51动漫

51动漫 Official Website

Peran Keterikatan Orang Tua-Anak dan Kebersihan Tidur dalam Perkembangan ADHD pada Anak

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

ADHD merupakan gangguan neurodevelopmental yang ditandai gejala inattention, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang mengganggu fungsi perkembangan. Meskipun faktor genetik memiliki kontribusi besar攕ekitar 74% heritabilitas攑enelitian mutakhir menunjukkan bahwa faktor kontekstual seperti kualitas hubungan orangtua揳nak dan pola tidur memiliki dampak signifikan dalam memperkuat atau mengurangi gejala.

Keterikatan dan rasa  aman (secure attachment) berperan penting dalam membentuk kemampuan regulasi emosi dan kontrol perilaku. Anak yang memiliki hubungan yang responsif, hangat, dan stabil dengan orangtua menunjukkan tingkat impulsivitas dan inattention yang lebih rendah. Penelitian menunjukkan bahwa anak ADHD memiliki representasi keterikatan yang lebih tidak stabil, ambigu, dan kurang terorganisir dibandingkan anak tanpa ADHD. Faktor maternal emotional availability berpengaruh besar, khususnya aspek non-hostility, yang berkorelasi negatif dengan keparahan gejala ADHD. Kecemasan ibu juga terbukti terkait dengan peningkatan gejala ADHD melalui penurunan kualitas attachment.

Pola respon anak terhadap pengasuhan berbeda sesuai tipe keterikatan. Anak insecure atau disorganized cenderung lebih reaktif terhadap konsekuensi perilaku, sedangkan anak yang securely attached lebih mudah merespons struktur berupa rutinitas dan aturan yang konsisten. Temuan ini menunjukkan bahwa keterikatan berperan dalam proses internalisasi regulasi diri, yang menjadi kunci dalam perkembangan gejala ADHD. Selain itu, intervensi seperti social skills training terbukti dapat meningkatkan kemampuan regulasi emosi dan interaksi sosial pada anak ADHD.

Faktor kedua yang dibahas adalah sleep hygiene, yang mencakup perilaku dan lingkungan yang mendukung kualitas tidur. Anak dengan ADHD memiliki prevalensi gangguan tidur lebih tinggi, di antaranya kesulitan memulai tidur, sering terbangun, durasi tidur tidak optimal, hingga variabilitas jam tidur. Gangguan tidur memiliki hubungan dua arah dengan gejala ADHD: buruknya kualitas tidur dapat memperparah gejala, dan gejala ADHD dapat menyebabkan kesulitan tidur. Berbagai penelitian menunjukkan korelasi positif antara tingkat gangguan tidur dengan skor keparahan ADHD.

Intervensi sleep hygiene, baik melalui edukasi orangtua, pelatihan kelompok, maupun konseling rutin, terbukti efektif memperbaiki kualitas tidur dan menurunkan gejala. Program yang melibatkan edukasi langsung, penguatan rutinitas tidur, dan pemantauan berkala menunjukkan peningkatan signifikan pada pola tidur dan perilaku anak.

Keterikatan dan rasa aman akan meningkatkan kualitas tidur, sedangkan parental rejection, kurangnya kehangatan, dan pengasuhan inkonsisten berhubungan dengan onset tidur yang tertunda, kecemasan tidur, dan parasomnia. Dalam beberapa studi, kualitas tidur bahkan berperan sebagai mediator antara keterikatan dan kesejahteraan psikologis anak. Dengan kata lain, hubungan aman berkontribusi pada tidur yang lebih baik, yang pada akhirnya mendukung regulasi emosi dan perilaku.

Pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan intervensi berbasis keluarga dan perbaikan pola tidur dapat menjadi strategi efektif dalam pencegahan maupun penanganan ADHD pada anak. Untuk lebih detail nya dapat diunduh di https://al-kindipublishers.org/index.php/jmhs/article/view/11684/10482

AKSES CEPAT