesia. Dari hasil penelitian diketahui pasien sebagian besar adalah perempuan (57,5%). Dalam penelitian ini peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara hormon reproduksi (testosteron dan estrogen) dan polimorfisme CYP2C19 dalam menginduksi penambahan berat badan pasien pengguna VPA, baik pria maupun wanita. Kemungkinan ada faktor genetik lain yang berperan terhadap kejadian efek samping peningkatan berat badan pada perempuan epilepsi pengguna VPA.

Penulis: Wardah Rahmatul Islamiyah, Nasronudin

Jurnal:

AKSES CEPAT