Mini-implan ortodontik (OMI) merupakan salah satu piranti yang digunakan dalam perawatan ortodontik cekat untuk penahan intraoral absolut guna menggerakkan gigi ke lokasi yang diinginkan karena lebih optimal dan efisien. OMI banyak digunakan untuk menangani maloklusi skeletal, koreksi pergeseran garis tengah, dan modifikasi overjet yang berlebihan.1 Beberapa studi menunjukkan tingkat keberhasilan keseluruhan mini-implan berkisar antara 79% hingga 98,2%, dengan mempertimbangkan 5332 sekrup.2 Tingkat keberhasilan OMI adalah 86,5% berdasarkan studi mereka terhadap 2281 pasien.3 Sebuah studi menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan OMI >90% pada 573 pasien.4 OMI dapat dimasukkan pada mukosa gingiva margin bebas hingga tulang alveolar. OMI banyak digunakan sebagai penahan absolut tambahan karena biaya yang dikeluarkan relatif lebih rendah dengan hasil yang maksimal. OMI juga memberikan kenyamanan pasien yang lebih baik karena ukurannya yang kecil, diameter 1,3 mm hingga 2 mm, sehingga tidak memerlukan tindakan pembedahan, sehingga meminimalkan rasa nyeri dan pembengkakan, kerusakan saraf, pembuluh darah, sinus maksilaris, dan akar gigi.1 Meskipun demikian, penggunaan OMI secara klinis memiliki beberapa efek samping dan komplikasi yang dapat terjadi selama pemasangan, penggunaan, atau pelepasannya. Salah satu komplikasi yang paling sering dilaporkan adalah kontak OMI dengan akar gigi yang berdekatan dengan lokasi pemasangan. Komplikasi ini memiliki insidensi yang lebih besar di lokasi pemasangan interradikular, terutama di regio posterior baik lengkung mandibula maupun maksila. Jika kejadian yang tidak diinginkan ini tidak ditangani, dapat menyebabkan hilangnya OMI atau dapat menyebabkan hilangnya vitalitas gigi.5 Terdapat risiko dan kesalahan dalam pemasangan OMI akibat mobilitas dan pelepasan yang disebabkan oleh perkembangan peri-implantitis.6,7
Peri-implantitis akan memengaruhi ekspresi gen, produksi protein, dan sekresi sitokin, dengan mayoritas berfokus pada peran sitokin inflamasi seperti interleukin-1 (IL-1), terutama IL-1 beta. Peri-implantitis juga dapat disebabkan oleh keberadaan bakteri gram negatif di sekitar OMI.9 Prevalensi bakteri gram negatif yang terkait dengan peri-implantitis OMI adalah sekitar 28% hingga 56%, seperti Porphyromonas gingivalis (Pg), Actinomycetemcomitans (Aa), Fusobacterium nucleatum (Fn), dan Prevotella intermedia (Pi).10 Peri-implantitis melibatkan banyak sitokin dan kemokin, terutama sitokin pro-inflamasi. Peri Implant Crevicular Fluid (PICF) yang sebagian besar mengandung Receptor Activator of Nuclear Factor-魏尾 Ligand (RANKL) dan Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-饾浖).11
Sitokin dan kemokin tersebut memperburuk kondisi peri-implantitis akibat tingginya respon inflamasi di sekitar jaringan, sehingga mengganggu sistem osseointegrasi dan penyembuhan luka.5 Penanganan peri-implantitis dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya secara non-bedah. Terapi non-bedah: dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik sebagai modulasi host, debridemen lokal, perawatan laser, dan aplikasi gel klorheksidin 0,12%.12 Penggunaan antibiotik jangka panjang memiliki efek samping berupa resistensi obat antibiotik.13 Pg, Aa, Pi, dan Fn menunjukkan resistensi tinggi terhadap tetrasiklin, doksisiklin, metronidazol, klindamisin, dan eritromisin.14 Beberapa tinjauan sistematis telah menunjukkan bahwa sebagian besar prosedur peri-implantitis bedah merekomendasikan penerapan antimikroba sistemik tambahan untuk menargetkan mikroorganisme yang diduga.15-17 Selain itu, tinjauan sistematis baru-baru ini menemukan bahwa, untuk menghindari kegagalan implan, profilaksis antimikroba diresepkan.18 Telah dilaporkan juga bahwa sebagian besar dokter secara empiris menggunakan antimikroba terhadap peri-implantitis tanpa pemeriksaan bakteriologis.19
Kelemahannya terutama mencakup peningkatan resistensi antimikroba dan risiko mengubah mikroflora normal, serta reaksi hipersensitivitas, antara lain.15 Telah melaporkan bahwa obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) memberikan pengaruh terhadap penyembuhan tulang dengan menghambat pelepasan prostaglandin E2 (PGE2), yang memodulasi metabolisme tulang melalui penekanan jalur siklooksigenase-2 (COX-2). Baik osseointegrasi maupun penyembuhan tulang tidak terbukti terganggu pada tibia tikus setelah pemberian inhibitor COX nonspesifik selama dua minggu menggunakan natrium Diklofenak.20 Perkembangan pengobatan herbal di zaman modern saat ini banyak memanfaatkan bahan alam yang berasal dari alam yang aman, memiliki efek samping yang minimal, dan memadai sebagai terapi alternatif peri-implantitis pada OMI. Bunga rosella (Hibiscus sabdarifa) merupakan jenis tanaman yang banyak ditemukan di kawasan Asia, khususnya Indonesia karena memiliki banyak manfaat dan mudah dibudidayakan. H. sabdarifa memiliki kadar antioksidan yang tinggi seperti gosipetin, antosianin, flavonoid, fenolik, saponin, alkaloid, dan tanin. Mekanisme antioksidan Kelopak bunga rosella mengandung quercetin dan katekin. Quercetin merupakan turunan dari struktur flavonoid yang memiliki efek antibakteri, yaitu flavonol. Quercetin dapat merusak aktivitas DNA girase bakteri dengan cara berikatan dengan DNA girase bakteri yang bernama GyrB dan menghambat aktivitas enzim adenosine triphospate (ATPase) pada dinding membran bakteri.21 Mekanisme antibakteri Bunga rosella mengandung flavonoid, saponin, dan tanin.22 Hipotesis penelitian ini adalah nanoemulsi bunga rosella (H. sabdariffa) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri peri-implantitis. Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak nanoemulsi H. sabdarifa 1% (1% RNE) terhadap bakteri peri-implantitis pada OMI secara in vitro. Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa RNE 1% memiliki potensi aktivitas antibakteri terhadap bakteri peri-implantitis (Aa, Pg, Pi, dan Fn) pada konsentrasi 3,125%. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui efikasi dan efektivitas RNE 1% sebagai agen antibakteri dan aktivitas antiinflamasinya pada model hewan peri-implantitis dengan berbagai metode penelitian investigasi.
Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2212426824001933
Penulis: Alexander Patera Nugraha





