51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Korelasi Level S100B dan Kejadian Postoperative Cognitive Dysfunction pada Pasien Operasi THT dengan Hipotensi Terkontrol

Foto oleh ykhoahopnhan.vn

Hipotensi terkontrol adalah salah satu teknik yang diterapkan dalam operasi mikroskopis Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT) untuk meminimalkan jumlah perdarahan, meningkatkan visualisasi lapangan operasi, mempersingkat durasi operasi, dan mengurangi risiko komplikasi. Teknik tersebut dilakukan dengan menurunkan tekanan darah sistolik hingga kisaran 80-90 mmHg dengan mean arterial pressure (MAP) 50-65 mmHg, atau menurunkan MAP 20-30% dari baseline. Namun, teknik hipotensi terkontrol memiliki risiko atau komplikasi tersendiri yang mungkin terjadi pada pasien. Salah satunya yaitu kondisi ini dapat memicu Postoperative Cognitive Dysfunction (POCD)atau disfungsi kognitif pasca operasi.

POCD adalah gangguan mental fungsional yang memengaruhi proses kognitif seperti memori verbal, memori visual, gangguan konsentrasi, perhatian, dan pemahaman Bahasa. Sebanyak 30-80% dari kejadian POCD ini terjadi pada minggu pertama dan 10-60% terjadi 3-6 bulan setelah operasi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, kejadian POCD pada operasi THT dengan hipotensi terkontrol adalah 13,3% dalam satu jam pertama dan 6,6% pada 24 jam pasca operasi. Mini-Mental State Examination (MMSE) adalah salah satu alat yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis kejadian POCD.

Kerusakan yang terjadi pada sel otak dapat memicu sekresi beberapa protein biomarker dalam darah antara lain S100B, neuron-specific enolase (NSE), glial fibrillary acid protein (GFAP), dan protein Tau. Protein S100B adalah salah satunya biomarker spesifik yang dapat mengindikasikan terjadinya kerusakan saraf intra dan periode pasca operasi. Studi tentang hubungan kadar S100B dengan kejadian POCD dan hipotensi terkontrol masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar protein S100B dengan kejadian POCD pada pasien yang menjalani operasi THT dengan hipotensi terkontrol.

Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dilakukan pada pasien yang menjalani operasi THT elektif (timpanoplasti, mastoidektomi, septoplasti, operasi hidung, dan bedah sinus endoskopi fungsional (FESS)) di RSUD Dr. Soetomo dari bulan Juli hingga Agustus 2022. Sebanyak 31 pasien yang memenuhi kriteria inklusi terdaftar dalam penelitian ini. Usia rata-rata adalah 31,7 ± 11,4 tahun dan lebih dari separuh pasien adalah laki-laki (51,6%). MMSE sebagai alat diagnostik untuk menentukan kejadian POCD dilakukan sebanyak 3 kali (2 jam pasca operasi, 2 jam dan 24 jam pasca operasi). Baik pada kelompok POCD maupun kelompok non-POCD, skor MMSE (p<0,001). Pasien yang mengalami MAP target 55-65 mmHg dilaporkan selama pra operasi (28,2 ± 1,4), 2 jam pasca operasi (27.0±1.8), dan 24 jam pasca operasi (27.8±1.8). Dalam penelitian ini, kejadian POCD didefinisikan jika skor MMSE menurun 2 poin dari skor baseline. Sebanyak 3 (9,7%) pasien mengalami POCD pada penelitian ini.

Pasien rawat inap dengan POCD, skor MMSE pada 2 jam dan 24 jam pasca operasi masing-masing adalah 23,3 ± 1,5 dan 23,0 ± 1,7. Sedangkan pada pasien non-POCD, skor MMSE pada 2 jam dan 24 jam setelah operasi adalah 27,3±1,4 dan 28,2 ± 1,4. Berdasarkan uji statistik, didapatkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada pasien POCD dan non-POCD pada 2 jam dan 24 jam pasca operasi. Pada kelompok POCD, rerata kadar S100B pra-operasi adalah 311,97±136,47 ng/L dan pasca operasi 415,34±131,68 ng/L. Pada kelompok non-POCD, kadar S100B pra operasi adalah 436,90±141,03 ng/L dan pasca operasi 444,29±124,65 ng/L. Sehingga pada dua kelompok tersebut juga tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada reratas S100B Pra dan pasca operasi.

Kami kemudian menganalisis perbedaan delta S100B (DS100B), perbedaan pasien dengan POCD, delta S100B adalah 103,37±7,37 ng/L; pada pasien non-POCD, delta S100B adalah 7,38±39,80 ng/L. Terdapat perbedaan delta S100B yang signifikan antara pasien yang mengalami POCD dan non-POCD. POCD telah meningkatkan S100B secara signifikan dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami POCD. Ada korelasi yang signifikan antara skor delta S100B dan MMSE pada 2 jam pasca operasi (R=-0,7 danp<0,001). Nilai koefisien korelasi -0,7 menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara delta S100B dengan skor MMSE pada 2 jam pasca operasi. Tidak ada korelasi yang significant antara delta S100B dan MMSE pada 24 jam pasca operasi (R=-0.29 with p=0.10).

Kesimpulan penelitian kami yaitu kejadian POCD pada pasien yang mengalami hipotensi terkontrol dengan target MAP 60-70 mmHg adalah 9,7%. Terdapat hubungan antara perubahan kadar S100B dengan kejadian POCD pada pasien yang menjalani operasi telinga dan hidung yang mengalami hipotensi terkontrol, bahwa semakin tinggi perubahan kadar S100B maka kemungkinan terjadinya POCD semakin besar. Namun, hipotensi terkontrol dengan target MAP 60-70 mmHg tidak mengubah kadar S100B secara signifikan.

Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An-KIC

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Rahman BA, Airlangga PS, Saputra AN, Kriswidyatomo P, Salinding A, Hamzah, et al. Correlation of S100B level and postoperative cognitive dysfunction (POCD) events among patients with ear, nose and throat (ENT) surgeries with controlled hypotension. Bali Med J. 2022;11(3):1860“4.

AKSES CEPAT