51动漫

51动漫 Official Website

Peran Interaksi Kompensasi Eksekutif terhadap Ketersediaan Organisasi dan Kinerja Inovasi Perusahaan

Ilustrasi oleh romadecade.org
Ilustrasi oleh romadecade.org

Penelitian ini membahas mengenai pentingnya kelebihan organisasi, yang didefinisikan sebagai akumulasi dan alokasi sumber daya, sebagai faktor kritis yang menentukan daya saing dan hasil perusahaan. Inovasi dipandang sebagai fokus utama karena perannya yang vital dalam membantu perusahaan mencapai keunggulan kompetitif melalui adaptasi dan pengembangan produk baru, sehingga menjadi kunci dalam mempertahankan relevansi dan kesuksesan jangka panjang.

Kinerja inovasi sangat penting untuk kemampuan organisasi dalam mempertahankan daya saing, adaptabilitas, kekuatan finansial, dan keberlanjutan yang dipengaruhi berbagai faktor termasuk internal, eksternal, dan kontekstual. Meskipun inovasi diakui penting, literatur menyajikan pandangan yang beragam mengenai hubungan antara kelebihan organisasi dan kinerja inovasi. Ada kebutuhan yang jelas untuk praktik pengukuran yang ditingkatkan dalam bidang inovasi. Hal ini menyoroti pentingnya metrik yang tepat untuk mengukur kinerja inovasi secara efektif dan memastikan keunggulan kompetitif.

Kompensasi eksekutif diperkenalkan sebagai variabel interaksi karena di Indonesia kompensasi ini diakui sebagai penentu kinerja perusahaan yang mencerminkan kinerja yang lebih baik (Raithatha & Komera, 2016). Namun hal ini tidak dapat dipisahkan dari pengambilan keputusan eksekutif. Kebijakan kompensasi berfungsi sebagai mekanisme kontrol untuk memitigasi risiko bahaya moral dalam mengelola kelebihan organisasi.

Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana kelebihan organisasi mempengaruhi inovasi di berbagai konteks industri dan geografis, serta mengevaluasi peran kritis kompensasi eksekutif dalam konteks ini. Penelitian berkontribusi bagi literatur terkait kelebihan organisasi dan kinerja inovasi di perusahaan, khususnya dari perspektif negara berkembang seperti Indonesia.

Data penelitian menggunakan seluruh sektor industri kecuali SIC 6 dari tahun 2010 s.d 2019. Penelitian ini menggunakan analisis regresi mengungkapkan berbagai korelasi antara berbagai jenis kelonggaran organisasi dan kinerja inovasi. Pertama, terdapat korelasi positif antara kelonggaran yang ada dan kinerja inovasi, dan adanya kompensasi eksekutif yang lebih tinggi semakin memperkuat hubungan ini.

Kedua, penelitian ini mengidentifikasi korelasi negatif antara kelonggaran yang dapat dipulihkan dan kinerja inovasi. Namun interaksi recovery slack dengan kompensasi eksekutif tidak mempengaruhi korelasi tersebut secara signifikan. Ketiga, potensi kelonggaran menunjukkan korelasi negatif dengan kinerja inovasi, yang diperkuat oleh tingkat kompensasi eksekutif yang lebih tinggi. Untuk memvalidasi temuan ini, Conditional Effect Model (CEM) diterapkan, dan hasil regresi CEM menguatkan kesimpulan utama penelitian ini.

Temuan ini konsisten dengan teori perilaku organisasi, yang menyebutkan bahwa hubungan positif antara kekosongan yang ada dan kinerja inovasi, yang diperkuat oleh peningkatan kompensasi eksekutif. Korelasi negatif antara kelonggaran yang dapat dipulihkan dan kinerja inovasi menunjukkan potensi masalah misalokasi sumber daya, dan kompensasi eksekutif tidak mempengaruhi dinamika ini secara signifikan.

Jika terjadi potensi kelonggaran, dampak negatifnya terhadap kinerja inovasi dapat diatasi dengan kompensasi eksekutif yang lebih tinggi, yang menggarisbawahi pentingnya kepemimpinan strategis. Wawasan ini menunjukkan bahwa organisasi harus fokus pada optimalisasi alokasi sumber daya dan menyelaraskan kompensasi eksekutif dengan tujuan inovasi. Hasil penelitian ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang seimbang dalam strategi dan kebijakan organisasi untuk menumbuhkan inovasi secara efektif.

Penulis: Monika Pradnya Aurelia Wijayanti, Iman Harymawan, Nurul Fitriani

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT