51动漫

51动漫 Official Website

Peran Perawatan Antibiotic Periodontal Treatment pada Pasien Diabetes

Sumber foto: freepik.com
Ilustrasi diabetes (foto: freepik)

Demensia sebagai sindrom gangguan kognitif merupakan tantangan kesehatan masyarakat global yang signifikan, terutama pada aging population, dimana fenomena penuaan penduduk yang terjadi ketika usia rata-rata penduduk suatu wilayah atau negara meningkat. Laporan terkini menunjukkan bahwa lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia terkena demensia, dengan sekitar 10 juta kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya. Selain menjadi penyebab kematian ketujuh, demensia berkontribusi besar terhadap kecacatan dan ketergantungan pada mereka yang terkena. Kondisi ini ditandai dengan penurunan fungsi kognitif yang melebihi perubahan normal terkait usia. Berbagai faktor risiko telah diidentifikasi, termasuk usia, kecenderungan genetik, dan kondisi patologis, seperti diabetes melitus dan periodontitis.
Diabetes Mellitus Tipe II (T2DM) merupakan faktor risiko penting untuk demensia dan memiliki hubungan dua arah dengan periodontitis. Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa pasien diabetes dengan periodontitis memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami demensia. Periodontitis sendiri merupakan penyakit peradangan pada jaringan periodontal rongga mulut, yang seringkali ditandai dengan gusi berdarah, penurunan gingiva, hingga kegoyangan gigi. Baik T2DM maupun periodontitis merupakan masalah kesehatan global dengan implikasi signifikan terhadap kesehatan secara keseluruhan. Khususnya, kedua kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap neurodegenerasi melalui peradangan sistemik.
Mengingat bahwa demensia degeneratif disebabkan oleh kerusakan saraf yang progresif dan ireversibel, penanganan gejala dini sangatlah penting. Penanganan ini melibatkan penanganan faktor risiko gangguan kognitif yang dapat dimodifikasi, seperti kesehatan periodontal dan sistemik. Mild Cognitive Impairment (MCI), ada suatu fase yang berfungsi sebagai tahap praklinis dan transisi antara penuaan normal dan demensia, dipandang sebagai target strategis untuk intervensi yang ditujukan untuk menunda perkembangan menjadi demensia. Deteksi dini MCI dan intervensi pencegahan sangat penting untuk memperlambat penurunan kognitif.
Melalui hubungan peradangan sistemik, dilakukan sebuah penelitian untuk melihat pengaruh dari perawatan periodontal terhadap risiko terjadinya MCI pada pasien diabetes mellitus. Risiko terjadinya MCI dilihat melalui analisa plasma protein yang diambil melalui tes darah. Tes ini dinilai lebih sederhana, mudah dilakukan, dan lebih mudah diakses oleh pasien terutama untuk deteksi dini dan screening awal neurodegenerasi. Penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi beberapa biomarker berbasis darah yang berpotensi menandakan adanya perubahan neurodegeneratif. Hasil assessment risiko MCI pada pasien diabetes, kemudian dianalisa lebih lanjut dengan tingkat peradangan jaringan periodontal dan status gula darah pasien yang diamati dalam total waktu dua puluh empat minggu. Penelitian ini dilakukan oleh Divisi Preventive Dentistry di Niigata University, Jepang, bersama dengan drg. Aulia Ramadhani dari FKG Unair yang ikut terlibat.
Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya perbedaan perubahan dari biomarker MCI pada pasien diabetes yang mendapatkan perawatan antibiotik periodontal dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapatkan perawatan antibiotik. Beberapa biomarker MCI pada pasien yang mendapatkan periodontal menunjukkan hasil yang positif, namun beberapa lainnya menunjukkan hasil yang bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya. Setelah dilakukan analisa dan pendalaman, beberapa hal menjadi batasan dalam penelitian ini yang kemudian berpengaruh terhadap hasil penelitian, salah satunya adalah terbatasnya jumlah pasien dan singkatnya waktu observasi. Oleh karena itu, peneliti sangat mengharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai topik ini.
Terlepas dari keterbatasan penelitian, hasil dari penelitian ini memiliki nilai relevansi klinis, yakni potensinya untuk menginformasikan strategi pencegahan gangguan kognitif pada pasien diabetes melitus. Untuk kedepannya, manajemen jaringan periodontal serta deteksi dini penurunan kognitif dapat ditambahkan sebagai salah satu pemeriksaan klinis yang dilakukan dalam pemeriksaan untuk pasien diabetes mellitus. Pemeriksaan yang terintegrasi ini dapat memfasilitasi deteksi dini gangguan kognitif yang lebih sederhana dan hemat biaya, dan dapat meningkatkan kemampuan penyedia layanan kesehatan untuk mengurangi perkembangan neurodegenerasi. Hal ini dapat meningkatkan kualitas hidup pasien usia lanjut, terutama pada populasi rentan seperti penderita diabetes mellitus.


Nama : drg. Aulia Ramadhani, M.Kes

Link :

AKSES CEPAT