51动漫

51动漫 Official Website

Peran Pendidikan Ibu bagi Perkembangan Status Gizi Anak Stunting di Indonesia

Foto by Halodoc

Saat ini Indonesia masih terus berjuang untuk mengatasi segala malnutrisi termasuk stunting. Peran status gizi pada masa awal kehidupan memiliki peran penting untuk mencegah terjadinya gemuk dan obesitas yang dapat berpengaruh pada status kesehatan anak dimasa depan. Kejadian gemuk dan obesitas dan hubungannya dengan status pendidikan orang tua di negara berkembang lebih banyak terjadi pada anak dengan orang tua berpendidikan tinggi. Sedangkan dinegara berpendapatan menengah ke atas kejadian obesitas pada anak lebih banyak terjadi pada anak dengan orang tua berpendidikan rendah. Tingginya tingkat pendidikan diharapkan dapat berkontribusi pada kesehatan, termasuk pencegahan obesitas dengan mengontrol konsumsi makanan tinggi kalori dan meningkatkan kebiasaan aktivitas fisik.

Sampel melibatkan data lengkap anak usia 0 hingga 5 tahun dikumpulkan dari longitudinal data Indonesian Family Life Survey (IFLS) 3 (2000) yang kemudian diikuti kembali 14 tahun kemudian melalui data IFLS 5 (2014). Kohort 2 melibatkan data lengkap anak usia 0 hingga 5 tahun dari data IFLS 3 (2000) yang kemudian hubungi Kembali 7 tahun kemudian melalui data IFLS 4 (2007). Terakhir, sebagai data kohort 3 melibatkan data lengkap anak usia 0 hingga 5 tahun dari data IFLS 4 (2007) yang diikuti kembali 7 tahun kemudian dari data IFLS 5 (2014). IFLS merupakan longitudinal surve data di Indonesia. Hingga saat ini survei data IFLS dilakukan sebanyak 5 gelombang mulai dari IFLS 1 ditahun 1993/1994 hingga IFLS 5 yang dilakukan di 2014. IFLS merupakan longitudinal survei sehingga metode sampling diawali dari IFLS 1 yang kemudian dikontak kembali saat dilaksanakan survei IFLS periode selanjutnya.

Data sampel yang digunakan adalah data Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) serta Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut Umur (IMT/U) anak berdasarkan referensi pertumbuhan WHO, pendidikan orang tua serta sosial determinan kesehatan lainnya. Penelitian melibatkan keluarga dengan data Per Capita Expenditure (PCE) dari baseline data (IFLS 3 dan IFLS 4) berada pada kuintil 1 dan 2 serta dilihat apakah terjadi peningkatan kuintil pada data final (IFLS 4 dan IFLS 5). Data kuintil ini untuk mengetahu gambaran status ekonomi keluarga berdasarkan modul PCE dan kuisioner K dari IFLS.

Hasil dari analisis stratifikasi berdasarkan faktor determinan sosial didapatkan bahwa anak stunting dengan ibu berpendidikan tinggi dan tidak mengalami peningkatan kuintil akan berisiko menjadi gemuk dan obesitas dengan nilai Risk Rasio (RR) 2 dari kohort 1 dan 1,69 dari kohort 2.Berdasarkan hasil ini dapat dikatakan anak stunting yang  berasal dari keluarga dengan ibu berpendidikan tinggi dan keluarga pendapatan rendah akan memiliki risiko 1,69 hingga 2 kali untuk tumbuh menjadi gemuk dan obesitas. Hasil ini mengindikasikan dukungan ekonomi dan status social akan lebih baik jika diikuti dengan pendidikan kesehatan terutama bagi perempuan atau ibu. Pentingnya promosi kesehatan dari tenaga kesehatan profesional terkait pencegahan anak menjadi gemuk dan obesitas harus dapat menjangkau semua level sosial. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran orangtua untuk mencegah anak gemuk dan obesitas untuk menyiapkan generasi Indonesia sehat, produktif dan berkualitas.

Penulis: Nur Septia Handayani, S.K.M., M.P.H.

Secara lengkap dapat diakses pada artikel kami yang berjudul 湞 pada link:

AKSES CEPAT