Postoperative Cognitive Dysfunction(POCD) atau Disfungsi kognitif pasca operasi setelah anestesi umum sering terjadi pada pasien geriatri di seluruh dunia. POCD diakui sebagai gangguan memori, konsentrasi, dan pemrosesan informasi yang timbul setelah anestesi atau pembedahan. Kondisinya berkisar dari gangguan memori ringan hingga ketidakmampuan untuk berkonsentrasi atau memproses informasi. Insiden POCD biokimia setelah operasi terutapa pada geritari pasien sangat tinggi. Oleh karena itu, studi tentang prediktor disfungsi kognitif setelah anestesi umum sangat penting untuk diagnosis dini dan pencegahan POCD di kalangan lansia.
Peradangan saraf, iskemia saraf, atau hipoksia akibat operasi dan anestesi umum dapat menyebabkan kerusakan sel otak, yang menyebabkan pelepasan dan peningkatan indikator biokimia kerusakan otak dalam sirkulasi darah. Beberapa biomarker kerusakan otak termasuk Neuron-Specific Enolase(NSE) atau neuron-specific enolase dan protein S100B telah dipelajari secara luas; namun, hubungannya dengan kejadian POCD masih kontroversial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara kadar NSE dan S100B dengan kejadian POCD pada pasien geriatri yang mendapat anestesi umum selama operasi elektif di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia.
Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif yang dilakukan pada pasien geriatri yang menerima anestesi umum selama operasi elektif di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya dari Juli hingga Oktober 2022. Penelitian ini terdiri dari 48 rerponden. Kriteria inklusi penelitian ini adalah pasien berusia ≥ 60 tahun dengan penyakit sistemik ringan (ASA-PS II). Sedangkan kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah pasien dengan penurunan kesadaran atau delirium yang menghambat evaluasi kognitif pasca operasi, memiliki informasi yang tidak lengkap, pasien dengan fungsi kognitif rendah (MoCA <26), pasien memiliki gangguan sistem saraf pusat atau neurodegenerative, pasien operasi otak atau operasi yang membutuhkan hipotensi permisif, pasien dengan trauma kepala, cedera tulang belakang akut, riwayat stroke, atau riwayat serangan jantung, pasien yang mengalami hipotensi atau hipoksia 24 jam sebelum, selama, atau pasca operasi, pasien di bawah obat penenang atau obat antidepresan, pasien memiliki gangguan penglihatan atau pendengaran, pasien menderita penyakit parkinson, pecandu alkohol atau ketergantungan obat, dan pasien yang tidak berbahasa Indonesia.
Karakteristik demografis dan informasi klinis dikumpulkan, dari 48 responden lebih dari separuh pasien adalah laki-laki dan memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Semua pasien memiliki penyakit sistemik ringan (ASA PS:2) dan mayoritas tidak mengalami POCD dalam 24 jam setelah operasi dengan anestesi umum. Operasi telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) adalah jenis operasi yang paling umum di antara pasien. Usia pasien berkisar antara 60-80 tahun (median:65 tahun), dengan median anestesi dan durasi operasi masing-masing 130 dan 120 menit.
Penelitian ini menyatakan adanya penurunan median MoCA INA dan perbedaan yang signifikan setelah anestesi umum karena nilai p-value (0,001) ≤ 0,05. Sedikit penurunan median NSE juga dicatat setelah operasi, tetapi tidak signifikan secara statistik karena nilai p-value (0,069) > 0,0. Dalam hal protein S100, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam konsentrasinya dalam serum sebelum dan sesudah operasi (p-value = 0,276). Pada analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa skor MoCA INA tidak berkorelasi signifikan dengan kadar NSE dan S100B (r= -0,095 dan -0,213 dengan p-value =0,522 dan p-value = 0,146). Dan hasil analisis Mann-Whitney juga menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada kadar NSE dan S100B pasien dengan dan tanpa POCD (p-value = 0,347 dan p-value = 0,097), menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara NSE dan S100B dengan kejadian POCD di antara pasien geriatri setelah anestesi umum.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang harus diatasi. Pengukuran serum NSE dan S100B terbatas hanya pada POCD akut (diukur 24 jam setelah operasi). Penelitian ini juga melibatkan sejumlah kecil pasien, yang dapat mempengaruhi hasil. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya penting untuk melibatkan ukuran sampel yang lebih besar agar mengkonfirmasi lebih lanjut hasil ini. Penelitian ini juga merupakan studi pertama di Indonesia yang menilai kadar NSE dan S100B serum di antara pasien geriatri yang menerima anestesi umum dan hubungannya dengan kejadian POCD akut. Temuan penelitian mungkin memberikan wawasan yang berkontribusi pada pengembangan pengetahuan tentang peran NSE dan S100B dalam kejadian POCD.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa NSE dan S100B berkorelasi negatif dengan skor MoCA INA tetapi tidak signifikan (p > 0,05) dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada level serum NSE dan S100B pasien dengan dan tanpa POCD (p < 0,05), menunjukkan tidak ada peran signifikan NSE dan S100B dengan kejadian POCD di antara pasien geriatri yang menerima anestesi umum.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An-KIC
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Alvin M, Airlangga PS, Kusuma E, Kriswidyatomo P, Lestari P, Setiawati Y. The role of neuron-specific enolase (NSE) and S100B protein in the incidence of acute postoperative cognitive dysfunction (POCD) in geriatric patients receiving general anesthesia. Bali Med J. 2022;11(3):1822“7.v





